Kebanggaan
Akan Kemakmuran
SEMENTARA
Salomo meninggikan undang-undang surga, Allah beserta dengan dia, dan hikmat
diberikan kepadanya untuk memegang tampuk pemerintahan atas Israel dengan adil
dan kemurahan hati. Pada mulanya, ketika kekayaan dan kemuliaan duniawi
diperolehnya, ia tetap rendah hati, dan besarlah serta luaslah pengaruhnya.
"Maka Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai
negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir." "Ia. . .
dikaruniai damai di seluruh negerinya, sehingga orang Yehuda dan orang Israel
diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, . .
.seumur hidup Salomo." 1 Raja-raja 4:21, 24, 25.
Tetapi
setelah suatu fajar perjanjian besar, kehidupannya menjadi gelap oleh
kemurtadan. Sejarah mencatat fakta yang menyedihkan bahwa ia yang pernah
dijuluki Yedija,--"Yang Dikasihi Allah" (2 Samuel 12:25 bagian
pertama),--ia yang telah dihormati Allah dengan tanda-tanda kebaikan Ilahi yang
sangat luar biasa sehingga hikmat dan ketulusannya mencapai kemasyhuran
kebesaran dunia, ia yang telah menuntun orang-orang lain yang menyebabkan
mereka menghormati Allah orang Israel itu, telah berpaling dari menyembah
Yehova dan sujud di hadapan ilah-ilah orang kafir.
Ratusan
tahun sebelumnya Salomo menduduki takhta kerajaan, Tuhan melihat lebih dulu
akan kebinasaan yang bisa berlaku kepada barangsiapa yang mungkin terpilih
sebagai pemerintah Israel, telah memberikan petunjuk kepada Musa untuk pedoman
mereka. Petunjuk-petunjuk telah diberikan agar siapa yang akan duduk di atas
takhta kerajaan Israel haruslah "menulis baginya salinan" hukum-hukum
Yehova "menurut kitab yang ada pada imam-iman orang Lewi."
"Itulah yang harus ada di sampingnya" Tuhan berfirman, "haruslah
ia membacanya seumur hidupnya: untuk belajar takut akan Tuhan, Allah, dengan
berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya
jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang
dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan
anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel." Ulangan 17:18-20.
Sehubungan
dengan nasihat ini Tuhan khusus menaruh perhatian pada seseorang yang mungkin
diurapi menjadi raja "janganlah ia mempunyai banyak istri, supaya hatinya
jangan menyimpang; emas dan perak pun janganlah ia kumpulkan terlalu
banyak." Ayat 17.
Salomo
sudah maklum akan amaran-amaran ini, dan untuk suatu jangka waktu ia
melaksanakannya. Kerinduannya yang terbesar ialah hidup dan memerintah sesuai
dengan ketetapan-ketetapan yang diberikan di Sinai. Tindakannya dalam mengatur
urusan-urusan kerajaan sangatlah berlawanan dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa
pada zamannya--bangsa-bangsa yang tidak takut akan Allah yang
pemerintah-pemerintahnya menginjak-injak di bawah kakinya akan hukum-Nya yang
kudus.
Dalam
usaha untuk mempererat hubungan dengan kerajaan yang kuat di Selatan Israel,
Salomo melakukan suatu hal yang berbahaya di atas tanah yang langka. Setan
mengetahui hasil-hasil yang menyertai penurutan; dan selama tahun-tahun pertama
pemerintahan Salomo--tahun-tahun cemerlang oleh karena hikmat, kebijaksanaan,
dan ketulusan sang raja--Setan berusaha memasukkan pengaruh-pengaruh busuk yang
dapat merusak kesetiaan Salomo terhadap asas dan menyebabkan ia terpisah dari
Allah. Bahwa musuh itu berhasil dalam usahanya, kita ketahui dari catatan:
"Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir, ia mengambil anak Firaun, dan
membawanya ke kota Daud." 1 Raja-raja 3:1.
Dari
sudut pandangan manusia, perkawinan ini, meskipun bertentangan dengan
ajaran-ajaran hukum Allah, nampaknya mendatangkan berkat; oleh karena
permaisuri Salomo yang kafir ini bertobat dan bersatu dengan dia dalam berbakti
kepada Allah yang benar. Apalagi, Firaun menunjukkan setia kawannya kepada
Israel oleh merebut Gezer, membunuh "orang-orang Kanaan yang diam di kota
itu," lalu memberikan kota itu "sebagai hadiah kawin kepada anaknya,
istri Salomo." 1 Raja-raja 9:16.
Salomo membangun kembali kota ini dan dengan demikian menambah kebesaran
kekuatan kerajaannya sepanjang pantai Laut Tengah. Tetapi dalam menjalin suatu
persekutuan dengan suatu bangsa kafir, dan memeteraikan perjanjian itu oleh
perkawinan dengan seorang putri penyembah berhala, Salomo dengan gegabah tidak
menghargai jaminan kebijaksanaan yang Allah telah buat untuk mencapai kesucian
umat-Nya. Harapan bahwa istrinya orang Mesir itu mungkin bisa bertobat hanyalah
suatu dalih yang lemah terhadap dosa.
Untuk
suatu jangka waktu dalam rahmat-Nya yang penuh kasihan menaklukkan kesalahan
yang mengerikan ini; dan sang raja, oleh nasihat yang bijaksana, seharusnya
dapat memeriksa sekurang-kurangnya luasnya akan kekuatan-kekuatan jahat yang
oleh kelalaiannya telah ada dalam pekerjaan. Tetapi Salomo telah mulai
kehilangan penglihatan terhadap Sumber kuasa dan kemuliaannya. Ketika kehendak
hati mencapai penguasaan terhadap akal budi, maka keyakinan atas diri sendiri
bertambah-tambah, dan ia berikhtiar untuk menjalankan maksud Tuhan dengan
caranya sendiri. Ia mengira bahwa ikatan-ikatan dagang dan politik dengan
bangsa-bangsa luar akan membawa bangsa-bangsa ini untuk mengenal akan Allah
yang benar; lalu ia memasuki persekutuan yang kotor dengan bangsa demi bangsa.
Banyak kali ikatan-ikatan ini dimeterai dengan perkawinan-perkawinan dengan
putri-putri kafir. Perintah-perintah Yehova telah dikesampingkan demi adat
istiadat bangsa-bangsa luar.
Salomo
memuji dirinya sendiri bahwa hikmat dan kuasa teladannya akan memimpin
istri-istrinya dari penyembahan berhala ke penyembahan akan Allah yang benar,
dan bahwa ikatan-ikatan juga akan menarik bangsa-bangsa luar untuk berhubungan
erat dengan Israel. Pengharapan yang sia-sia! Kesalahan Salomo yang fatal ialah
menganggap dirinya cukup kuat untuk menolak sendiri pengaruh orang kafir yang
menjadi sekutu-sekutunya. Dan lebih fatal lagi, ialah penipuan yang memimpin ia
berharap meskipun bagian yang dikerjakannya tidak menghormati Allah, tetapi ada
orang lain yang nanti memuja-muja dan menurut perintah-perintah yang kudus itu.
Ikatan-ikatan
dan hubungan dagang raja dengan bangsa-bangsa kafir mendatangkan kemasyhuran,
kemuliaan, dan kekayaan dunia ini kepadanya. Ia sanggup mendatangkan emas dari
Ofir dan perak dari Tarsus dalam jumlah yang sangat besar. "Maka
dilimpahkan baginda emas dan perak di Yerusalem seperti batu banyaknya dan
pohon kayu aras pun dilimpahkannya seperti pokok ara hutan yang di tanah
datar." 2 Tawarikh 1:15. Kekayaan, dengan segala pencobaan yang
mengikutinya, datang pada Salomo sewaktu rakyatnya bertambah banyak; tetapi
emas tabiat yang indah menjadi kotor dan suram.
Begitu
pelahan kemurtadan Salomo sehingga sebelum ia menyadarinya, ia telah tersesat
jauh dari Allah. Hampir tak terasa ia mulai berkurang-kurang dalam bimbingan
dan berkat Ilahi, dan menempatkan keyakinan dalam kekuatannya sendiri. Sedikit
demi sedikit ia terlepas dari Allah dari penurutan yang tetap yang menjadikan
orang Israel suatu umat khusus, dan lama kelamaan ia menyesuaikan diri lebih
rapat dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya. Menempatkan diri pada
pencobaan-pencobaan yang terjadi oleh keberhasilan dan kedudukannya yang
terhormat, ia melupakan Sumber daripada kemakmurannya. Suatu ambisi untuk
melampaui semua bangsa lain dalam kuasa dan keagungan telah memimpin ia
menyelewengkan karunia-karunia surga untuk maksud-maksud dirinya sendiri yang
sampai sekarang dilakukan demi kemuliaan Allah. Uang yang seharusnya disimpan
dalam perbendaharaan yang kudus untuk dimanfaatkan bagi orang-orang miskin dan
untuk perluasan asas-asas kehidupan yang suci di seluruh dunia, telah diserap
secara pribadi dalam proyek-proyek yang penuh ambisi.
Terpikat
oleh suatu keinginan akan kuasa yang berlebih-lebihan untuk mengungguli
bangsa-bangsa lain dalam pertunjukan secara luar, sang raja mengabaikan akan
kebutuhan mencapai penyempurnaan dan keindahan tabiat. Dalam usaha mempermuliakan
diri sendiri di mata dunia, ia menjual kejujuran dan kehormatannya.
Pendapatan-pendapatannya yang tak terhitung diperoleh melalui perdagangan
dengan negeri-negeri lain yang dibarengi oleh pajak-pajak yang tinggi. Dengan
demikian kecongkakan, ambisi, pemborosan, dan pemanjaan diri menghasilkan
kekejaman dan pemerasan. Ketelitian, roh berhati-hati yang menandai
urusan-urusannya dengan orang banyak selama bagian permulaan pemerintahannya,
sekarang sudah berubah. Dari pemerintah yang paling bijaksana dan penuh belas
kasihan, ia merosot menjadi seorang raja yang lalim. Ia yang tadinya pelindung
yang takut akan Allah dan menaruh belas kasihan terhadap orang banyak, kini
menjadi penindas dan sewenang-wenang. Pajak demi pajak dipungut dari rakyat
sebagai pengadaan dana untuk istana yang mewah.
Rakyat
mulai mengeluh. Penghormatan dan kekaguman yang pernah ada dalam ribaan mereka
bagi raja mereka telah berubah menjadi ketidakpuasan dan kebencian.
Sebagai
suatu jalan yang aman menentang ketergantungan pada kekuatan manusia, Allah
telah memberikan amaran bagi barangsiapa yang akan memerintah bangsa Israel
janganlah memperbanyak kuda bagi dirinya sendiri. Tetapi dengan tidak
mengindahkan perintah ini sama sekali, "Kuda untuk Salomo didatangkan dari
Misraim dan dari Kewe." "Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim
dan dari segala negeri." "Salomo mengumpulkan juga kereta dan orang
berkuda, sehingga ia mempunyai seribu empat ratus kereta dan dua belas ribu
orang berkuda, yang semuanya ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat raja
di Yerusalem." 2 Tawarikh 1:16; 9:28; 1 Raja-raja 10:26.
Lama
kelamaan raja hanya mementingkan kemewahan, pemanjaan diri, dan mengasihi dunia
sebagai tanda-tanda kebesaran. Perempuan-perempuan cantik dan menarik
didatangkan dari Mesir, Funisia, Edom, Moab, dan dari negeri-negeri yang lain.
Ratusan banyaknya. Agama mereka menyembah berhala, dan mereka telah terlatih
dengan praktik kejam dalam upacara-upacara agama yang hina. Berahi oleh karena
kecantikan mereka, sang raja melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan
kerajaannya.
Istri-istrinya
menanamkan suatu pengaruh yang kuat ke atasnya dan lama kelamaan berhasil
menyeretnya bersatu dengan mereka dalam perbaktian mereka. Salomo telah
mengabaikan nasihat yang diberikan Allah yang akan dipergunakan sebagai suatu
benteng melawan kemurtadan, dan sekarang ia sendiri menerjunkan diri ke atas
penyembahan ilah-ilah yang palsu. "Sebab pada waktu Salomo sudah tua,
istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada Allah-Allah lain, sehingga ia
tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud,
ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti
Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon." 1 Raja-raja 11:4, 5.
Di
atas ketinggian sebelah Selatan Gunung Zaitun berhadapan dengan Gunung Moria di
mana berdirilah Bait Suci Yehova yang indah, Salomo mendirikan sederetan
bangunan yang mengagumkan yang dipakai sebagai tempat-tempat keramat
keberhalaan. Demi kesenangan istri-istrinya ia menempatkan patung-patung besar,
yang buruk bentuknya dari batu dan kayu, di tengah-tengah sekelompok pohon
zaitun dan pacar Belanda. Di sana, di depan mezbah dewa-dewa kafir,
"Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh, dewa kejijikan
sembahan bani Amon," dipraktikkanlah upacara agama kekafiran yang paling
hina. Ayat 7.
Kelakuan
Salomo mendatangkan hukumannya yang pasti. Perpisahannya dari Allah melalui
hubungannya dengan berhala-berhala adalah kebinasaannya. Ketika ia meninggalkan
kesetiaannya kepada Allah, ia kehilangan pengendalian akan dirinya sendiri.
Ketangkasan moralnya telah lenyap. Perasaan halusnya yang baik menjadi tumpul,
keyakinannya layu. Ia yang pada waktu permulaan pemerintahannya telah
menunjukkan rasa kasihan dan kebijaksanaan yang besar dalam mengembalikan
seorang bayi yang tidak berdaya kepada ibunya yang malang (lihat 1 raja-raja
3:16-28), jatuh begitu rendah sampai mengizinkan untuk mendirikan suatu berhala
kepada siapa anak-anak dipersembahkan hidup-hidup sebagai korban. Ia yang pada
masa mudanya selalu penuh pengertian dan pertimbangan, dan dalam kedewasaannya
yang kuat telah diilhamkan untuk menuliskan, "Ada jalan yang disangka
orang betul adanya, tetapi akhirnya kelak menjadi jalan kepada maut"
(Amsal 14:12), di masa tuanya berpisah jauh dari kesucian dengan menunjukkan
raut muka yang risau, menggalakkan upacara-upacara agama yang dihubungkan
dengan penyembahan kepada dewa Kamos dan dewi Asytoret. Ia yang pada penahbisan
bait suci telah berkata kepada rakyatnya, "Hendaklah kamu berpaut kepada Tuhan,
Allah kita," (1 Raja-raja 8:61), ia sendiri menjadi pelanggar, di dalam
hati dan hidupnya menolak kata-katanya sendiri. Ia salah mempergunakan
kebebasan. Ia telah mencoba--tetapi harus membayar mahal!--untuk mempersatukan
terang dengan kegelapan, yang baik dengan yang jahat, yang suci dengan yang
najis, Kristus dengan Belial.
Dari
salah satu raja yang terbesar yang pernah memegang tongkat kerajaan, Salomo
menjadi seorang yang perisau, alat dan budak orang-orang lain. Tabiatnya, yang
tadinya mulia dan teguh, menjadi lembek dan lemah. Kepercayaannya kepada Allah
yang hidup telah digantikan oleh kebimbangan-kebimbangan yang tidak bertuhan.
Ketidakpercayaan telah merusak kebahagiaannya, melemahkan asas-asasnya, dan
memerosotkan hidupnya. Keadilan dan kemurahan hatinya pada permulaan
pemerintahannya telah berubah menjadi penindasan dan kelaliman. Kasihan, korban
alam kemanusiaan! Allah hanya bisa berbuat sedikit bagi manusia-manusia yang
kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada-Nya.
Selama
tahun-tahun kemurtadannya ini, kemerosotan kerohanian orang Israel berjalan
terus-menerus. Apa jadinya nanti bila raja mereka telah menyatukan perhatiannya
dengan agen-agen kesetanan? Melalui agen-agen ini musuh bekerja untuk
mengacaukan pikiran orang Israel dalam hal perbaktian yang palsu dan benar, dan
mereka menjadi mangsa yang empuk. Berdagang dengan bangsa-bangsa lain membawa
mereka kepada hubungan akrab dengan orang-orang yang tidak mengasihi Allah, dan
kasih mereka bagi-Nya telah sangat berkurang. Perasaan mereka yang tajam
terhadap tabiat Allah yang tinggi dan suci, telah pudar. Dengan menolak untuk
ikut dalam lorong ketaatan, mereka memindahkan kesetiaan mereka kepada musuh
kebenaran. Jadilah kebiasaan mereka menikah dengan orang kafir, dan orang-orang
Israel dengan cepat kehilangan rasa jijik mereka terhadap penyembahan berhala.
Poligami diperkenalkan. Ibu-ibu penyembah berhala membawa anak-anak mereka
untuk memelihara upacara-upacara agama kafir. Dalam kehidupan beberapa orang,
upacara keagamaan yang sejati yang diperintahkan Allah, telah diganti oleh
penyembahan berhala yang bercorak sangat gelap.
Orang-orang
Kristen hendaknya bercerai dan memelihara perbedaan mereka sendiri dari dunia,
rohnya dan pengaruh-pengaruhnya. Allah sepenuhnya sanggup memelihara kita di
dunia, tetapi janganlah kita keduniawian. Kasih-Nya tidaklah goyah dan bimbang.
Ia senantiasa menjaga anak-anak-Nya dengan pemeliharaan yang tak terlukiskan.
Tetapi ia menuntut kesetiaan yang kukuh. "Tak seorang pun dapat mengabdi
kepada dua tuan: Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan
mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak
mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
Mamon." Matius 6:24.
Salomo
telah dilengkapi dengan hikmat yang ajaib, akan tetapi dunia menyeret dia dari
Allah. Manusia sekarang tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu cenderung
pamrih kepada pengaruh-pengaruh tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu
cenderung pamrih kepada pengaruh-pengaruh yang menyebabkan kejatuhannya.
Sebagaimana Allah memberi amaran kepada Salomo akan bahayanya, begitu juga
sekarang Ia memberikan amaran kepada anak-anak-Nya agar jangan membinasakan
jiwa mereka oleh bergabung dengan dunia. "Keluarlah kamu dari antara
mereka," Ia memohon, "dan pisahkanlah dirimu...dan janganlah menjamah
apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu, dan Aku akan menjadi Bapamu, dan
kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah
Firman Tuhan Yang Mahakuasa." 2 Korintus 6:17, 18.
Di
tengah-tengah kemakmuran bahaya mengintai. Sepanjang zaman kekayaan dan
kemuliaan telah selalu mendatangkan bahaya pada kemanusiaan dan kerohanian.
Bukanlah cawan yang kosong yang sukar kita angkut, melainkan cawan yang penuh
sampai di tepi yang harus dijaga keseimbangannya. Malapetaka dan kemalangan
mungkin menyebabkan kesusahan, tetapi adalah kemakmuranlah yang sangat
berbahaya bagi kehidupan rohani. Kecuali sifat manusia tetap ditaklukkan kepada
kehendak Allah, kecuali ia disucikan oleh kebenaran, maka kemakmuran pastilah
mendatangkan kecenderungan yang lazim kepada pencobaan.
Di
dalam lembah kerendahan, di mana manusia bergantung pada Allah untuk mengajar
mereka dan menuntun setiap langkah mereka, di sana ada kesejahteraan yang
sebanding. Tetapi manusia yang berdiri, sebagaimana adanya, di atas ketinggian
menara, oleh karena kedudukannya yang menyangka memiliki hikmat yang
besar--orang-orang inilah yang berada dalam kebinasaan yang mematikan. Kecuali
orang-orang begitu menjadikan Allah tumpuan mereka, maka pastilah tidak akan
jatuh.
Bila
ambisi dan kecongkakan dimanjakan, maka kehidupan dirusakkan, demi kesombongan,
merasa tidak memerlukan, dan menutup hati melawan berkat-berkat dari Surga yang
tak terbatas. Barangsiapa yang mempermuliakan tujuan pribadinya akan menemukan
dirinya sendiri melarat terhadap rahmat Allah, yang melalui ketepatgunaannya
kekayaan-kekayaan yang paling sejati dan kesukaan yang sangat memuaskan
dimenangkan. Tetapi barangsiapa yang menyerahkan segala-galanya dan mengerjakan
seluruhnya bagi Kristus akan mengenyam kegenapan perjanjian, "Berkat
Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Amsal
10:22. Dengan jamahan yang lemah lembut dari rahmat Juruselamat lenyaplah dari
jiwa kenajisan dan ambisi yang tidak berkeputusan, mengubah perseteruan kepada
cinta kasih dan ketidakpercayaan kepada keyakinan. Apabila Ia berbicara kepada
jiwa, dengan berkata "Ikutlah Aku," maka penarikan dunia yang
mempesonakan dan ambisi meninggalkan hati, dan manusia bangkit, bebas mengikuti-Nya.
4
Akibat-akibat
Pendurhakaan
DI
ANTARA sebab-sebab utama yang paling menonjol yang membawa Salomo kepada
pemborosan dan penindasan ialah kegagalannya mempertahankan dan memelihara roh
penyangkalan diri.
Musa
menyampaikan kepada orang banyak perintah Ilahi itu, ketika berada di kaki
gunung Sinai, "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku
akan diam di tengah-tengah mereka." Keluaran 25:8. Dan orang-orang Israel
menyambutnya dengan memberikan sumbangan. "Sesudah itu datanglah setiap
orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya," membawa
persembahan. Keluaran 35:21. Untuk pembangunan bait suci sangatlah penting
mengadakan persediaan secara besar-besaran dan mahal; dibutuhkan sejumlah besar
bahan-bahan yang paling besar dan berharga, tetapi Tuhan hanya menerima
persembahan yang suka-rela. "Dari setiap orang yang terdorong hatinya,
haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu," adalah perintah
yang diulangi Musa kepada orang banyak itu. Keluaran 25:2. Berserah kepada
Allah dan roh penyangkalan diri adalah tuntutan yang pertama dalam menyediakan
tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi.
Panggilan
yang sama untuk mengadakan penyangkalan diri dilakukan pada waktu Daud
mengalihkan tanggung jawab pembangunan bait suci. Daud bertanya kepada orang
banyak yang berhimpun, "Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan
persembahan kepada Tuhan?" 1 Tawarikh 29:5. Panggilan untuk berserah dan
rela memberikan persembahan ini selalu harus ada di dalam benak orang-orang yang
akan bekerja dalam pembangunan bait suci.
Oleh
karena pembangunan kemah sembahyang di padang belantara, dilakukan oleh
orang-orang terpilih yang dikaruniai Allah kecakapan dan keahlian yang
istimewa. Maka "berkatalah Musa kepada orang Israel, Lihatlah TUHAN telah
menunjuk Bezaleel . . .dari suku Yehuda; dan telah memenuhinya dengan Roh
Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dan segala macam pekerjaan,
. . . Dan TUHAN menanamkan dalam
hatinya, dan dalam hati Aholiab. . . dari suku Dan kepandaian untuk mengajar.
Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan
seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan,
. . . dan pekerjaan seorang tukang tenun,
yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan . . . . Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan
Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan
pengertian." Keluaran 35:30-35; 36:1. Kecerdasan surgawi dipadukan dengan
tenaga manusia yang ahli yang dipilih Allah sendiri.
Keturunan
orang-orang yang ahli ini mewarisi talenta-talenta yang luas tingkatannya
sebagai anugerah pada leluhur mereka. Selama satu jangka waktu orang-orang ini
sebagai keturunan Yehuda dan Dan bersikap rendah hati dan tidak mementingkan
diri sendiri; tetapi lambat laun, hampir tidak terasa mereka kehilangan
pegangan dan kerinduan melayani dengan tidak mementingkan diri sendiri pada
Allah. Mereka meminta bayaran yang lebih tinggi atas pekerjaan mereka, oleh
karena kelebihan mereka dalam kecakapan sebagai tenaga ahli dalam bentuk seni.
Telah beberapa kali terjadi tuntutan mereka dipenuhi, tetapi lebih sering
mereka kedapatan bekerja pada bangsa-bangsa di sekelilingnya. Di tempat roh
penyangkalan diri yang agung yang dulu memenuhi hati para leluhur mereka
sebagai leluhur teladan, mereka ketagihan dengan roh keserakahan yang suka
mengeruk keuntungan terus-menerus. Untuk memenuhi keinginan mereka yang
mementingkan diri sendiri, mereka memanfaatkan keahlian yang dikaruniakan Allah
untuk melayani raja-raja bangsa kafir, dan meminjamkan talenta mereka untuk
menyempurnakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghormati Khalik mereka.
Dari
antara orang-orang inilah Salomo mencari seorang tenaga ahli untuk mengawasi
pembangunan bait suci di Gunung Moria. Perincian-perincian yang lengkap,
mengenai setiap bagian dari bangunan yang suci itu, dicatat, dipercayakan pada
raja; dan ia dapat menengadah kepada Allah dalam iman dalam rangka mencari
pembantu-pembantu yang berserah, yang telah dikaruniai keahlian istimewa untuk
mengerjakan dengan teliti pekerjaan yang harus dilaksanakan. Tetapi Salomo
kehilangan pandangan terhadap kesempatan untuk menjalankan iman pada Allah. Ia
menyuruh utusan kepada raja Tirus untuk mencari "seorang yang ahli dalam
mengerjakan emas, perak, tembaga, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua,
dan juga pandai membuat ukiran . . . di Yehuda dan di Yerusalem." 2
Tawarikh 2:7.
Raja
Funisia membalas dengan mengirimkan Huram "anak seorang perempuan dari
bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus." Ayat 14. Huram, dari silsilah
ibunya adalah keturunan Aholiab, yang ratusan tahun sebelumnya dikaruniai Allah
keahlian yang istimewa untuk pembangunan kemah sembahyang.
Dengan
demikian sebagai kepala barisan tenaga kerja Salomo telah ditempatkan seorang
yang semangat kerjanya tidak dibarengi dengan suatu kerinduan yang tidak
mementingkan diri untuk melayani Allah. Ia berbakti pada Mamon, ilah dunia.
Sifat akhlak kemanusiaannya telah ditempa dengan asas-asas mementingkan diri
sendiri.
Oleh
karena keahliannya yang luar biasa, Huram menuntut bayaran yang tinggi. Lama
kelamaan asas-asas salah yang dianutnya berjangkit kepada pembantu-pembantunya.
Sementara mereka bekerja dengan dia hari demi hari, mereka tergoda kepada
kecenderungan untuk membanding-bandingkan upahnya dengan upah mereka sendiri,
dan mereka kehilangan pandangan terhadap sifat pekerjaan mereka yang suci. Roh
penyangkalan diri telah lenyap dari mereka, dan tempatnya telah diganti oleh
roh keserakahan. Akibatnya tuntutan meminta upah yang lebih tinggi, terpaksa
dipenuhi.
Pengaruh-pengaruh
jahat yang terjadi dalam pekerjaan merembes ke segala cabang pekerjaan Tuhan,
dan meluas ke seluruh kerajaan. Upah tinggi yang dituntut dan dipenuhi
memberikan banyak kesempatan untuk menjadi ketagihan dalam bermewah-mewah dan
pemborosan. Orang-orang miskin ditindas oleh orang kaya, dan roh penyangkalan
diri sudah lenyap sama sekali. Akibat-akibat jauh dari pengaruh-pengaruh ini
dapat dijajaki sebagai satu penyebab utama kemurtadan yang mengerikan daripada
dia yang dulu pernah dinyatakan paling arif dari antara manusia yang fana.
Perbedaan
yang mencolok antara semangat dan tujuan dari orang-orang yang membangun kemah
sembahyang di padang belantara dan mereka yang ikut serta dalam mendirikan bait
suci Salomo, mempunyai suatu pelajaran bermakna yang mendalam. Sifat
mengutamakan diri sendiri yang menandai para pekerja di bait suci itu menemukan
pasangannya pada dewasa ini dalam hal mementingkan diri sendiri yang memerintah
di dalam dunia. Roh keserakahan, dalam mengejar kedudukan dan bayaran yang
paling tinggi berada di mana-mana. Kesukaan melayani dan kerelaan menyangkal
diri daripada pekerja kemah sembahyang dulu sudah jarang ditemukan. Tetapi
inilah semangat satu-satunya yang harus menggerakkan para pengikut Yesus. Guru
Ilahi kita telah memberikan teladan bagaimana murid-muridnya harus bekerja.
Kepada barangsiapa yang dipanggilnya, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan
Kujadikan penjala manusia," (Matius 4:19), Ia tidak menyatakan jumlah upah
untuk pelayanan-pelayanan mereka. Mereka harus menyangkal diri dan berkorban
bersama-sama.
Karena
bukan upah yang kita terima sehingga kita bekerja. Di dalam maksud hati yang
mengajak kita untuk bekerja bagi Allah hendaknya tidak terdapat hal yang
mengutamakan diri sendiri. Suatu roh berkorban dan penyerahan yang tidak
mementingkan diri akan senantiasa dan selamanya menjadi kebutuhan pertama dari
pelayanan yang wajar. Tuhan dan Guru kita merancang agar tidak ada selembar
benang mementingkan diri sendiri yang akan ditenunkan ke dalam pekerjaan-Nya.
Kita harus memasukkan kecakapan dan keahlian, ketelitian dan pengertian ke
dalam usaha-usaha kita, karena itulah yang dituntut Allah yang sempurna dari
para pembangun kemah sembahyang di dunia; sehingga di dalam segala pekerjaan
kita hendaklah kita mengingat bahwa bakat-bakat yang terbesar atau pelayanan
yang paling mulia dapat diterima hanya apabila diri sendiri ditempatkan di atas
mezbah, menjadi suatu korban hidup yang bermanfaat.
Penyimpangan
lain dari asas-asas yang benar yang akhirnya memimpin pada kejatuhan Raja orang
Israel ialah penyerahannya kepada pencobaan untuk mengambil bagi dirinya
kemuliaan yang hanya dimiliki Allah.
Mulai
pada hari Salomo mendapat kepercayaan memegang pekerjaan untuk membangun bait
suci sampai pada saat penyelesaiannya, maksud yang dinyatakannya ialah,
"mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Allah orang Israel." 2 Tawarikh
6:7. Maksud ini telah dibentangkan sepenuhnya di hadapan perhimpunan besar
orang-orang Israel pada waktu penahbisan bait suci itu. Dalam doanya raja maklum
bahwa Yehova telah berfirman, "Nama-Ku akan tinggal di sana." 1
Raja-raja 8:29.
Salah
satu bagian yang paling menggugah dari doa penahbisan Salomo adalah
permohonannya untuk orang-orang asing yang akan datang dari negeri-negeri yang
jauh untuk mempelajari hari hal Dia yang kemasyhuran-Nya telah tersebar luas di
antara bangsa-bangsa. Raja memohon agar, "orang akan mendengar tentang
nama-Nya yang teracung." Atas nama setiap orang asing yang ingin berbakti
Salomo memohon: "Engkau pun kiranya mendengar, . . . dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan
segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di
bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu
Israel dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang
telah kudirikan ini." Ayat 42, 43.
Pada
penutup acara itu, Salomo telah memperingatkan orang Israel agar berlaku setia
dan benar pada Tuhan, agar supaya, "segala bangsa di bumi tahu, bahwa
TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain." Ayat 60.
Yang
lebih besar daripada Salomo ialah si perancang bait suci itu, hikmat dan
kemuliaan Allah nyatanya berdiri di sana. Mereka yang mengenal bukti ini dengan
sendirinya kagum dan memuji Salomo sebagai perencana dan pembangun, tetapi raja
tidak menuntut penghormatan atas rencana dan pembangunan tersebut.
Begitulah
hal yang berlangsung sampai saat Ratu Syeba datang mengunjungi Salomo.
Mendengar akan kepintarannya dan kehebatan kemuliaan bait suci yang
dibangunnya, ia memutuskan "hendak mengujinya dengan teka-teki" dan
untuk menyaksikan sendiri hasil karyanya yang termasyhur. Datang dengan pasukan
pengiring yang amat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat
banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal," ia mengadakan perjalanan
jauh ke Yerusalem." Setelah ia sampai kepada Salomo, dipercakapkannyalah
segala yang ada dalam hatinya." Ia berbicara kepadanya tentang
rahasia-rahasia alam; dan Salomo mengajarkan kepadanya tentang Allah alam itu,
Khalik yang besar, yang diam di ketinggian langit dan yang memerintah
sekaliannya. "Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu: bagi raja tidak
ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu." 1
Raja-raja 10:1-3; 2 Tawarikh 9:1, 2.
"Ketika
ratu negeri Syeba melihat hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, . .
. maka tercenganglah ratu itu." Dan
ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang kudengar di negeriku
tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan
mereka sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh,
setengah dari hikmatmu yang besar itu belum diberitahukan kepadaku; engkau
melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah orang-orangmu, dan berbahagialah
para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu."
1 Raja-raja 10:4-8; 2 Tawarikh 9:3-6.
Sampai
pada saat kunjungan berakhir ratu itu telah sepenuhnya diajar oleh Salomo bahwa
sumber hikmat dan kemakmurannya yang mencengangkannya, bukan
menyanjung-nyanjungkan agen manusia, tetapi menyatakan: "Terpujilah TUHAN
Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau
di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk
selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan
keadilan dan kebenaran." 1 Raja-raja 10:9. Inilah kesan yang direncanakan
Allah yang harus dibuat untuk semua orang. Dan ketika "semua raja di bumi
berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah
di dalam hatinya" (2 Tawarikh 9:23), untuk suatu jangka waktu Salomo
menghormati Allah oleh menunjukkan kepada mereka dengan hormatnya akan Khalik
langit dan bumi, Pemerintah semesta alam, Yang Mahabijaksana.
Sekiranya
Salomo terus-menerus merendahkan diri untuk mengalihkan perhatian manusia dan
ia sendiri kepada Oknum yang mengaruniakan hikmat dan kekayaan serta kemuliaan
kepadanya, alangkah indah sejarahnya! Tetapi sementara pena ilham mencatat
jasa-jasanya, juga harus dengan setia menyaksikan keruntuhannya. Bertumbuh
dalam kebesaran yang menjulang tinggi dan dikelilingi karunia-karunia yang
menguntungkan Salomo menjadi pusing, kehilangan keseimbangannya lalu jatuh.
Dengan terus-menerus disanjung oleh manusia di dunia, ia akhirnya tak sanggup
berdiri menghadapi kemegahan yang disodorkan kepadanya. Hikmat yang
dipercayakan kepadanya agar ia boleh mempermuliakan si Pemberi memenuhinya
dengan kesombongan. Akhirnya ia memperbolehkan manusia membicarakan dirinya
sebagai satu orang yang paling terpuji karena kemuliaan yang tiada taranya
dalam merencanakan dan mendirikan bangunan untuk penghormatan "nama TUHAN,
Allah orang Israel."
Dengan
demikian bait suci Yehova menjadi terkenal kepada bangsa-bangsa sebagai
"bait suci Salomo." Pejabat manusia telah mengambil bagi dirinya
sendiri kemuliaan yang sebenarnya adalah milik Satu "pejabat yang lebih
tinggi mengawasi mereka." Pengkhotbah 5:7. Sampai hari inipun bait suci
yang dimaklumkan Salomo, "bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang
telah kudirikan ini" (2 Tawarikh 6:33), sering disebut bukan sebagai bait
suci Yehova, melainkan sebagai "bait suci Salomo."
Manusia
tidak dapat menunjukkan kelemahan lebih besar oleh membiarkan orang-orang
menganggap kemuliaan karunia-karunia yang diberikan Surga kepadanya berasal
dari dia sendiri. Orang Kristen yang sejati akan menjadi Allah yang pertama dan
terakhir dan terbaik di dalam segala perkara. Tidak ada niat yang ambisius yang
akan mendinginkan kasih untuk Allah; dengan tetap, dengan tekun, ia akan
menyatakan penghormatan yang berakhir pada Bapanya yang di surga. Adalah bila
kita setia meninggikan nama Allah itu menunjukkan dorongan hati kita berada di
bawah pengawasan Ilahi, dan kita disanggupkan untuk memperkembangkan kuasa
rohani dan akal budi.
Yesus
Guru Ilahi itu, senantiasa meninggikan nama Bapa-Nya yang di surga. Ia
mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, "Bapa kami yang di surga,
dikuduskanlah nama-Mu." Matius 6:9. Dan mereka tidak akan melupakan,
Engkaulah yang . . . kemuliaan."
Ayat 13. Tabib yang besar itu sangatlah berhati-hati mengarahkan perhatian dari
Dia sendiri kepada Sumber kuasa-Nya, agar orang banyak yang keheran-heranan
karena, "melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang
lumpuh berjalan, orang buta melihat," tidak mempermuliakan Dia, tetapi
"mempermuliakan Allah Israel." Matius 15:31. Dalam doa ajaib yang
dilayangkan Kristus tidak lama sebelum penyaliban-Nya, Ia memaklumkan,
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi." Ia memohon,
"permuliakanlah anak-Mu, supaya anak-Mu mempermuliakan Engkau."
"Ya Bapa yang adil memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal
Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku
telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya:
supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam
mereka." Yohanes 17:1, 4, 25, 26.
"Beginilah
Firman Tuhan, janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya,
janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah
karena kekayaannya: tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena
yang berikut, bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang
menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi: sungguh, semuanya itu
Kusukai, demikianlah Firman TUHAN." Yeremia 9:23, 24.
font
kecil
"Aku
akan memuji-muji nama Allah. . .
Mengagungkan
Dia dengan nyanyian syukur."
"Ya
TUHAN dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan
kuasa."
"Aku
hendak bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
Allahku,
dengan segenap hatiku:
Dan
memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya."
"Muliakanlah
TUHAN bersama-sama dengan aku,
Marilah
kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya."
Mazmur
69:31: Wahyu 4:11; Mazmur 86:12; 34:4
Pengenalan
akan asas-asas yang menjauhkan roh berkorban dan kecenderungan kepada
mempermuliakan diri sendiri, telah disertai oleh pemutarbalikan yang jahat
terhadap rencana Ilahi bagi orang Israel. Allah telah merancang bahwa umat-Nya
haruslah menjadi terang dunia. Dari merekalah dipancarkan kemuliaan hukum-Nya
sebagaimana yang dinyatakan dalam praktik kehidupan. Dalam rangka
penyebarluasan rancangan ini, Ia telah menetapkan bangsa pilihan itu untuk
menempati suatu kedudukan yang strategis di tengah-tengah bangsa-bangsa di
bumi.
Pada
zaman Salomo kerajaan Israel membentang dari Hamat di Utara sampai ke Mesir di
Selatan, dari Laut Tengah sampai ke sungai Efrat. Wilayah ini dilintasi jalan
raya perdagangan dunia, dan kafilah dari negeri-negeri yang jauh tidak
putus-putusnya hilir-mudik lewat di sini. Begitulah Salomo dan rakyatnya
dikaruniai kesempatan untuk menyatakan kepada segala bangsa manusia akan tabiat
Raja segala raja, dan mengajar mereka agar bertobat dan menurut Dia.
Pengetahuan ini harus diberikan ke seluruh dunia. Melalui ajaran persembahan
korban, Kristus akan ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, agar semuanya boleh
hidup.
Ditempatkan
sebagai kepala suatu bangsa yang telah dipasang sebagai mercusuar untuk
bangsa-bangsa di sekitar, seharusnyalah Salomo menggunakan hikmat karunia Allah
dan kuasa pengaruh menyusun dan mengatur suatu pergerakan untuk menerangi
mereka yang acuh tak acuh terhadap Allah dan kebenaran-Nya. Dengan demikian
orang banyak seharusnya dimenangkan menjadi setia pada perintah-perintah Ilahi,
orang Israel seharusnya dapat dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang
dijalankan oleh orang kafir, dan Tuhan yang mulia seharusnya dapat dihormati
secara besar-besaran. Akan tetapi Salomo kehilangan pandangan terhadap maksud
yang tinggi ini. Ia gagal dalam menggunakan kesempatan-kesempatan emasnya untuk
menerangi mereka yang mondar-mandir melewati wilayahnya atau yang tinggal di
kota-kota besar.
Roh
mengabarkan Injil yang ditanam Allah di dalam hati Salomo dan di dalam hati
orang-orang Israel yang benar telah diganti oleh suatu roh berdagang.
Kesempatan-kesempatan yang menghasilkan kontak dengan banyak bangsa hanyalah
digunakan untuk kemuliaan pribadi. Salomo berusaha memperkuat kedudukannya
secara politis oleh membangun benteng kota-kota di pintu-pintu gerbang
perdagangan. Ia membangun Gezer kembali, yang berdekatan dengan Yope, yang terbentang
di sepanjang jalan antara Mesir dan Siria; dari Bet-Horon ke arah barat
Yerusalem, menguasai lalu lintas dari jantung Yehuda menuju Gezer dan pesisir
pantai; Megiddo, yang terletak di jalan kafilah dari Damaskus ke Mesir, dan
dari Yerusalem ke utara; Dan "Tadmor di padang gurun" (2 Tawarikh
8:4), sepanjang jalur kafilah-kafilah dari Timur. Semua kota ini diperkuat
dengan benteng. Keuntungan-keuntungan dagang dari jalan ke luar di hulu Laut
Merah diikuti dengan pembuatan kapal-kapal di Ezion-Geber, . . . di tepi laut
Teberau di tanah Edom. "Pelaut-pelaut yang terlatih dari Tirus, menyertai
anak buah Salomo," berhasil membawa kapal-kapal ini ke "Ofir, dan
mengambil emas," serta "sangat banyak kayu cendana, dan batu permata
yang mahal-mahal." Ayat 18; 1 Raja-raja 9:26, 28; 10:11.
ketgam
Rumah
Tuhan yang telah dibangun raja Salomo menjadi kebanggaan bangsa Israel, dan
para duta besar datang mengunjungi raja yang bijaksana itu dan menyaksikan
kekayaannya.
Pendapatan
raja dan sebagian besar rakyatnya bertambah-tambah, tetapi harus dibayar dengan
mahal! Oleh ketamakan dan penglihatan dekat dari mereka yang diberi kepercayaan
memelihara sabda Allah, orang banyak yang tak terhitung jumlahnya yang lalu
lalang di jalan-jalan raya itu telah dibiarkan tinggal di sana dengan tidak
mempedulikan Yehova.
Perbedaan
yang mencolok pada tujuan yang dikejar-kejar Salomo adalah tujuan yang diikuti
Kristus ketika Ia berada di atas dunia ini. Walaupun Juruselamat memiliki
"segala kuasa", Ia tidak pernah menggunakan kuasa ini untuk kemuliaan
diri sendiri. Tiada impian kemenangan dunia, kebesaran dunia yang menodai
kesempurnaan pelayanan-Nya bagi bangsa manusia. Ia berkata: "Serigala
mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi anak Manusia tidak
mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Matius 8:20. Mereka yang
menyambut panggilan pada waktunya, telah memasuki pelayanan terhadap Pekerja
Agung, dapat mempelajari sebaik-baiknya akan metode-metode-Nya. Ia mengambil
keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang terdapat di sepanjang perjalanan di
jalan raya yang besar itu.
Dalam
waktu istirahat dari perjalanan-Nya yang melelahkan, Yesus tinggal di
Kapernaum, yang kemudian dikenal sebagai "kota-Nya sendiri." Matius
9:1. Oleh karena terletak di jalan raya yang menghubungkan Damaskus, Yerusalem
dan Mesir serta terus ke Laut Tengah, maka kota tersebut tetap menjadi pusat
pekerjaan Juruselamat. Orang-orang dari negeri-negeri lain yang melewati kota
ini biasanya singgah menginap. Di kota inilah Yesus bertemu dengan orang-orang dari
segala bangsa dan segala tingkat kedudukan, dengan demikian pengajaran-Nya
tersebar ke seluruh pelosok negeri dan negara-negara lain. Dengan keadaan ini
perhatian tertuju kepada nubuatan yang menceritakan tentang Mesias, perhatian
ditujukan langsung kepada Juruselamat, dan pekerjaan-Nya tersebar ke seluruh
dunia.
Pada
masa kini kesempatan-kesempatan untuk dapat berhubungan dengan pria dan wanita
dari segala golongan dan kebangsaan adalah lebih besar daripada zaman
orang-orang Israel. Walaupun biaya perjalanan telah menanjak seribu kali lipat.
Tidak
berbeda dengan Kristus, pesuruh-pesuruh Yang Mahatinggi pada zaman ini harus
menempatkan diri mereka dalam lintasan yang besar ini di mana mereka akan
bertemu dengan orang-orang yang hilir-mudik dari segala penjuru dunia. Tidak
berbeda dengan Dia, yang menggantungkan diri-Nya pada Allah, maka para
pesuruh-Nya harus menebarkan benih Injil, menyatakan kepada orang-orang lain
kebenaran-kebenaran Kitab Suci yang harus berakar dalam pikiran dan hati dan
berpencar kepada hidup yang kekal.
Berhikmat
adalah pelajaran-pelajaran di mana orang-orang Israel gagal yaitu pada
tahun-tahun ketika raja dan rakyatnya berpaling dari tujuan yang tinggi atas
mana mereka telah dipanggil untuk menggenapinya. Walaupun dalam kelemahan, yang
mungkin berada pada titik kegagalan, orang-orang Israel Allah sekarang, menjadi
wakil-wakil surga yang membangun gereja Kristus yang benar, haruslah kuat,
karena di atas pundak mereka ditanggungkan kewajiban untuk menyelesaikan
pekerjaan yang telah dipercayakan kepada manusia, dan yang menjadi penuntun
menyongsong hari pemberian pahala. Olehnya pengaruh-pengaruh yang sama yang
berhasil mengalahkan Israel pada zaman raja Salomo memerintah, haruslah
dihadapi, dengan kepala dingin. Pasukan-pasukan musuh kebenaran yang
dipersenjatai dengan kuat, hanya dapat dikalahkan dengan kuasa Allah.
Pertikaian yang terbentang di hadapan kita menuntut suatu roh penyangkalan
diri, agar tidak berharap pada diri sendiri melainkan bergantung pada Allah
saja, demi penggunaan setiap kesempatan untuk penyelamatan jiwa-jiwa. Berkat
Allah akan tercurah kepada gereja-Nya apabila mereka maju dengan bersatu hati,
menyatakan indahnya kesucian itu kepada dunia yang berada di dalam kegelapan
dosa, sebagaimana yang dinyatakan dalam roh mengorbankan diri sama seperti
Kristus, dalam meninggikan Ilahi daripada manusia, dan di dalam pelayanan kasih
yang tidak mengenal lelah bagi mereka yang begitu besar kebutuhannya akan
berkat Injil itu.