Jumat, 22 Agustus 2014

Kebanggaan Akan Kemakmuran


SEMENTARA Salomo meninggikan undang-undang surga, Allah beserta dengan dia, dan hikmat diberikan kepadanya untuk memegang tampuk pemerintahan atas Israel dengan adil dan kemurahan hati. Pada mulanya, ketika kekayaan dan kemuliaan duniawi diperolehnya, ia tetap rendah hati, dan besarlah serta luaslah pengaruhnya. "Maka Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir." "Ia. . . dikaruniai damai di seluruh negerinya, sehingga orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, . . .seumur hidup Salomo." 1 Raja-raja 4:21, 24, 25.
Tetapi setelah suatu fajar perjanjian besar, kehidupannya menjadi gelap oleh kemurtadan. Sejarah mencatat fakta yang menyedihkan bahwa ia yang pernah dijuluki Yedija,--"Yang Dikasihi Allah" (2 Samuel 12:25 bagian pertama),--ia yang telah dihormati Allah dengan tanda-tanda kebaikan Ilahi yang sangat luar biasa sehingga hikmat dan ketulusannya mencapai kemasyhuran kebesaran dunia, ia yang telah menuntun orang-orang lain yang menyebabkan mereka menghormati Allah orang Israel itu, telah berpaling dari menyembah Yehova dan sujud di hadapan ilah-ilah orang kafir.
Ratusan tahun sebelumnya Salomo menduduki takhta kerajaan, Tuhan melihat lebih dulu akan kebinasaan yang bisa berlaku kepada barangsiapa yang mungkin terpilih sebagai pemerintah Israel, telah memberikan petunjuk kepada Musa untuk pedoman mereka. Petunjuk-petunjuk telah diberikan agar siapa yang akan duduk di atas takhta kerajaan Israel haruslah "menulis baginya salinan" hukum-hukum Yehova "menurut kitab yang ada pada imam-iman orang Lewi." "Itulah yang harus ada di sampingnya" Tuhan berfirman, "haruslah ia membacanya seumur hidupnya: untuk belajar takut akan Tuhan, Allah, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel." Ulangan 17:18-20.
Sehubungan dengan nasihat ini Tuhan khusus menaruh perhatian pada seseorang yang mungkin diurapi menjadi raja "janganlah ia mempunyai banyak istri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perak pun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak." Ayat 17.
Salomo sudah maklum akan amaran-amaran ini, dan untuk suatu jangka waktu ia melaksanakannya. Kerinduannya yang terbesar ialah hidup dan memerintah sesuai dengan ketetapan-ketetapan yang diberikan di Sinai. Tindakannya dalam mengatur urusan-urusan kerajaan sangatlah berlawanan dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa pada zamannya--bangsa-bangsa yang tidak takut akan Allah yang pemerintah-pemerintahnya menginjak-injak di bawah kakinya akan hukum-Nya yang kudus.


Dalam usaha untuk mempererat hubungan dengan kerajaan yang kuat di Selatan Israel, Salomo melakukan suatu hal yang berbahaya di atas tanah yang langka. Setan mengetahui hasil-hasil yang menyertai penurutan; dan selama tahun-tahun pertama pemerintahan Salomo--tahun-tahun cemerlang oleh karena hikmat, kebijaksanaan, dan ketulusan sang raja--Setan berusaha memasukkan pengaruh-pengaruh busuk yang dapat merusak kesetiaan Salomo terhadap asas dan menyebabkan ia terpisah dari Allah. Bahwa musuh itu berhasil dalam usahanya, kita ketahui dari catatan: "Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir, ia mengambil anak Firaun, dan membawanya ke kota Daud." 1 Raja-raja 3:1.
Dari sudut pandangan manusia, perkawinan ini, meskipun bertentangan dengan ajaran-ajaran hukum Allah, nampaknya mendatangkan berkat; oleh karena permaisuri Salomo yang kafir ini bertobat dan bersatu dengan dia dalam berbakti kepada Allah yang benar. Apalagi, Firaun menunjukkan setia kawannya kepada Israel oleh merebut Gezer, membunuh "orang-orang Kanaan yang diam di kota itu," lalu memberikan kota itu "sebagai hadiah kawin kepada anaknya, istri Salomo."  1 Raja-raja 9:16. Salomo membangun kembali kota ini dan dengan demikian menambah kebesaran kekuatan kerajaannya sepanjang pantai Laut Tengah. Tetapi dalam menjalin suatu persekutuan dengan suatu bangsa kafir, dan memeteraikan perjanjian itu oleh perkawinan dengan seorang putri penyembah berhala, Salomo dengan gegabah tidak menghargai jaminan kebijaksanaan yang Allah telah buat untuk mencapai kesucian umat-Nya. Harapan bahwa istrinya orang Mesir itu mungkin bisa bertobat hanyalah suatu dalih yang lemah terhadap dosa.
Untuk suatu jangka waktu dalam rahmat-Nya yang penuh kasihan menaklukkan kesalahan yang mengerikan ini; dan sang raja, oleh nasihat yang bijaksana, seharusnya dapat memeriksa sekurang-kurangnya luasnya akan kekuatan-kekuatan jahat yang oleh kelalaiannya telah ada dalam pekerjaan. Tetapi Salomo telah mulai kehilangan penglihatan terhadap Sumber kuasa dan kemuliaannya. Ketika kehendak hati mencapai penguasaan terhadap akal budi, maka keyakinan atas diri sendiri bertambah-tambah, dan ia berikhtiar untuk menjalankan maksud Tuhan dengan caranya sendiri. Ia mengira bahwa ikatan-ikatan dagang dan politik dengan bangsa-bangsa luar akan membawa bangsa-bangsa ini untuk mengenal akan Allah yang benar; lalu ia memasuki persekutuan yang kotor dengan bangsa demi bangsa. Banyak kali ikatan-ikatan ini dimeterai dengan perkawinan-perkawinan dengan putri-putri kafir. Perintah-perintah Yehova telah dikesampingkan demi adat istiadat bangsa-bangsa luar.
Salomo memuji dirinya sendiri bahwa hikmat dan kuasa teladannya akan memimpin istri-istrinya dari penyembahan berhala ke penyembahan akan Allah yang benar, dan bahwa ikatan-ikatan juga akan menarik bangsa-bangsa luar untuk berhubungan erat dengan Israel. Pengharapan yang sia-sia! Kesalahan Salomo yang fatal ialah menganggap dirinya cukup kuat untuk menolak sendiri pengaruh orang kafir yang menjadi sekutu-sekutunya. Dan lebih fatal lagi, ialah penipuan yang memimpin ia berharap meskipun bagian yang dikerjakannya tidak menghormati Allah, tetapi ada orang lain yang nanti memuja-muja dan menurut perintah-perintah yang kudus itu.


Ikatan-ikatan dan hubungan dagang raja dengan bangsa-bangsa kafir mendatangkan kemasyhuran, kemuliaan, dan kekayaan dunia ini kepadanya. Ia sanggup mendatangkan emas dari Ofir dan perak dari Tarsus dalam jumlah yang sangat besar. "Maka dilimpahkan baginda emas dan perak di Yerusalem seperti batu banyaknya dan pohon kayu aras pun dilimpahkannya seperti pokok ara hutan yang di tanah datar." 2 Tawarikh 1:15. Kekayaan, dengan segala pencobaan yang mengikutinya, datang pada Salomo sewaktu rakyatnya bertambah banyak; tetapi emas tabiat yang indah menjadi kotor dan suram.
Begitu pelahan kemurtadan Salomo sehingga sebelum ia menyadarinya, ia telah tersesat jauh dari Allah. Hampir tak terasa ia mulai berkurang-kurang dalam bimbingan dan berkat Ilahi, dan menempatkan keyakinan dalam kekuatannya sendiri. Sedikit demi sedikit ia terlepas dari Allah dari penurutan yang tetap yang menjadikan orang Israel suatu umat khusus, dan lama kelamaan ia menyesuaikan diri lebih rapat dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya. Menempatkan diri pada pencobaan-pencobaan yang terjadi oleh keberhasilan dan kedudukannya yang terhormat, ia melupakan Sumber daripada kemakmurannya. Suatu ambisi untuk melampaui semua bangsa lain dalam kuasa dan keagungan telah memimpin ia menyelewengkan karunia-karunia surga untuk maksud-maksud dirinya sendiri yang sampai sekarang dilakukan demi kemuliaan Allah. Uang yang seharusnya disimpan dalam perbendaharaan yang kudus untuk dimanfaatkan bagi orang-orang miskin dan untuk perluasan asas-asas kehidupan yang suci di seluruh dunia, telah diserap secara pribadi dalam proyek-proyek yang penuh ambisi.
Terpikat oleh suatu keinginan akan kuasa yang berlebih-lebihan untuk mengungguli bangsa-bangsa lain dalam pertunjukan secara luar, sang raja mengabaikan akan kebutuhan mencapai penyempurnaan dan keindahan tabiat. Dalam usaha mempermuliakan diri sendiri di mata dunia, ia menjual kejujuran dan kehormatannya. Pendapatan-pendapatannya yang tak terhitung diperoleh melalui perdagangan dengan negeri-negeri lain yang dibarengi oleh pajak-pajak yang tinggi. Dengan demikian kecongkakan, ambisi, pemborosan, dan pemanjaan diri menghasilkan kekejaman dan pemerasan. Ketelitian, roh berhati-hati yang menandai urusan-urusannya dengan orang banyak selama bagian permulaan pemerintahannya, sekarang sudah berubah. Dari pemerintah yang paling bijaksana dan penuh belas kasihan, ia merosot menjadi seorang raja yang lalim. Ia yang tadinya pelindung yang takut akan Allah dan menaruh belas kasihan terhadap orang banyak, kini menjadi penindas dan sewenang-wenang. Pajak demi pajak dipungut dari rakyat sebagai pengadaan dana untuk istana yang mewah.
Rakyat mulai mengeluh. Penghormatan dan kekaguman yang pernah ada dalam ribaan mereka bagi raja mereka telah berubah menjadi ketidakpuasan dan kebencian.
Sebagai suatu jalan yang aman menentang ketergantungan pada kekuatan manusia, Allah telah memberikan amaran bagi barangsiapa yang akan memerintah bangsa Israel janganlah memperbanyak kuda bagi dirinya sendiri. Tetapi dengan tidak mengindahkan perintah ini sama sekali, "Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari Kewe." "Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari segala negeri." "Salomo mengumpulkan juga kereta dan orang berkuda, sehingga ia mempunyai seribu empat ratus kereta dan dua belas ribu orang berkuda, yang semuanya ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat raja di Yerusalem." 2 Tawarikh 1:16; 9:28; 1 Raja-raja 10:26.


Lama kelamaan raja hanya mementingkan kemewahan, pemanjaan diri, dan mengasihi dunia sebagai tanda-tanda kebesaran. Perempuan-perempuan cantik dan menarik didatangkan dari Mesir, Funisia, Edom, Moab, dan dari negeri-negeri yang lain. Ratusan banyaknya. Agama mereka menyembah berhala, dan mereka telah terlatih dengan praktik kejam dalam upacara-upacara agama yang hina. Berahi oleh karena kecantikan mereka, sang raja melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kerajaannya.
Istri-istrinya menanamkan suatu pengaruh yang kuat ke atasnya dan lama kelamaan berhasil menyeretnya bersatu dengan mereka dalam perbaktian mereka. Salomo telah mengabaikan nasihat yang diberikan Allah yang akan dipergunakan sebagai suatu benteng melawan kemurtadan, dan sekarang ia sendiri menerjunkan diri ke atas penyembahan ilah-ilah yang palsu. "Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada Allah-Allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon." 1 Raja-raja 11:4, 5.
Di atas ketinggian sebelah Selatan Gunung Zaitun berhadapan dengan Gunung Moria di mana berdirilah Bait Suci Yehova yang indah, Salomo mendirikan sederetan bangunan yang mengagumkan yang dipakai sebagai tempat-tempat keramat keberhalaan. Demi kesenangan istri-istrinya ia menempatkan patung-patung besar, yang buruk bentuknya dari batu dan kayu, di tengah-tengah sekelompok pohon zaitun dan pacar Belanda. Di sana, di depan mezbah dewa-dewa kafir, "Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon," dipraktikkanlah upacara agama kekafiran yang paling hina. Ayat 7.
Kelakuan Salomo mendatangkan hukumannya yang pasti. Perpisahannya dari Allah melalui hubungannya dengan berhala-berhala adalah kebinasaannya. Ketika ia meninggalkan kesetiaannya kepada Allah, ia kehilangan pengendalian akan dirinya sendiri. Ketangkasan moralnya telah lenyap. Perasaan halusnya yang baik menjadi tumpul, keyakinannya layu. Ia yang pada waktu permulaan pemerintahannya telah menunjukkan rasa kasihan dan kebijaksanaan yang besar dalam mengembalikan seorang bayi yang tidak berdaya kepada ibunya yang malang (lihat 1 raja-raja 3:16-28), jatuh begitu rendah sampai mengizinkan untuk mendirikan suatu berhala kepada siapa anak-anak dipersembahkan hidup-hidup sebagai korban. Ia yang pada masa mudanya selalu penuh pengertian dan pertimbangan, dan dalam kedewasaannya yang kuat telah diilhamkan untuk menuliskan, "Ada jalan yang disangka orang betul adanya, tetapi akhirnya kelak menjadi jalan kepada maut" (Amsal 14:12), di masa tuanya berpisah jauh dari kesucian dengan menunjukkan raut muka yang risau, menggalakkan upacara-upacara agama yang dihubungkan dengan penyembahan kepada dewa Kamos dan dewi Asytoret. Ia yang pada penahbisan bait suci telah berkata kepada rakyatnya, "Hendaklah kamu berpaut kepada Tuhan, Allah kita," (1 Raja-raja 8:61), ia sendiri menjadi pelanggar, di dalam hati dan hidupnya menolak kata-katanya sendiri. Ia salah mempergunakan kebebasan. Ia telah mencoba--tetapi harus membayar mahal!--untuk mempersatukan terang dengan kegelapan, yang baik dengan yang jahat, yang suci dengan yang najis, Kristus dengan Belial.


Dari salah satu raja yang terbesar yang pernah memegang tongkat kerajaan, Salomo menjadi seorang yang perisau, alat dan budak orang-orang lain. Tabiatnya, yang tadinya mulia dan teguh, menjadi lembek dan lemah. Kepercayaannya kepada Allah yang hidup telah digantikan oleh kebimbangan-kebimbangan yang tidak bertuhan. Ketidakpercayaan telah merusak kebahagiaannya, melemahkan asas-asasnya, dan memerosotkan hidupnya. Keadilan dan kemurahan hatinya pada permulaan pemerintahannya telah berubah menjadi penindasan dan kelaliman. Kasihan, korban alam kemanusiaan! Allah hanya bisa berbuat sedikit bagi manusia-manusia yang kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada-Nya.
Selama tahun-tahun kemurtadannya ini, kemerosotan kerohanian orang Israel berjalan terus-menerus. Apa jadinya nanti bila raja mereka telah menyatukan perhatiannya dengan agen-agen kesetanan? Melalui agen-agen ini musuh bekerja untuk mengacaukan pikiran orang Israel dalam hal perbaktian yang palsu dan benar, dan mereka menjadi mangsa yang empuk. Berdagang dengan bangsa-bangsa lain membawa mereka kepada hubungan akrab dengan orang-orang yang tidak mengasihi Allah, dan kasih mereka bagi-Nya telah sangat berkurang. Perasaan mereka yang tajam terhadap tabiat Allah yang tinggi dan suci, telah pudar. Dengan menolak untuk ikut dalam lorong ketaatan, mereka memindahkan kesetiaan mereka kepada musuh kebenaran. Jadilah kebiasaan mereka menikah dengan orang kafir, dan orang-orang Israel dengan cepat kehilangan rasa jijik mereka terhadap penyembahan berhala. Poligami diperkenalkan. Ibu-ibu penyembah berhala membawa anak-anak mereka untuk memelihara upacara-upacara agama kafir. Dalam kehidupan beberapa orang, upacara keagamaan yang sejati yang diperintahkan Allah, telah diganti oleh penyembahan berhala yang bercorak sangat gelap.
Orang-orang Kristen hendaknya bercerai dan memelihara perbedaan mereka sendiri dari dunia, rohnya dan pengaruh-pengaruhnya. Allah sepenuhnya sanggup memelihara kita di dunia, tetapi janganlah kita keduniawian. Kasih-Nya tidaklah goyah dan bimbang. Ia senantiasa menjaga anak-anak-Nya dengan pemeliharaan yang tak terlukiskan. Tetapi ia menuntut kesetiaan yang kukuh. "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan: Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24.
Salomo telah dilengkapi dengan hikmat yang ajaib, akan tetapi dunia menyeret dia dari Allah. Manusia sekarang tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu cenderung pamrih kepada pengaruh-pengaruh tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu cenderung pamrih kepada pengaruh-pengaruh yang menyebabkan kejatuhannya. Sebagaimana Allah memberi amaran kepada Salomo akan bahayanya, begitu juga sekarang Ia memberikan amaran kepada anak-anak-Nya agar jangan membinasakan jiwa mereka oleh bergabung dengan dunia. "Keluarlah kamu dari antara mereka," Ia memohon, "dan pisahkanlah dirimu...dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu, dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah Firman Tuhan Yang Mahakuasa." 2 Korintus 6:17, 18.


Di tengah-tengah kemakmuran bahaya mengintai. Sepanjang zaman kekayaan dan kemuliaan telah selalu mendatangkan bahaya pada kemanusiaan dan kerohanian. Bukanlah cawan yang kosong yang sukar kita angkut, melainkan cawan yang penuh sampai di tepi yang harus dijaga keseimbangannya. Malapetaka dan kemalangan mungkin menyebabkan kesusahan, tetapi adalah kemakmuranlah yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Kecuali sifat manusia tetap ditaklukkan kepada kehendak Allah, kecuali ia disucikan oleh kebenaran, maka kemakmuran pastilah mendatangkan kecenderungan yang lazim kepada pencobaan.
Di dalam lembah kerendahan, di mana manusia bergantung pada Allah untuk mengajar mereka dan menuntun setiap langkah mereka, di sana ada kesejahteraan yang sebanding. Tetapi manusia yang berdiri, sebagaimana adanya, di atas ketinggian menara, oleh karena kedudukannya yang menyangka memiliki hikmat yang besar--orang-orang inilah yang berada dalam kebinasaan yang mematikan. Kecuali orang-orang begitu menjadikan Allah tumpuan mereka, maka pastilah tidak akan jatuh.
Bila ambisi dan kecongkakan dimanjakan, maka kehidupan dirusakkan, demi kesombongan, merasa tidak memerlukan, dan menutup hati melawan berkat-berkat dari Surga yang tak terbatas. Barangsiapa yang mempermuliakan tujuan pribadinya akan menemukan dirinya sendiri melarat terhadap rahmat Allah, yang melalui ketepatgunaannya kekayaan-kekayaan yang paling sejati dan kesukaan yang sangat memuaskan dimenangkan. Tetapi barangsiapa yang menyerahkan segala-galanya dan mengerjakan seluruhnya bagi Kristus akan mengenyam kegenapan perjanjian, "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Amsal 10:22. Dengan jamahan yang lemah lembut dari rahmat Juruselamat lenyaplah dari jiwa kenajisan dan ambisi yang tidak berkeputusan, mengubah perseteruan kepada cinta kasih dan ketidakpercayaan kepada keyakinan. Apabila Ia berbicara kepada jiwa, dengan berkata "Ikutlah Aku," maka penarikan dunia yang mempesonakan dan ambisi meninggalkan hati, dan manusia bangkit, bebas mengikuti-Nya.



4

Akibat-akibat Pendurhakaan


DI ANTARA sebab-sebab utama yang paling menonjol yang membawa Salomo kepada pemborosan dan penindasan ialah kegagalannya mempertahankan dan memelihara roh penyangkalan diri.


Musa menyampaikan kepada orang banyak perintah Ilahi itu, ketika berada di kaki gunung Sinai, "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka." Keluaran 25:8. Dan orang-orang Israel menyambutnya dengan memberikan sumbangan. "Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya," membawa persembahan. Keluaran 35:21. Untuk pembangunan bait suci sangatlah penting mengadakan persediaan secara besar-besaran dan mahal; dibutuhkan sejumlah besar bahan-bahan yang paling besar dan berharga, tetapi Tuhan hanya menerima persembahan yang suka-rela. "Dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu," adalah perintah yang diulangi Musa kepada orang banyak itu. Keluaran 25:2. Berserah kepada Allah dan roh penyangkalan diri adalah tuntutan yang pertama dalam menyediakan tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi.
Panggilan yang sama untuk mengadakan penyangkalan diri dilakukan pada waktu Daud mengalihkan tanggung jawab pembangunan bait suci. Daud bertanya kepada orang banyak yang berhimpun, "Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada Tuhan?" 1 Tawarikh 29:5. Panggilan untuk berserah dan rela memberikan persembahan ini selalu harus ada di dalam benak orang-orang yang akan bekerja dalam pembangunan bait suci.
Oleh karena pembangunan kemah sembahyang di padang belantara, dilakukan oleh orang-orang terpilih yang dikaruniai Allah kecakapan dan keahlian yang istimewa. Maka "berkatalah Musa kepada orang Israel, Lihatlah TUHAN telah menunjuk Bezaleel . . .dari suku Yehuda; dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dan segala macam pekerjaan, . . .  Dan TUHAN menanamkan dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab. . . dari suku Dan kepandaian untuk mengajar. Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan, . . .  dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan . . . .  Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian." Keluaran 35:30-35; 36:1. Kecerdasan surgawi dipadukan dengan tenaga manusia yang ahli yang dipilih Allah sendiri.
Keturunan orang-orang yang ahli ini mewarisi talenta-talenta yang luas tingkatannya sebagai anugerah pada leluhur mereka. Selama satu jangka waktu orang-orang ini sebagai keturunan Yehuda dan Dan bersikap rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri; tetapi lambat laun, hampir tidak terasa mereka kehilangan pegangan dan kerinduan melayani dengan tidak mementingkan diri sendiri pada Allah. Mereka meminta bayaran yang lebih tinggi atas pekerjaan mereka, oleh karena kelebihan mereka dalam kecakapan sebagai tenaga ahli dalam bentuk seni. Telah beberapa kali terjadi tuntutan mereka dipenuhi, tetapi lebih sering mereka kedapatan bekerja pada bangsa-bangsa di sekelilingnya. Di tempat roh penyangkalan diri yang agung yang dulu memenuhi hati para leluhur mereka sebagai leluhur teladan, mereka ketagihan dengan roh keserakahan yang suka mengeruk keuntungan terus-menerus. Untuk memenuhi keinginan mereka yang mementingkan diri sendiri, mereka memanfaatkan keahlian yang dikaruniakan Allah untuk melayani raja-raja bangsa kafir, dan meminjamkan talenta mereka untuk menyempurnakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghormati Khalik mereka.
Dari antara orang-orang inilah Salomo mencari seorang tenaga ahli untuk mengawasi pembangunan bait suci di Gunung Moria. Perincian-perincian yang lengkap, mengenai setiap bagian dari bangunan yang suci itu, dicatat, dipercayakan pada raja; dan ia dapat menengadah kepada Allah dalam iman dalam rangka mencari pembantu-pembantu yang berserah, yang telah dikaruniai keahlian istimewa untuk mengerjakan dengan teliti pekerjaan yang harus dilaksanakan. Tetapi Salomo kehilangan pandangan terhadap kesempatan untuk menjalankan iman pada Allah. Ia menyuruh utusan kepada raja Tirus untuk mencari "seorang yang ahli dalam mengerjakan emas, perak, tembaga, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan juga pandai membuat ukiran . . . di Yehuda dan di Yerusalem." 2 Tawarikh 2:7.


Raja Funisia membalas dengan mengirimkan Huram "anak seorang perempuan dari bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus." Ayat 14. Huram, dari silsilah ibunya adalah keturunan Aholiab, yang ratusan tahun sebelumnya dikaruniai Allah keahlian yang istimewa untuk pembangunan kemah sembahyang.
Dengan demikian sebagai kepala barisan tenaga kerja Salomo telah ditempatkan seorang yang semangat kerjanya tidak dibarengi dengan suatu kerinduan yang tidak mementingkan diri untuk melayani Allah. Ia berbakti pada Mamon, ilah dunia. Sifat akhlak kemanusiaannya telah ditempa dengan asas-asas mementingkan diri sendiri.
Oleh karena keahliannya yang luar biasa, Huram menuntut bayaran yang tinggi. Lama kelamaan asas-asas salah yang dianutnya berjangkit kepada pembantu-pembantunya. Sementara mereka bekerja dengan dia hari demi hari, mereka tergoda kepada kecenderungan untuk membanding-bandingkan upahnya dengan upah mereka sendiri, dan mereka kehilangan pandangan terhadap sifat pekerjaan mereka yang suci. Roh penyangkalan diri telah lenyap dari mereka, dan tempatnya telah diganti oleh roh keserakahan. Akibatnya tuntutan meminta upah yang lebih tinggi, terpaksa dipenuhi.
Pengaruh-pengaruh jahat yang terjadi dalam pekerjaan merembes ke segala cabang pekerjaan Tuhan, dan meluas ke seluruh kerajaan. Upah tinggi yang dituntut dan dipenuhi memberikan banyak kesempatan untuk menjadi ketagihan dalam bermewah-mewah dan pemborosan. Orang-orang miskin ditindas oleh orang kaya, dan roh penyangkalan diri sudah lenyap sama sekali. Akibat-akibat jauh dari pengaruh-pengaruh ini dapat dijajaki sebagai satu penyebab utama kemurtadan yang mengerikan daripada dia yang dulu pernah dinyatakan paling arif dari antara manusia yang fana.
Perbedaan yang mencolok antara semangat dan tujuan dari orang-orang yang membangun kemah sembahyang di padang belantara dan mereka yang ikut serta dalam mendirikan bait suci Salomo, mempunyai suatu pelajaran bermakna yang mendalam. Sifat mengutamakan diri sendiri yang menandai para pekerja di bait suci itu menemukan pasangannya pada dewasa ini dalam hal mementingkan diri sendiri yang memerintah di dalam dunia. Roh keserakahan, dalam mengejar kedudukan dan bayaran yang paling tinggi berada di mana-mana. Kesukaan melayani dan kerelaan menyangkal diri daripada pekerja kemah sembahyang dulu sudah jarang ditemukan. Tetapi inilah semangat satu-satunya yang harus menggerakkan para pengikut Yesus. Guru Ilahi kita telah memberikan teladan bagaimana murid-muridnya harus bekerja. Kepada barangsiapa yang dipanggilnya, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia," (Matius 4:19), Ia tidak menyatakan jumlah upah untuk pelayanan-pelayanan mereka. Mereka harus menyangkal diri dan berkorban bersama-sama.


Karena bukan upah yang kita terima sehingga kita bekerja. Di dalam maksud hati yang mengajak kita untuk bekerja bagi Allah hendaknya tidak terdapat hal yang mengutamakan diri sendiri. Suatu roh berkorban dan penyerahan yang tidak mementingkan diri akan senantiasa dan selamanya menjadi kebutuhan pertama dari pelayanan yang wajar. Tuhan dan Guru kita merancang agar tidak ada selembar benang mementingkan diri sendiri yang akan ditenunkan ke dalam pekerjaan-Nya. Kita harus memasukkan kecakapan dan keahlian, ketelitian dan pengertian ke dalam usaha-usaha kita, karena itulah yang dituntut Allah yang sempurna dari para pembangun kemah sembahyang di dunia; sehingga di dalam segala pekerjaan kita hendaklah kita mengingat bahwa bakat-bakat yang terbesar atau pelayanan yang paling mulia dapat diterima hanya apabila diri sendiri ditempatkan di atas mezbah, menjadi suatu korban hidup yang bermanfaat.
Penyimpangan lain dari asas-asas yang benar yang akhirnya memimpin pada kejatuhan Raja orang Israel ialah penyerahannya kepada pencobaan untuk mengambil bagi dirinya kemuliaan yang hanya dimiliki Allah.
Mulai pada hari Salomo mendapat kepercayaan memegang pekerjaan untuk membangun bait suci sampai pada saat penyelesaiannya, maksud yang dinyatakannya ialah, "mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Allah orang Israel." 2 Tawarikh 6:7. Maksud ini telah dibentangkan sepenuhnya di hadapan perhimpunan besar orang-orang Israel pada waktu penahbisan bait suci itu. Dalam doanya raja maklum bahwa Yehova telah berfirman, "Nama-Ku akan tinggal di sana." 1 Raja-raja 8:29.
Salah satu bagian yang paling menggugah dari doa penahbisan Salomo adalah permohonannya untuk orang-orang asing yang akan datang dari negeri-negeri yang jauh untuk mempelajari hari hal Dia yang kemasyhuran-Nya telah tersebar luas di antara bangsa-bangsa. Raja memohon agar, "orang akan mendengar tentang nama-Nya yang teracung." Atas nama setiap orang asing yang ingin berbakti Salomo memohon: "Engkau pun kiranya mendengar, . . .  dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini." Ayat 42, 43.
Pada penutup acara itu, Salomo telah memperingatkan orang Israel agar berlaku setia dan benar pada Tuhan, agar supaya, "segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain." Ayat 60.
Yang lebih besar daripada Salomo ialah si perancang bait suci itu, hikmat dan kemuliaan Allah nyatanya berdiri di sana. Mereka yang mengenal bukti ini dengan sendirinya kagum dan memuji Salomo sebagai perencana dan pembangun, tetapi raja tidak menuntut penghormatan atas rencana dan pembangunan tersebut.
Begitulah hal yang berlangsung sampai saat Ratu Syeba datang mengunjungi Salomo. Mendengar akan kepintarannya dan kehebatan kemuliaan bait suci yang dibangunnya, ia memutuskan "hendak mengujinya dengan teka-teki" dan untuk menyaksikan sendiri hasil karyanya yang termasyhur. Datang dengan pasukan pengiring yang amat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal," ia mengadakan perjalanan jauh ke Yerusalem." Setelah ia sampai kepada Salomo, dipercakapkannyalah segala yang ada dalam hatinya." Ia berbicara kepadanya tentang rahasia-rahasia alam; dan Salomo mengajarkan kepadanya tentang Allah alam itu, Khalik yang besar, yang diam di ketinggian langit dan yang memerintah sekaliannya. "Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu: bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu." 1 Raja-raja 10:1-3; 2 Tawarikh 9:1, 2.


"Ketika ratu negeri Syeba melihat hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, . . .  maka tercenganglah ratu itu." Dan ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan mereka sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh, setengah dari hikmatmu yang besar itu belum diberitahukan kepadaku; engkau melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah orang-orangmu, dan berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu." 1 Raja-raja 10:4-8; 2 Tawarikh 9:3-6.
Sampai pada saat kunjungan berakhir ratu itu telah sepenuhnya diajar oleh Salomo bahwa sumber hikmat dan kemakmurannya yang mencengangkannya, bukan menyanjung-nyanjungkan agen manusia, tetapi menyatakan: "Terpujilah TUHAN Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran." 1 Raja-raja 10:9. Inilah kesan yang direncanakan Allah yang harus dibuat untuk semua orang. Dan ketika "semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya" (2 Tawarikh 9:23), untuk suatu jangka waktu Salomo menghormati Allah oleh menunjukkan kepada mereka dengan hormatnya akan Khalik langit dan bumi, Pemerintah semesta alam, Yang Mahabijaksana.
Sekiranya Salomo terus-menerus merendahkan diri untuk mengalihkan perhatian manusia dan ia sendiri kepada Oknum yang mengaruniakan hikmat dan kekayaan serta kemuliaan kepadanya, alangkah indah sejarahnya! Tetapi sementara pena ilham mencatat jasa-jasanya, juga harus dengan setia menyaksikan keruntuhannya. Bertumbuh dalam kebesaran yang menjulang tinggi dan dikelilingi karunia-karunia yang menguntungkan Salomo menjadi pusing, kehilangan keseimbangannya lalu jatuh. Dengan terus-menerus disanjung oleh manusia di dunia, ia akhirnya tak sanggup berdiri menghadapi kemegahan yang disodorkan kepadanya. Hikmat yang dipercayakan kepadanya agar ia boleh mempermuliakan si Pemberi memenuhinya dengan kesombongan. Akhirnya ia memperbolehkan manusia membicarakan dirinya sebagai satu orang yang paling terpuji karena kemuliaan yang tiada taranya dalam merencanakan dan mendirikan bangunan untuk penghormatan "nama TUHAN, Allah orang Israel."
Dengan demikian bait suci Yehova menjadi terkenal kepada bangsa-bangsa sebagai "bait suci Salomo." Pejabat manusia telah mengambil bagi dirinya sendiri kemuliaan yang sebenarnya adalah milik Satu "pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka." Pengkhotbah 5:7. Sampai hari inipun bait suci yang dimaklumkan Salomo, "bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini" (2 Tawarikh 6:33), sering disebut bukan sebagai bait suci Yehova, melainkan sebagai "bait suci Salomo."


Manusia tidak dapat menunjukkan kelemahan lebih besar oleh membiarkan orang-orang menganggap kemuliaan karunia-karunia yang diberikan Surga kepadanya berasal dari dia sendiri. Orang Kristen yang sejati akan menjadi Allah yang pertama dan terakhir dan terbaik di dalam segala perkara. Tidak ada niat yang ambisius yang akan mendinginkan kasih untuk Allah; dengan tetap, dengan tekun, ia akan menyatakan penghormatan yang berakhir pada Bapanya yang di surga. Adalah bila kita setia meninggikan nama Allah itu menunjukkan dorongan hati kita berada di bawah pengawasan Ilahi, dan kita disanggupkan untuk memperkembangkan kuasa rohani dan akal budi.
Yesus Guru Ilahi itu, senantiasa meninggikan nama Bapa-Nya yang di surga. Ia mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu." Matius 6:9. Dan mereka tidak akan melupakan, Engkaulah yang . . .  kemuliaan." Ayat 13. Tabib yang besar itu sangatlah berhati-hati mengarahkan perhatian dari Dia sendiri kepada Sumber kuasa-Nya, agar orang banyak yang keheran-heranan karena, "melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat," tidak mempermuliakan Dia, tetapi "mempermuliakan Allah Israel." Matius 15:31. Dalam doa ajaib yang dilayangkan Kristus tidak lama sebelum penyaliban-Nya, Ia memaklumkan, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi." Ia memohon, "permuliakanlah anak-Mu, supaya anak-Mu mempermuliakan Engkau." "Ya Bapa yang adil memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya: supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." Yohanes 17:1, 4, 25, 26.
"Beginilah Firman Tuhan, janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya: tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut, bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi: sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah Firman TUHAN." Yeremia 9:23, 24.

font kecil
"Aku akan memuji-muji nama Allah. . .
Mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur."

"Ya TUHAN dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa."

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
Allahku, dengan segenap hatiku:
Dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya."

"Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku,
Marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya."

Mazmur 69:31: Wahyu 4:11; Mazmur 86:12; 34:4

Pengenalan akan asas-asas yang menjauhkan roh berkorban dan kecenderungan kepada mempermuliakan diri sendiri, telah disertai oleh pemutarbalikan yang jahat terhadap rencana Ilahi bagi orang Israel. Allah telah merancang bahwa umat-Nya haruslah menjadi terang dunia. Dari merekalah dipancarkan kemuliaan hukum-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam praktik kehidupan. Dalam rangka penyebarluasan rancangan ini, Ia telah menetapkan bangsa pilihan itu untuk menempati suatu kedudukan yang strategis di tengah-tengah bangsa-bangsa di bumi.


Pada zaman Salomo kerajaan Israel membentang dari Hamat di Utara sampai ke Mesir di Selatan, dari Laut Tengah sampai ke sungai Efrat. Wilayah ini dilintasi jalan raya perdagangan dunia, dan kafilah dari negeri-negeri yang jauh tidak putus-putusnya hilir-mudik lewat di sini. Begitulah Salomo dan rakyatnya dikaruniai kesempatan untuk menyatakan kepada segala bangsa manusia akan tabiat Raja segala raja, dan mengajar mereka agar bertobat dan menurut Dia. Pengetahuan ini harus diberikan ke seluruh dunia. Melalui ajaran persembahan korban, Kristus akan ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, agar semuanya boleh hidup.
Ditempatkan sebagai kepala suatu bangsa yang telah dipasang sebagai mercusuar untuk bangsa-bangsa di sekitar, seharusnyalah Salomo menggunakan hikmat karunia Allah dan kuasa pengaruh menyusun dan mengatur suatu pergerakan untuk menerangi mereka yang acuh tak acuh terhadap Allah dan kebenaran-Nya. Dengan demikian orang banyak seharusnya dimenangkan menjadi setia pada perintah-perintah Ilahi, orang Israel seharusnya dapat dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang dijalankan oleh orang kafir, dan Tuhan yang mulia seharusnya dapat dihormati secara besar-besaran. Akan tetapi Salomo kehilangan pandangan terhadap maksud yang tinggi ini. Ia gagal dalam menggunakan kesempatan-kesempatan emasnya untuk menerangi mereka yang mondar-mandir melewati wilayahnya atau yang tinggal di kota-kota besar.
Roh mengabarkan Injil yang ditanam Allah di dalam hati Salomo dan di dalam hati orang-orang Israel yang benar telah diganti oleh suatu roh berdagang. Kesempatan-kesempatan yang menghasilkan kontak dengan banyak bangsa hanyalah digunakan untuk kemuliaan pribadi. Salomo berusaha memperkuat kedudukannya secara politis oleh membangun benteng kota-kota di pintu-pintu gerbang perdagangan. Ia membangun Gezer kembali, yang berdekatan dengan Yope, yang terbentang di sepanjang jalan antara Mesir dan Siria; dari Bet-Horon ke arah barat Yerusalem, menguasai lalu lintas dari jantung Yehuda menuju Gezer dan pesisir pantai; Megiddo, yang terletak di jalan kafilah dari Damaskus ke Mesir, dan dari Yerusalem ke utara; Dan "Tadmor di padang gurun" (2 Tawarikh 8:4), sepanjang jalur kafilah-kafilah dari Timur. Semua kota ini diperkuat dengan benteng. Keuntungan-keuntungan dagang dari jalan ke luar di hulu Laut Merah diikuti dengan pembuatan kapal-kapal di Ezion-Geber, . . . di tepi laut Teberau di tanah Edom. "Pelaut-pelaut yang terlatih dari Tirus, menyertai anak buah Salomo," berhasil membawa kapal-kapal ini ke "Ofir, dan mengambil emas," serta "sangat banyak kayu cendana, dan batu permata yang mahal-mahal." Ayat 18; 1 Raja-raja 9:26, 28; 10:11.

ketgam

Rumah Tuhan yang telah dibangun raja Salomo menjadi kebanggaan bangsa Israel, dan para duta besar datang mengunjungi raja yang bijaksana itu dan menyaksikan kekayaannya.




Pendapatan raja dan sebagian besar rakyatnya bertambah-tambah, tetapi harus dibayar dengan mahal! Oleh ketamakan dan penglihatan dekat dari mereka yang diberi kepercayaan memelihara sabda Allah, orang banyak yang tak terhitung jumlahnya yang lalu lalang di jalan-jalan raya itu telah dibiarkan tinggal di sana dengan tidak mempedulikan Yehova.
Perbedaan yang mencolok pada tujuan yang dikejar-kejar Salomo adalah tujuan yang diikuti Kristus ketika Ia berada di atas dunia ini. Walaupun Juruselamat memiliki "segala kuasa", Ia tidak pernah menggunakan kuasa ini untuk kemuliaan diri sendiri. Tiada impian kemenangan dunia, kebesaran dunia yang menodai kesempurnaan pelayanan-Nya bagi bangsa manusia. Ia berkata: "Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Matius 8:20. Mereka yang menyambut panggilan pada waktunya, telah memasuki pelayanan terhadap Pekerja Agung, dapat mempelajari sebaik-baiknya akan metode-metode-Nya. Ia mengambil keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang terdapat di sepanjang perjalanan di jalan raya yang besar itu.
Dalam waktu istirahat dari perjalanan-Nya yang melelahkan, Yesus tinggal di Kapernaum, yang kemudian dikenal sebagai "kota-Nya sendiri." Matius 9:1. Oleh karena terletak di jalan raya yang menghubungkan Damaskus, Yerusalem dan Mesir serta terus ke Laut Tengah, maka kota tersebut tetap menjadi pusat pekerjaan Juruselamat. Orang-orang dari negeri-negeri lain yang melewati kota ini biasanya singgah menginap. Di kota inilah Yesus bertemu dengan orang-orang dari segala bangsa dan segala tingkat kedudukan, dengan demikian pengajaran-Nya tersebar ke seluruh pelosok negeri dan negara-negara lain. Dengan keadaan ini perhatian tertuju kepada nubuatan yang menceritakan tentang Mesias, perhatian ditujukan langsung kepada Juruselamat, dan pekerjaan-Nya tersebar ke seluruh dunia.
Pada masa kini kesempatan-kesempatan untuk dapat berhubungan dengan pria dan wanita dari segala golongan dan kebangsaan adalah lebih besar daripada zaman orang-orang Israel. Walaupun biaya perjalanan telah menanjak seribu kali lipat.
Tidak berbeda dengan Kristus, pesuruh-pesuruh Yang Mahatinggi pada zaman ini harus menempatkan diri mereka dalam lintasan yang besar ini di mana mereka akan bertemu dengan orang-orang yang hilir-mudik dari segala penjuru dunia. Tidak berbeda dengan Dia, yang menggantungkan diri-Nya pada Allah, maka para pesuruh-Nya harus menebarkan benih Injil, menyatakan kepada orang-orang lain kebenaran-kebenaran Kitab Suci yang harus berakar dalam pikiran dan hati dan berpencar kepada hidup yang kekal.


Berhikmat adalah pelajaran-pelajaran di mana orang-orang Israel gagal yaitu pada tahun-tahun ketika raja dan rakyatnya berpaling dari tujuan yang tinggi atas mana mereka telah dipanggil untuk menggenapinya. Walaupun dalam kelemahan, yang mungkin berada pada titik kegagalan, orang-orang Israel Allah sekarang, menjadi wakil-wakil surga yang membangun gereja Kristus yang benar, haruslah kuat, karena di atas pundak mereka ditanggungkan kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dipercayakan kepada manusia, dan yang menjadi penuntun menyongsong hari pemberian pahala. Olehnya pengaruh-pengaruh yang sama yang berhasil mengalahkan Israel pada zaman raja Salomo memerintah, haruslah dihadapi, dengan kepala dingin. Pasukan-pasukan musuh kebenaran yang dipersenjatai dengan kuat, hanya dapat dikalahkan dengan kuasa Allah. Pertikaian yang terbentang di hadapan kita menuntut suatu roh penyangkalan diri, agar tidak berharap pada diri sendiri melainkan bergantung pada Allah saja, demi penggunaan setiap kesempatan untuk penyelamatan jiwa-jiwa. Berkat Allah akan tercurah kepada gereja-Nya apabila mereka maju dengan bersatu hati, menyatakan indahnya kesucian itu kepada dunia yang berada di dalam kegelapan dosa, sebagaimana yang dinyatakan dalam roh mengorbankan diri sama seperti Kristus, dalam meninggikan Ilahi daripada manusia, dan di dalam pelayanan kasih yang tidak mengenal lelah bagi mereka yang begitu besar kebutuhannya akan berkat Injil itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar