Jumat, 22 Agustus 2014

Kebanggaan Akan Kemakmuran


SEMENTARA Salomo meninggikan undang-undang surga, Allah beserta dengan dia, dan hikmat diberikan kepadanya untuk memegang tampuk pemerintahan atas Israel dengan adil dan kemurahan hati. Pada mulanya, ketika kekayaan dan kemuliaan duniawi diperolehnya, ia tetap rendah hati, dan besarlah serta luaslah pengaruhnya. "Maka Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir." "Ia. . . dikaruniai damai di seluruh negerinya, sehingga orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, . . .seumur hidup Salomo." 1 Raja-raja 4:21, 24, 25.
Tetapi setelah suatu fajar perjanjian besar, kehidupannya menjadi gelap oleh kemurtadan. Sejarah mencatat fakta yang menyedihkan bahwa ia yang pernah dijuluki Yedija,--"Yang Dikasihi Allah" (2 Samuel 12:25 bagian pertama),--ia yang telah dihormati Allah dengan tanda-tanda kebaikan Ilahi yang sangat luar biasa sehingga hikmat dan ketulusannya mencapai kemasyhuran kebesaran dunia, ia yang telah menuntun orang-orang lain yang menyebabkan mereka menghormati Allah orang Israel itu, telah berpaling dari menyembah Yehova dan sujud di hadapan ilah-ilah orang kafir.
Ratusan tahun sebelumnya Salomo menduduki takhta kerajaan, Tuhan melihat lebih dulu akan kebinasaan yang bisa berlaku kepada barangsiapa yang mungkin terpilih sebagai pemerintah Israel, telah memberikan petunjuk kepada Musa untuk pedoman mereka. Petunjuk-petunjuk telah diberikan agar siapa yang akan duduk di atas takhta kerajaan Israel haruslah "menulis baginya salinan" hukum-hukum Yehova "menurut kitab yang ada pada imam-iman orang Lewi." "Itulah yang harus ada di sampingnya" Tuhan berfirman, "haruslah ia membacanya seumur hidupnya: untuk belajar takut akan Tuhan, Allah, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel." Ulangan 17:18-20.
Sehubungan dengan nasihat ini Tuhan khusus menaruh perhatian pada seseorang yang mungkin diurapi menjadi raja "janganlah ia mempunyai banyak istri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perak pun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak." Ayat 17.
Salomo sudah maklum akan amaran-amaran ini, dan untuk suatu jangka waktu ia melaksanakannya. Kerinduannya yang terbesar ialah hidup dan memerintah sesuai dengan ketetapan-ketetapan yang diberikan di Sinai. Tindakannya dalam mengatur urusan-urusan kerajaan sangatlah berlawanan dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa pada zamannya--bangsa-bangsa yang tidak takut akan Allah yang pemerintah-pemerintahnya menginjak-injak di bawah kakinya akan hukum-Nya yang kudus.


Dalam usaha untuk mempererat hubungan dengan kerajaan yang kuat di Selatan Israel, Salomo melakukan suatu hal yang berbahaya di atas tanah yang langka. Setan mengetahui hasil-hasil yang menyertai penurutan; dan selama tahun-tahun pertama pemerintahan Salomo--tahun-tahun cemerlang oleh karena hikmat, kebijaksanaan, dan ketulusan sang raja--Setan berusaha memasukkan pengaruh-pengaruh busuk yang dapat merusak kesetiaan Salomo terhadap asas dan menyebabkan ia terpisah dari Allah. Bahwa musuh itu berhasil dalam usahanya, kita ketahui dari catatan: "Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir, ia mengambil anak Firaun, dan membawanya ke kota Daud." 1 Raja-raja 3:1.
Dari sudut pandangan manusia, perkawinan ini, meskipun bertentangan dengan ajaran-ajaran hukum Allah, nampaknya mendatangkan berkat; oleh karena permaisuri Salomo yang kafir ini bertobat dan bersatu dengan dia dalam berbakti kepada Allah yang benar. Apalagi, Firaun menunjukkan setia kawannya kepada Israel oleh merebut Gezer, membunuh "orang-orang Kanaan yang diam di kota itu," lalu memberikan kota itu "sebagai hadiah kawin kepada anaknya, istri Salomo."  1 Raja-raja 9:16. Salomo membangun kembali kota ini dan dengan demikian menambah kebesaran kekuatan kerajaannya sepanjang pantai Laut Tengah. Tetapi dalam menjalin suatu persekutuan dengan suatu bangsa kafir, dan memeteraikan perjanjian itu oleh perkawinan dengan seorang putri penyembah berhala, Salomo dengan gegabah tidak menghargai jaminan kebijaksanaan yang Allah telah buat untuk mencapai kesucian umat-Nya. Harapan bahwa istrinya orang Mesir itu mungkin bisa bertobat hanyalah suatu dalih yang lemah terhadap dosa.
Untuk suatu jangka waktu dalam rahmat-Nya yang penuh kasihan menaklukkan kesalahan yang mengerikan ini; dan sang raja, oleh nasihat yang bijaksana, seharusnya dapat memeriksa sekurang-kurangnya luasnya akan kekuatan-kekuatan jahat yang oleh kelalaiannya telah ada dalam pekerjaan. Tetapi Salomo telah mulai kehilangan penglihatan terhadap Sumber kuasa dan kemuliaannya. Ketika kehendak hati mencapai penguasaan terhadap akal budi, maka keyakinan atas diri sendiri bertambah-tambah, dan ia berikhtiar untuk menjalankan maksud Tuhan dengan caranya sendiri. Ia mengira bahwa ikatan-ikatan dagang dan politik dengan bangsa-bangsa luar akan membawa bangsa-bangsa ini untuk mengenal akan Allah yang benar; lalu ia memasuki persekutuan yang kotor dengan bangsa demi bangsa. Banyak kali ikatan-ikatan ini dimeterai dengan perkawinan-perkawinan dengan putri-putri kafir. Perintah-perintah Yehova telah dikesampingkan demi adat istiadat bangsa-bangsa luar.
Salomo memuji dirinya sendiri bahwa hikmat dan kuasa teladannya akan memimpin istri-istrinya dari penyembahan berhala ke penyembahan akan Allah yang benar, dan bahwa ikatan-ikatan juga akan menarik bangsa-bangsa luar untuk berhubungan erat dengan Israel. Pengharapan yang sia-sia! Kesalahan Salomo yang fatal ialah menganggap dirinya cukup kuat untuk menolak sendiri pengaruh orang kafir yang menjadi sekutu-sekutunya. Dan lebih fatal lagi, ialah penipuan yang memimpin ia berharap meskipun bagian yang dikerjakannya tidak menghormati Allah, tetapi ada orang lain yang nanti memuja-muja dan menurut perintah-perintah yang kudus itu.


Ikatan-ikatan dan hubungan dagang raja dengan bangsa-bangsa kafir mendatangkan kemasyhuran, kemuliaan, dan kekayaan dunia ini kepadanya. Ia sanggup mendatangkan emas dari Ofir dan perak dari Tarsus dalam jumlah yang sangat besar. "Maka dilimpahkan baginda emas dan perak di Yerusalem seperti batu banyaknya dan pohon kayu aras pun dilimpahkannya seperti pokok ara hutan yang di tanah datar." 2 Tawarikh 1:15. Kekayaan, dengan segala pencobaan yang mengikutinya, datang pada Salomo sewaktu rakyatnya bertambah banyak; tetapi emas tabiat yang indah menjadi kotor dan suram.
Begitu pelahan kemurtadan Salomo sehingga sebelum ia menyadarinya, ia telah tersesat jauh dari Allah. Hampir tak terasa ia mulai berkurang-kurang dalam bimbingan dan berkat Ilahi, dan menempatkan keyakinan dalam kekuatannya sendiri. Sedikit demi sedikit ia terlepas dari Allah dari penurutan yang tetap yang menjadikan orang Israel suatu umat khusus, dan lama kelamaan ia menyesuaikan diri lebih rapat dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya. Menempatkan diri pada pencobaan-pencobaan yang terjadi oleh keberhasilan dan kedudukannya yang terhormat, ia melupakan Sumber daripada kemakmurannya. Suatu ambisi untuk melampaui semua bangsa lain dalam kuasa dan keagungan telah memimpin ia menyelewengkan karunia-karunia surga untuk maksud-maksud dirinya sendiri yang sampai sekarang dilakukan demi kemuliaan Allah. Uang yang seharusnya disimpan dalam perbendaharaan yang kudus untuk dimanfaatkan bagi orang-orang miskin dan untuk perluasan asas-asas kehidupan yang suci di seluruh dunia, telah diserap secara pribadi dalam proyek-proyek yang penuh ambisi.
Terpikat oleh suatu keinginan akan kuasa yang berlebih-lebihan untuk mengungguli bangsa-bangsa lain dalam pertunjukan secara luar, sang raja mengabaikan akan kebutuhan mencapai penyempurnaan dan keindahan tabiat. Dalam usaha mempermuliakan diri sendiri di mata dunia, ia menjual kejujuran dan kehormatannya. Pendapatan-pendapatannya yang tak terhitung diperoleh melalui perdagangan dengan negeri-negeri lain yang dibarengi oleh pajak-pajak yang tinggi. Dengan demikian kecongkakan, ambisi, pemborosan, dan pemanjaan diri menghasilkan kekejaman dan pemerasan. Ketelitian, roh berhati-hati yang menandai urusan-urusannya dengan orang banyak selama bagian permulaan pemerintahannya, sekarang sudah berubah. Dari pemerintah yang paling bijaksana dan penuh belas kasihan, ia merosot menjadi seorang raja yang lalim. Ia yang tadinya pelindung yang takut akan Allah dan menaruh belas kasihan terhadap orang banyak, kini menjadi penindas dan sewenang-wenang. Pajak demi pajak dipungut dari rakyat sebagai pengadaan dana untuk istana yang mewah.
Rakyat mulai mengeluh. Penghormatan dan kekaguman yang pernah ada dalam ribaan mereka bagi raja mereka telah berubah menjadi ketidakpuasan dan kebencian.
Sebagai suatu jalan yang aman menentang ketergantungan pada kekuatan manusia, Allah telah memberikan amaran bagi barangsiapa yang akan memerintah bangsa Israel janganlah memperbanyak kuda bagi dirinya sendiri. Tetapi dengan tidak mengindahkan perintah ini sama sekali, "Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari Kewe." "Kuda untuk Salomo didatangkan dari Misraim dan dari segala negeri." "Salomo mengumpulkan juga kereta dan orang berkuda, sehingga ia mempunyai seribu empat ratus kereta dan dua belas ribu orang berkuda, yang semuanya ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat raja di Yerusalem." 2 Tawarikh 1:16; 9:28; 1 Raja-raja 10:26.


Lama kelamaan raja hanya mementingkan kemewahan, pemanjaan diri, dan mengasihi dunia sebagai tanda-tanda kebesaran. Perempuan-perempuan cantik dan menarik didatangkan dari Mesir, Funisia, Edom, Moab, dan dari negeri-negeri yang lain. Ratusan banyaknya. Agama mereka menyembah berhala, dan mereka telah terlatih dengan praktik kejam dalam upacara-upacara agama yang hina. Berahi oleh karena kecantikan mereka, sang raja melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kerajaannya.
Istri-istrinya menanamkan suatu pengaruh yang kuat ke atasnya dan lama kelamaan berhasil menyeretnya bersatu dengan mereka dalam perbaktian mereka. Salomo telah mengabaikan nasihat yang diberikan Allah yang akan dipergunakan sebagai suatu benteng melawan kemurtadan, dan sekarang ia sendiri menerjunkan diri ke atas penyembahan ilah-ilah yang palsu. "Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada Allah-Allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon." 1 Raja-raja 11:4, 5.
Di atas ketinggian sebelah Selatan Gunung Zaitun berhadapan dengan Gunung Moria di mana berdirilah Bait Suci Yehova yang indah, Salomo mendirikan sederetan bangunan yang mengagumkan yang dipakai sebagai tempat-tempat keramat keberhalaan. Demi kesenangan istri-istrinya ia menempatkan patung-patung besar, yang buruk bentuknya dari batu dan kayu, di tengah-tengah sekelompok pohon zaitun dan pacar Belanda. Di sana, di depan mezbah dewa-dewa kafir, "Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon," dipraktikkanlah upacara agama kekafiran yang paling hina. Ayat 7.
Kelakuan Salomo mendatangkan hukumannya yang pasti. Perpisahannya dari Allah melalui hubungannya dengan berhala-berhala adalah kebinasaannya. Ketika ia meninggalkan kesetiaannya kepada Allah, ia kehilangan pengendalian akan dirinya sendiri. Ketangkasan moralnya telah lenyap. Perasaan halusnya yang baik menjadi tumpul, keyakinannya layu. Ia yang pada waktu permulaan pemerintahannya telah menunjukkan rasa kasihan dan kebijaksanaan yang besar dalam mengembalikan seorang bayi yang tidak berdaya kepada ibunya yang malang (lihat 1 raja-raja 3:16-28), jatuh begitu rendah sampai mengizinkan untuk mendirikan suatu berhala kepada siapa anak-anak dipersembahkan hidup-hidup sebagai korban. Ia yang pada masa mudanya selalu penuh pengertian dan pertimbangan, dan dalam kedewasaannya yang kuat telah diilhamkan untuk menuliskan, "Ada jalan yang disangka orang betul adanya, tetapi akhirnya kelak menjadi jalan kepada maut" (Amsal 14:12), di masa tuanya berpisah jauh dari kesucian dengan menunjukkan raut muka yang risau, menggalakkan upacara-upacara agama yang dihubungkan dengan penyembahan kepada dewa Kamos dan dewi Asytoret. Ia yang pada penahbisan bait suci telah berkata kepada rakyatnya, "Hendaklah kamu berpaut kepada Tuhan, Allah kita," (1 Raja-raja 8:61), ia sendiri menjadi pelanggar, di dalam hati dan hidupnya menolak kata-katanya sendiri. Ia salah mempergunakan kebebasan. Ia telah mencoba--tetapi harus membayar mahal!--untuk mempersatukan terang dengan kegelapan, yang baik dengan yang jahat, yang suci dengan yang najis, Kristus dengan Belial.


Dari salah satu raja yang terbesar yang pernah memegang tongkat kerajaan, Salomo menjadi seorang yang perisau, alat dan budak orang-orang lain. Tabiatnya, yang tadinya mulia dan teguh, menjadi lembek dan lemah. Kepercayaannya kepada Allah yang hidup telah digantikan oleh kebimbangan-kebimbangan yang tidak bertuhan. Ketidakpercayaan telah merusak kebahagiaannya, melemahkan asas-asasnya, dan memerosotkan hidupnya. Keadilan dan kemurahan hatinya pada permulaan pemerintahannya telah berubah menjadi penindasan dan kelaliman. Kasihan, korban alam kemanusiaan! Allah hanya bisa berbuat sedikit bagi manusia-manusia yang kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada-Nya.
Selama tahun-tahun kemurtadannya ini, kemerosotan kerohanian orang Israel berjalan terus-menerus. Apa jadinya nanti bila raja mereka telah menyatukan perhatiannya dengan agen-agen kesetanan? Melalui agen-agen ini musuh bekerja untuk mengacaukan pikiran orang Israel dalam hal perbaktian yang palsu dan benar, dan mereka menjadi mangsa yang empuk. Berdagang dengan bangsa-bangsa lain membawa mereka kepada hubungan akrab dengan orang-orang yang tidak mengasihi Allah, dan kasih mereka bagi-Nya telah sangat berkurang. Perasaan mereka yang tajam terhadap tabiat Allah yang tinggi dan suci, telah pudar. Dengan menolak untuk ikut dalam lorong ketaatan, mereka memindahkan kesetiaan mereka kepada musuh kebenaran. Jadilah kebiasaan mereka menikah dengan orang kafir, dan orang-orang Israel dengan cepat kehilangan rasa jijik mereka terhadap penyembahan berhala. Poligami diperkenalkan. Ibu-ibu penyembah berhala membawa anak-anak mereka untuk memelihara upacara-upacara agama kafir. Dalam kehidupan beberapa orang, upacara keagamaan yang sejati yang diperintahkan Allah, telah diganti oleh penyembahan berhala yang bercorak sangat gelap.
Orang-orang Kristen hendaknya bercerai dan memelihara perbedaan mereka sendiri dari dunia, rohnya dan pengaruh-pengaruhnya. Allah sepenuhnya sanggup memelihara kita di dunia, tetapi janganlah kita keduniawian. Kasih-Nya tidaklah goyah dan bimbang. Ia senantiasa menjaga anak-anak-Nya dengan pemeliharaan yang tak terlukiskan. Tetapi ia menuntut kesetiaan yang kukuh. "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan: Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24.
Salomo telah dilengkapi dengan hikmat yang ajaib, akan tetapi dunia menyeret dia dari Allah. Manusia sekarang tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu cenderung pamrih kepada pengaruh-pengaruh tidak lebih kuat daripadanya, mereka itu cenderung pamrih kepada pengaruh-pengaruh yang menyebabkan kejatuhannya. Sebagaimana Allah memberi amaran kepada Salomo akan bahayanya, begitu juga sekarang Ia memberikan amaran kepada anak-anak-Nya agar jangan membinasakan jiwa mereka oleh bergabung dengan dunia. "Keluarlah kamu dari antara mereka," Ia memohon, "dan pisahkanlah dirimu...dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu, dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah Firman Tuhan Yang Mahakuasa." 2 Korintus 6:17, 18.


Di tengah-tengah kemakmuran bahaya mengintai. Sepanjang zaman kekayaan dan kemuliaan telah selalu mendatangkan bahaya pada kemanusiaan dan kerohanian. Bukanlah cawan yang kosong yang sukar kita angkut, melainkan cawan yang penuh sampai di tepi yang harus dijaga keseimbangannya. Malapetaka dan kemalangan mungkin menyebabkan kesusahan, tetapi adalah kemakmuranlah yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Kecuali sifat manusia tetap ditaklukkan kepada kehendak Allah, kecuali ia disucikan oleh kebenaran, maka kemakmuran pastilah mendatangkan kecenderungan yang lazim kepada pencobaan.
Di dalam lembah kerendahan, di mana manusia bergantung pada Allah untuk mengajar mereka dan menuntun setiap langkah mereka, di sana ada kesejahteraan yang sebanding. Tetapi manusia yang berdiri, sebagaimana adanya, di atas ketinggian menara, oleh karena kedudukannya yang menyangka memiliki hikmat yang besar--orang-orang inilah yang berada dalam kebinasaan yang mematikan. Kecuali orang-orang begitu menjadikan Allah tumpuan mereka, maka pastilah tidak akan jatuh.
Bila ambisi dan kecongkakan dimanjakan, maka kehidupan dirusakkan, demi kesombongan, merasa tidak memerlukan, dan menutup hati melawan berkat-berkat dari Surga yang tak terbatas. Barangsiapa yang mempermuliakan tujuan pribadinya akan menemukan dirinya sendiri melarat terhadap rahmat Allah, yang melalui ketepatgunaannya kekayaan-kekayaan yang paling sejati dan kesukaan yang sangat memuaskan dimenangkan. Tetapi barangsiapa yang menyerahkan segala-galanya dan mengerjakan seluruhnya bagi Kristus akan mengenyam kegenapan perjanjian, "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Amsal 10:22. Dengan jamahan yang lemah lembut dari rahmat Juruselamat lenyaplah dari jiwa kenajisan dan ambisi yang tidak berkeputusan, mengubah perseteruan kepada cinta kasih dan ketidakpercayaan kepada keyakinan. Apabila Ia berbicara kepada jiwa, dengan berkata "Ikutlah Aku," maka penarikan dunia yang mempesonakan dan ambisi meninggalkan hati, dan manusia bangkit, bebas mengikuti-Nya.



4

Akibat-akibat Pendurhakaan


DI ANTARA sebab-sebab utama yang paling menonjol yang membawa Salomo kepada pemborosan dan penindasan ialah kegagalannya mempertahankan dan memelihara roh penyangkalan diri.


Musa menyampaikan kepada orang banyak perintah Ilahi itu, ketika berada di kaki gunung Sinai, "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka." Keluaran 25:8. Dan orang-orang Israel menyambutnya dengan memberikan sumbangan. "Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya," membawa persembahan. Keluaran 35:21. Untuk pembangunan bait suci sangatlah penting mengadakan persediaan secara besar-besaran dan mahal; dibutuhkan sejumlah besar bahan-bahan yang paling besar dan berharga, tetapi Tuhan hanya menerima persembahan yang suka-rela. "Dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu," adalah perintah yang diulangi Musa kepada orang banyak itu. Keluaran 25:2. Berserah kepada Allah dan roh penyangkalan diri adalah tuntutan yang pertama dalam menyediakan tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi.
Panggilan yang sama untuk mengadakan penyangkalan diri dilakukan pada waktu Daud mengalihkan tanggung jawab pembangunan bait suci. Daud bertanya kepada orang banyak yang berhimpun, "Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada Tuhan?" 1 Tawarikh 29:5. Panggilan untuk berserah dan rela memberikan persembahan ini selalu harus ada di dalam benak orang-orang yang akan bekerja dalam pembangunan bait suci.
Oleh karena pembangunan kemah sembahyang di padang belantara, dilakukan oleh orang-orang terpilih yang dikaruniai Allah kecakapan dan keahlian yang istimewa. Maka "berkatalah Musa kepada orang Israel, Lihatlah TUHAN telah menunjuk Bezaleel . . .dari suku Yehuda; dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dan segala macam pekerjaan, . . .  Dan TUHAN menanamkan dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab. . . dari suku Dan kepandaian untuk mengajar. Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan, . . .  dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan . . . .  Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian." Keluaran 35:30-35; 36:1. Kecerdasan surgawi dipadukan dengan tenaga manusia yang ahli yang dipilih Allah sendiri.
Keturunan orang-orang yang ahli ini mewarisi talenta-talenta yang luas tingkatannya sebagai anugerah pada leluhur mereka. Selama satu jangka waktu orang-orang ini sebagai keturunan Yehuda dan Dan bersikap rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri; tetapi lambat laun, hampir tidak terasa mereka kehilangan pegangan dan kerinduan melayani dengan tidak mementingkan diri sendiri pada Allah. Mereka meminta bayaran yang lebih tinggi atas pekerjaan mereka, oleh karena kelebihan mereka dalam kecakapan sebagai tenaga ahli dalam bentuk seni. Telah beberapa kali terjadi tuntutan mereka dipenuhi, tetapi lebih sering mereka kedapatan bekerja pada bangsa-bangsa di sekelilingnya. Di tempat roh penyangkalan diri yang agung yang dulu memenuhi hati para leluhur mereka sebagai leluhur teladan, mereka ketagihan dengan roh keserakahan yang suka mengeruk keuntungan terus-menerus. Untuk memenuhi keinginan mereka yang mementingkan diri sendiri, mereka memanfaatkan keahlian yang dikaruniakan Allah untuk melayani raja-raja bangsa kafir, dan meminjamkan talenta mereka untuk menyempurnakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghormati Khalik mereka.
Dari antara orang-orang inilah Salomo mencari seorang tenaga ahli untuk mengawasi pembangunan bait suci di Gunung Moria. Perincian-perincian yang lengkap, mengenai setiap bagian dari bangunan yang suci itu, dicatat, dipercayakan pada raja; dan ia dapat menengadah kepada Allah dalam iman dalam rangka mencari pembantu-pembantu yang berserah, yang telah dikaruniai keahlian istimewa untuk mengerjakan dengan teliti pekerjaan yang harus dilaksanakan. Tetapi Salomo kehilangan pandangan terhadap kesempatan untuk menjalankan iman pada Allah. Ia menyuruh utusan kepada raja Tirus untuk mencari "seorang yang ahli dalam mengerjakan emas, perak, tembaga, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan juga pandai membuat ukiran . . . di Yehuda dan di Yerusalem." 2 Tawarikh 2:7.


Raja Funisia membalas dengan mengirimkan Huram "anak seorang perempuan dari bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus." Ayat 14. Huram, dari silsilah ibunya adalah keturunan Aholiab, yang ratusan tahun sebelumnya dikaruniai Allah keahlian yang istimewa untuk pembangunan kemah sembahyang.
Dengan demikian sebagai kepala barisan tenaga kerja Salomo telah ditempatkan seorang yang semangat kerjanya tidak dibarengi dengan suatu kerinduan yang tidak mementingkan diri untuk melayani Allah. Ia berbakti pada Mamon, ilah dunia. Sifat akhlak kemanusiaannya telah ditempa dengan asas-asas mementingkan diri sendiri.
Oleh karena keahliannya yang luar biasa, Huram menuntut bayaran yang tinggi. Lama kelamaan asas-asas salah yang dianutnya berjangkit kepada pembantu-pembantunya. Sementara mereka bekerja dengan dia hari demi hari, mereka tergoda kepada kecenderungan untuk membanding-bandingkan upahnya dengan upah mereka sendiri, dan mereka kehilangan pandangan terhadap sifat pekerjaan mereka yang suci. Roh penyangkalan diri telah lenyap dari mereka, dan tempatnya telah diganti oleh roh keserakahan. Akibatnya tuntutan meminta upah yang lebih tinggi, terpaksa dipenuhi.
Pengaruh-pengaruh jahat yang terjadi dalam pekerjaan merembes ke segala cabang pekerjaan Tuhan, dan meluas ke seluruh kerajaan. Upah tinggi yang dituntut dan dipenuhi memberikan banyak kesempatan untuk menjadi ketagihan dalam bermewah-mewah dan pemborosan. Orang-orang miskin ditindas oleh orang kaya, dan roh penyangkalan diri sudah lenyap sama sekali. Akibat-akibat jauh dari pengaruh-pengaruh ini dapat dijajaki sebagai satu penyebab utama kemurtadan yang mengerikan daripada dia yang dulu pernah dinyatakan paling arif dari antara manusia yang fana.
Perbedaan yang mencolok antara semangat dan tujuan dari orang-orang yang membangun kemah sembahyang di padang belantara dan mereka yang ikut serta dalam mendirikan bait suci Salomo, mempunyai suatu pelajaran bermakna yang mendalam. Sifat mengutamakan diri sendiri yang menandai para pekerja di bait suci itu menemukan pasangannya pada dewasa ini dalam hal mementingkan diri sendiri yang memerintah di dalam dunia. Roh keserakahan, dalam mengejar kedudukan dan bayaran yang paling tinggi berada di mana-mana. Kesukaan melayani dan kerelaan menyangkal diri daripada pekerja kemah sembahyang dulu sudah jarang ditemukan. Tetapi inilah semangat satu-satunya yang harus menggerakkan para pengikut Yesus. Guru Ilahi kita telah memberikan teladan bagaimana murid-muridnya harus bekerja. Kepada barangsiapa yang dipanggilnya, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia," (Matius 4:19), Ia tidak menyatakan jumlah upah untuk pelayanan-pelayanan mereka. Mereka harus menyangkal diri dan berkorban bersama-sama.


Karena bukan upah yang kita terima sehingga kita bekerja. Di dalam maksud hati yang mengajak kita untuk bekerja bagi Allah hendaknya tidak terdapat hal yang mengutamakan diri sendiri. Suatu roh berkorban dan penyerahan yang tidak mementingkan diri akan senantiasa dan selamanya menjadi kebutuhan pertama dari pelayanan yang wajar. Tuhan dan Guru kita merancang agar tidak ada selembar benang mementingkan diri sendiri yang akan ditenunkan ke dalam pekerjaan-Nya. Kita harus memasukkan kecakapan dan keahlian, ketelitian dan pengertian ke dalam usaha-usaha kita, karena itulah yang dituntut Allah yang sempurna dari para pembangun kemah sembahyang di dunia; sehingga di dalam segala pekerjaan kita hendaklah kita mengingat bahwa bakat-bakat yang terbesar atau pelayanan yang paling mulia dapat diterima hanya apabila diri sendiri ditempatkan di atas mezbah, menjadi suatu korban hidup yang bermanfaat.
Penyimpangan lain dari asas-asas yang benar yang akhirnya memimpin pada kejatuhan Raja orang Israel ialah penyerahannya kepada pencobaan untuk mengambil bagi dirinya kemuliaan yang hanya dimiliki Allah.
Mulai pada hari Salomo mendapat kepercayaan memegang pekerjaan untuk membangun bait suci sampai pada saat penyelesaiannya, maksud yang dinyatakannya ialah, "mendirikan rumah untuk nama TUHAN, Allah orang Israel." 2 Tawarikh 6:7. Maksud ini telah dibentangkan sepenuhnya di hadapan perhimpunan besar orang-orang Israel pada waktu penahbisan bait suci itu. Dalam doanya raja maklum bahwa Yehova telah berfirman, "Nama-Ku akan tinggal di sana." 1 Raja-raja 8:29.
Salah satu bagian yang paling menggugah dari doa penahbisan Salomo adalah permohonannya untuk orang-orang asing yang akan datang dari negeri-negeri yang jauh untuk mempelajari hari hal Dia yang kemasyhuran-Nya telah tersebar luas di antara bangsa-bangsa. Raja memohon agar, "orang akan mendengar tentang nama-Nya yang teracung." Atas nama setiap orang asing yang ingin berbakti Salomo memohon: "Engkau pun kiranya mendengar, . . .  dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini." Ayat 42, 43.
Pada penutup acara itu, Salomo telah memperingatkan orang Israel agar berlaku setia dan benar pada Tuhan, agar supaya, "segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain." Ayat 60.
Yang lebih besar daripada Salomo ialah si perancang bait suci itu, hikmat dan kemuliaan Allah nyatanya berdiri di sana. Mereka yang mengenal bukti ini dengan sendirinya kagum dan memuji Salomo sebagai perencana dan pembangun, tetapi raja tidak menuntut penghormatan atas rencana dan pembangunan tersebut.
Begitulah hal yang berlangsung sampai saat Ratu Syeba datang mengunjungi Salomo. Mendengar akan kepintarannya dan kehebatan kemuliaan bait suci yang dibangunnya, ia memutuskan "hendak mengujinya dengan teka-teki" dan untuk menyaksikan sendiri hasil karyanya yang termasyhur. Datang dengan pasukan pengiring yang amat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal," ia mengadakan perjalanan jauh ke Yerusalem." Setelah ia sampai kepada Salomo, dipercakapkannyalah segala yang ada dalam hatinya." Ia berbicara kepadanya tentang rahasia-rahasia alam; dan Salomo mengajarkan kepadanya tentang Allah alam itu, Khalik yang besar, yang diam di ketinggian langit dan yang memerintah sekaliannya. "Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu: bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu." 1 Raja-raja 10:1-3; 2 Tawarikh 9:1, 2.


"Ketika ratu negeri Syeba melihat hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, . . .  maka tercenganglah ratu itu." Dan ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan mereka sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh, setengah dari hikmatmu yang besar itu belum diberitahukan kepadaku; engkau melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah orang-orangmu, dan berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu." 1 Raja-raja 10:4-8; 2 Tawarikh 9:3-6.
Sampai pada saat kunjungan berakhir ratu itu telah sepenuhnya diajar oleh Salomo bahwa sumber hikmat dan kemakmurannya yang mencengangkannya, bukan menyanjung-nyanjungkan agen manusia, tetapi menyatakan: "Terpujilah TUHAN Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran." 1 Raja-raja 10:9. Inilah kesan yang direncanakan Allah yang harus dibuat untuk semua orang. Dan ketika "semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya" (2 Tawarikh 9:23), untuk suatu jangka waktu Salomo menghormati Allah oleh menunjukkan kepada mereka dengan hormatnya akan Khalik langit dan bumi, Pemerintah semesta alam, Yang Mahabijaksana.
Sekiranya Salomo terus-menerus merendahkan diri untuk mengalihkan perhatian manusia dan ia sendiri kepada Oknum yang mengaruniakan hikmat dan kekayaan serta kemuliaan kepadanya, alangkah indah sejarahnya! Tetapi sementara pena ilham mencatat jasa-jasanya, juga harus dengan setia menyaksikan keruntuhannya. Bertumbuh dalam kebesaran yang menjulang tinggi dan dikelilingi karunia-karunia yang menguntungkan Salomo menjadi pusing, kehilangan keseimbangannya lalu jatuh. Dengan terus-menerus disanjung oleh manusia di dunia, ia akhirnya tak sanggup berdiri menghadapi kemegahan yang disodorkan kepadanya. Hikmat yang dipercayakan kepadanya agar ia boleh mempermuliakan si Pemberi memenuhinya dengan kesombongan. Akhirnya ia memperbolehkan manusia membicarakan dirinya sebagai satu orang yang paling terpuji karena kemuliaan yang tiada taranya dalam merencanakan dan mendirikan bangunan untuk penghormatan "nama TUHAN, Allah orang Israel."
Dengan demikian bait suci Yehova menjadi terkenal kepada bangsa-bangsa sebagai "bait suci Salomo." Pejabat manusia telah mengambil bagi dirinya sendiri kemuliaan yang sebenarnya adalah milik Satu "pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka." Pengkhotbah 5:7. Sampai hari inipun bait suci yang dimaklumkan Salomo, "bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini" (2 Tawarikh 6:33), sering disebut bukan sebagai bait suci Yehova, melainkan sebagai "bait suci Salomo."


Manusia tidak dapat menunjukkan kelemahan lebih besar oleh membiarkan orang-orang menganggap kemuliaan karunia-karunia yang diberikan Surga kepadanya berasal dari dia sendiri. Orang Kristen yang sejati akan menjadi Allah yang pertama dan terakhir dan terbaik di dalam segala perkara. Tidak ada niat yang ambisius yang akan mendinginkan kasih untuk Allah; dengan tetap, dengan tekun, ia akan menyatakan penghormatan yang berakhir pada Bapanya yang di surga. Adalah bila kita setia meninggikan nama Allah itu menunjukkan dorongan hati kita berada di bawah pengawasan Ilahi, dan kita disanggupkan untuk memperkembangkan kuasa rohani dan akal budi.
Yesus Guru Ilahi itu, senantiasa meninggikan nama Bapa-Nya yang di surga. Ia mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu." Matius 6:9. Dan mereka tidak akan melupakan, Engkaulah yang . . .  kemuliaan." Ayat 13. Tabib yang besar itu sangatlah berhati-hati mengarahkan perhatian dari Dia sendiri kepada Sumber kuasa-Nya, agar orang banyak yang keheran-heranan karena, "melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat," tidak mempermuliakan Dia, tetapi "mempermuliakan Allah Israel." Matius 15:31. Dalam doa ajaib yang dilayangkan Kristus tidak lama sebelum penyaliban-Nya, Ia memaklumkan, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi." Ia memohon, "permuliakanlah anak-Mu, supaya anak-Mu mempermuliakan Engkau." "Ya Bapa yang adil memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya: supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." Yohanes 17:1, 4, 25, 26.
"Beginilah Firman Tuhan, janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya: tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut, bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi: sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah Firman TUHAN." Yeremia 9:23, 24.

font kecil
"Aku akan memuji-muji nama Allah. . .
Mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur."

"Ya TUHAN dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa."

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
Allahku, dengan segenap hatiku:
Dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya."

"Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku,
Marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya."

Mazmur 69:31: Wahyu 4:11; Mazmur 86:12; 34:4

Pengenalan akan asas-asas yang menjauhkan roh berkorban dan kecenderungan kepada mempermuliakan diri sendiri, telah disertai oleh pemutarbalikan yang jahat terhadap rencana Ilahi bagi orang Israel. Allah telah merancang bahwa umat-Nya haruslah menjadi terang dunia. Dari merekalah dipancarkan kemuliaan hukum-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam praktik kehidupan. Dalam rangka penyebarluasan rancangan ini, Ia telah menetapkan bangsa pilihan itu untuk menempati suatu kedudukan yang strategis di tengah-tengah bangsa-bangsa di bumi.


Pada zaman Salomo kerajaan Israel membentang dari Hamat di Utara sampai ke Mesir di Selatan, dari Laut Tengah sampai ke sungai Efrat. Wilayah ini dilintasi jalan raya perdagangan dunia, dan kafilah dari negeri-negeri yang jauh tidak putus-putusnya hilir-mudik lewat di sini. Begitulah Salomo dan rakyatnya dikaruniai kesempatan untuk menyatakan kepada segala bangsa manusia akan tabiat Raja segala raja, dan mengajar mereka agar bertobat dan menurut Dia. Pengetahuan ini harus diberikan ke seluruh dunia. Melalui ajaran persembahan korban, Kristus akan ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, agar semuanya boleh hidup.
Ditempatkan sebagai kepala suatu bangsa yang telah dipasang sebagai mercusuar untuk bangsa-bangsa di sekitar, seharusnyalah Salomo menggunakan hikmat karunia Allah dan kuasa pengaruh menyusun dan mengatur suatu pergerakan untuk menerangi mereka yang acuh tak acuh terhadap Allah dan kebenaran-Nya. Dengan demikian orang banyak seharusnya dimenangkan menjadi setia pada perintah-perintah Ilahi, orang Israel seharusnya dapat dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang dijalankan oleh orang kafir, dan Tuhan yang mulia seharusnya dapat dihormati secara besar-besaran. Akan tetapi Salomo kehilangan pandangan terhadap maksud yang tinggi ini. Ia gagal dalam menggunakan kesempatan-kesempatan emasnya untuk menerangi mereka yang mondar-mandir melewati wilayahnya atau yang tinggal di kota-kota besar.
Roh mengabarkan Injil yang ditanam Allah di dalam hati Salomo dan di dalam hati orang-orang Israel yang benar telah diganti oleh suatu roh berdagang. Kesempatan-kesempatan yang menghasilkan kontak dengan banyak bangsa hanyalah digunakan untuk kemuliaan pribadi. Salomo berusaha memperkuat kedudukannya secara politis oleh membangun benteng kota-kota di pintu-pintu gerbang perdagangan. Ia membangun Gezer kembali, yang berdekatan dengan Yope, yang terbentang di sepanjang jalan antara Mesir dan Siria; dari Bet-Horon ke arah barat Yerusalem, menguasai lalu lintas dari jantung Yehuda menuju Gezer dan pesisir pantai; Megiddo, yang terletak di jalan kafilah dari Damaskus ke Mesir, dan dari Yerusalem ke utara; Dan "Tadmor di padang gurun" (2 Tawarikh 8:4), sepanjang jalur kafilah-kafilah dari Timur. Semua kota ini diperkuat dengan benteng. Keuntungan-keuntungan dagang dari jalan ke luar di hulu Laut Merah diikuti dengan pembuatan kapal-kapal di Ezion-Geber, . . . di tepi laut Teberau di tanah Edom. "Pelaut-pelaut yang terlatih dari Tirus, menyertai anak buah Salomo," berhasil membawa kapal-kapal ini ke "Ofir, dan mengambil emas," serta "sangat banyak kayu cendana, dan batu permata yang mahal-mahal." Ayat 18; 1 Raja-raja 9:26, 28; 10:11.

ketgam

Rumah Tuhan yang telah dibangun raja Salomo menjadi kebanggaan bangsa Israel, dan para duta besar datang mengunjungi raja yang bijaksana itu dan menyaksikan kekayaannya.




Pendapatan raja dan sebagian besar rakyatnya bertambah-tambah, tetapi harus dibayar dengan mahal! Oleh ketamakan dan penglihatan dekat dari mereka yang diberi kepercayaan memelihara sabda Allah, orang banyak yang tak terhitung jumlahnya yang lalu lalang di jalan-jalan raya itu telah dibiarkan tinggal di sana dengan tidak mempedulikan Yehova.
Perbedaan yang mencolok pada tujuan yang dikejar-kejar Salomo adalah tujuan yang diikuti Kristus ketika Ia berada di atas dunia ini. Walaupun Juruselamat memiliki "segala kuasa", Ia tidak pernah menggunakan kuasa ini untuk kemuliaan diri sendiri. Tiada impian kemenangan dunia, kebesaran dunia yang menodai kesempurnaan pelayanan-Nya bagi bangsa manusia. Ia berkata: "Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Matius 8:20. Mereka yang menyambut panggilan pada waktunya, telah memasuki pelayanan terhadap Pekerja Agung, dapat mempelajari sebaik-baiknya akan metode-metode-Nya. Ia mengambil keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang terdapat di sepanjang perjalanan di jalan raya yang besar itu.
Dalam waktu istirahat dari perjalanan-Nya yang melelahkan, Yesus tinggal di Kapernaum, yang kemudian dikenal sebagai "kota-Nya sendiri." Matius 9:1. Oleh karena terletak di jalan raya yang menghubungkan Damaskus, Yerusalem dan Mesir serta terus ke Laut Tengah, maka kota tersebut tetap menjadi pusat pekerjaan Juruselamat. Orang-orang dari negeri-negeri lain yang melewati kota ini biasanya singgah menginap. Di kota inilah Yesus bertemu dengan orang-orang dari segala bangsa dan segala tingkat kedudukan, dengan demikian pengajaran-Nya tersebar ke seluruh pelosok negeri dan negara-negara lain. Dengan keadaan ini perhatian tertuju kepada nubuatan yang menceritakan tentang Mesias, perhatian ditujukan langsung kepada Juruselamat, dan pekerjaan-Nya tersebar ke seluruh dunia.
Pada masa kini kesempatan-kesempatan untuk dapat berhubungan dengan pria dan wanita dari segala golongan dan kebangsaan adalah lebih besar daripada zaman orang-orang Israel. Walaupun biaya perjalanan telah menanjak seribu kali lipat.
Tidak berbeda dengan Kristus, pesuruh-pesuruh Yang Mahatinggi pada zaman ini harus menempatkan diri mereka dalam lintasan yang besar ini di mana mereka akan bertemu dengan orang-orang yang hilir-mudik dari segala penjuru dunia. Tidak berbeda dengan Dia, yang menggantungkan diri-Nya pada Allah, maka para pesuruh-Nya harus menebarkan benih Injil, menyatakan kepada orang-orang lain kebenaran-kebenaran Kitab Suci yang harus berakar dalam pikiran dan hati dan berpencar kepada hidup yang kekal.


Berhikmat adalah pelajaran-pelajaran di mana orang-orang Israel gagal yaitu pada tahun-tahun ketika raja dan rakyatnya berpaling dari tujuan yang tinggi atas mana mereka telah dipanggil untuk menggenapinya. Walaupun dalam kelemahan, yang mungkin berada pada titik kegagalan, orang-orang Israel Allah sekarang, menjadi wakil-wakil surga yang membangun gereja Kristus yang benar, haruslah kuat, karena di atas pundak mereka ditanggungkan kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dipercayakan kepada manusia, dan yang menjadi penuntun menyongsong hari pemberian pahala. Olehnya pengaruh-pengaruh yang sama yang berhasil mengalahkan Israel pada zaman raja Salomo memerintah, haruslah dihadapi, dengan kepala dingin. Pasukan-pasukan musuh kebenaran yang dipersenjatai dengan kuat, hanya dapat dikalahkan dengan kuasa Allah. Pertikaian yang terbentang di hadapan kita menuntut suatu roh penyangkalan diri, agar tidak berharap pada diri sendiri melainkan bergantung pada Allah saja, demi penggunaan setiap kesempatan untuk penyelamatan jiwa-jiwa. Berkat Allah akan tercurah kepada gereja-Nya apabila mereka maju dengan bersatu hati, menyatakan indahnya kesucian itu kepada dunia yang berada di dalam kegelapan dosa, sebagaimana yang dinyatakan dalam roh mengorbankan diri sama seperti Kristus, dalam meninggikan Ilahi daripada manusia, dan di dalam pelayanan kasih yang tidak mengenal lelah bagi mereka yang begitu besar kebutuhannya akan berkat Injil itu.
Bait Suci dan Penahbisannya


RENCANA yang telah lama didambakan oleh Daud untuk mendirikan sebuah bait suci bagi Tuhan, dilaksanakan oleh Salomo dengan bijaksana. Selama tujuh tahun Yerusalem dipenuhi dengan kesibukan para pekerja yang ikut serta meratakan tempat yang terpilih, membangun dinding penopang, meletakkan dasar alas yang kukuh,--"batu-batu besar, batu-batu yang mahal, dan batu-batu yang sudah dipahat,"-—dalam memotong kayu-kayu berat yang diangkut dari hutan-hutan Libanon dan dalam mendirikan rumah Allah yang sangat indah. 1 Raja-raja 5:17.
Serempak dengan penyediaan kayu dan batu, ribuan pekerja  mengerahkan tenaga mereka untuk tugas itu, yang menangani pembuatan bait suci ini dan dengan teguh maju di bawah pimpinan Hiram dari Tirus, "seorang ahli yang penuh pengertian,...pandai mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, batu, kayu, kain ungu muda, kain ungu tua, lenan halus dan kain kirmizi." 2 Tawarikh 2:13, 14.
Demikianlah pembangunan di atas Gunung Moria tanpa kegaduhan karena didirikan dengan "memakai batu-batu yang telah disiapkan di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besi pun selama pembangunan," perabot-perabot yang indah dipakai untuk menyempurnakannya sesuai dengan pola yang dianjurkan Daud kepada putranya, "segala perlengkapan itu adalah untuk rumah Allah." 1 Raja-raja 6:7; 2 Tawarikh 4:19. Kesemuanya ini termasuk mezbah pedupaan, meja roti pertunjukan, kaki dian dan pelitanya, bejana-bejana dan perkakas-perkakas yang berhubungan dengan pekerjaan pelayanan para imam di dalam tempat suci, "dari emas semuanya dari emas murni." 2 Tawarikh 4:21. Perkakas-perkakas yang disalut dengan tembaga--mezbah korban bakaran, kolam pembasuhan yang ditopang oleh dua belas ekor lembu, bokor-bokor yang kecil, dengan bejana-bejana yang lain,--"Raja menuang semuanya itu di lembah Yordan di dalam tanah liat antara Sukot dan Zereda." 2 Tawarikh 4:17. Pengadaan perlengkapan ini dibuat sebanyak-banyaknya, agar nanti tidak akan ada kekurangan.
Bangunan mewah yang mempunyai keindahan yang melebihi yang lain-lain dan kemuliaan yang tiada tandingannya adalah yang didirikan oleh Salomo dan pembantu-pembantunya bagi Allah dan kebaktian-Nya. Dihiasi dengan batu-batu permata, dikelilingi oleh ruangan-ruangan yang serba luas dengan penemuan yang luar biasa, dilengkapi dengan kayu aras berukir yang disalut dengan emas, susunan rumah sembahyang itu, dengan hiasan-hiasan gantung yang dibordir, dan dilengkapi secara mewah, adalah suatu lambang yang cocok dari gereja Allah yang hidup di atas bumi, yang sepanjang zaman telah dibangun sesuai dengan pola Ilahi, dengan bahan-bahan yang dihubungkan pada "emas, perak, batu-batu permata," "yang dipahat untuk bangunan istana." 1 Korintus 3:12; Mazmur 144:12. Untuk bait suci rohani, Kristus adalah "sebagai batu penjuru; di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." Efesus 2:20, 21.


Pada akhirnya bait suci yang direncanakan oleh Raja Daud, dan dibangun oleh putranya Salomo, selesai. "Demikianlah Salomo menyelesaikan rumah Tuhan dan istana raja, dan berhasil melaksanakan dalam rumah Tuhan dan dalam istananya segala sesuatu yang timbul dalam hatinya." 2 Tawarikh 7:11. Dan sekarang, dalam rangka menjadikan istana itu sebagai mahkota puncak Gunung Moria benar-benar terwujud, sebagaimana yang sangat diinginkan Daud, menjadi suatu tempat tinggal "bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan Allah" (1 Tawarikh 29:1), tinggal lagi upacara khidmat untuk menahbiskannya secara resmi kepada Yehova dan kebaktian-Nya.
Tempat di mana bait suci itu dibangun telah lama dianggap sebagai suatu tempat yang diasingkan. Di sinilah Abraham bapa segala orang percaya, pernah menyatakan kerelaannya untuk mengorbankan putra tunggalnya yang taat pada perintah Yehova. Di sinilah Allah membarui perjanjian berkat kepada Abraham, termasuk perjanjian Mesias yang penuh kemuliaan demi kelepasan bangsa manusia melalui pengorbanan Putra Yang Mahatinggi. Lihat Kejadian 22:9, 16-18. Di sinilah pada waktu Daud mengadakan persembahan bakaran dan persembahan-persembahan pendamaian untuk memenangkan pedang murka dari malaikat pembinasa, maka Allah telah menjawabnya dengan api dari surga. Lihat 1 Tawarikh 21. Dan sekarang, sekali lagi para penyembah Yehova hadir di sini untuk menemui Allah mereka dan membarui perjanjian kesetiaan mereka kepada-Nya.
Saat yang dipilih untuk penahbisan memang adalah saat yang sangat tepat--bulan Ketujuh ketika semua orang dari setiap pelosok kerajaan biasanya berkumpul ramai-ramai di Yerusalem untuk merayakan Pesta Pondok Daun-daunan. Pesta ini memang khusus untuk bersukaria. Pekerjaan penuaian hampir selesai dan bekerja membanting tulang pada tahun itu belum mulai, orang banyak bebas dari kekangan dan dapat memusatkan diri mereka sendiri kepada saat-saat yang suci dan pengaruh-pengaruh yang penuh kegembiraan.
Pada saat yang telah ditentukan orang Israel sebagai bangsa tuan rumah, berdatangan dari luar negeri dengan berpakaian mewah mewakili mereka yang tinggal di antara bangsa-bangsa asing, lalu berhimpun di pelataran bait suci. Pemandangan itu adalah suatu kemuliaan yang luar biasa. Salomo, dengan para ketua orang Israel dan orang-orang yang sangat berpengaruh di antara bangsa itu, yang telah kembali dari bagian lain kota itu, dari mana mereka telah membawa tabut perjanjian ke mari. Dari kemah sembahyang di atas puncak Gibeon dipindahkanlah "Kemah Pertemuan Lama, dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu" (2 Tawarikh 5:5); dan peninggalan-peninggalan daripada pengalaman-pengalaman permulaan bangsa Israel yang sangat berharga ini selama pengembaraan mereka di padang belantara dan penaklukan mereka atas tanah Kanaan, sekarang memperoleh suatu rumah yang tetap di dalam gedung yang sangat indah dan besar yang telah didirikan untuk mengganti bangunan yang kecil.


Ketika mengangkut tabut perjanjian yang berisi dua loh batu di mana oleh jari Allah sendiri dituliskan perintah-perintah Sepuluh Hukum ke bait suci, Salomo mengikuti teladan ayahnya Daud. Setiap enam langkah ia membuat persembahan korban. Dengan nyanyian dan musik dan dengan upacara kebesaran, "imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus." Ayat 7. Pada waktu mereka ke luar dari dalam tempat suci, mereka menempati tempat yang khusus bagi mereka. Para penyanyi--Suku Lewi dalam seragam lenan putih memegang ceracap, gambus dan kecapi--berdiri di sebelah timur mezbah, dan bersama mereka seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lihat ayat 12.
"Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya". Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah." Ayat 13, 14.
Menyadari akan makna awan ini, Salomo memaklumkan: "Tuhan telah memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya." 2 Tawarikh 6:1, 2.

"Tuhan itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar.
Ia duduk di atas kerub-kerub,
maka bumi goyang.
Tuhan itu maha besar di Sion,
dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.
Biarlah mereka menyanyikan syukur
bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!
........................................
"Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah
menyembah kepada tumpuan kaki-Nya!
Kuduslah Ia!"

Mazmur 99:1-5

"Salomo telah membuat sebuah mimbar tembaga yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan tingginya tiga hasta, yang ditaruhnya di halaman--; ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit." Lalu diberkatinya akan segenap sidang orang Israel. "Sedang segenap jemaah Israel berdiri." 2 Tawarikh 6:13, 3.
"Terpujilah Tuhan, Allah orang Israel," seru Salomo, yang telah menyelesaikan dengan tangan-Nya apa yang difirmankan-Nya dengan mulut-Nya kepada Daud ayahku, demikian. . . .  Aku memilih Yerusalem bagai tempat kediaman nama-Ku." Ayat 4-6.
Kemudian Salomo berlutut di atas mimbar itu, dan sambil didengar oleh orang banyak, ia menyampaikan doa penahbisannya. Mengedangkan tangannya ke langit, sementara sidang jemaat menundukkan muka mereka ke tanah, sang raja berseru: "Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu."


"Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu ini! Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kau katakan akan menjadi kediaman nama-Mu--dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarkannya dari tempat kediaman-Mu, dari surga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau mengampuni. . . .
"Apabila umat-Mu Israel terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon di hadapan-Mu di rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengar dari surga dan mengampuni dosa umat-Mu Israel dan mengembalikan mereka ke tanah yang telah kau berikan kepada mereka dan nenek moyang mereka.
"Apabila langit tertutup, sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu mereka berdoa di tempat ini dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya, sebab Engkau telah menindas mereka, maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di surga dan mengampuni dosa hamba-hamba-Mu, umat-Mu Israel,--karena Engkaulah yang menunjukkan kepada mereka jalan yang baik yang harus mereka jalani--dan Engkau kiranya memberikan hujan kepada tanah-Mu yang telah Kau berikan kepada umat-Mu menjadi milik pusaka.
"Apabila ada kelaparan di negeri ini, apabila ada penyakit sampar, hama dan penyakit gandum belalang dan belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit apa pun, lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel memanjatkan doa dan permohonan di rumah ini dengan menadahkan tangannya--karena mereka masing-masing mengenal tulahnya dan penderitaannya sendiri--maka Engkau pun kiranya mendengar dari surga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau mengampuni, dan membalas kepada setiap orang sesuai dengan segala perbuatannya, karena Engkau mengenal hatinya . . . supaya mereka takut akan Engkau dan mengikuti segala jalan yang Engkau tunjukkan selama mereka hidup di atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami.
"Juga apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari jauh oleh karena nama-Mu yang besar, tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung, dan ia datang berdoa di rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengar dari surga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel, dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini.
"Apabila umat-Mu ke luar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah mana pun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kau pilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, maka Engkau kiranya mendengar dari surga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka.


"Apabila mereka berdosa kepada-Mu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat, dan apabila sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kau pilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, maka Engkau kiranya mendengarkan dari surga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. Dan sekarang, bangunlah ya Tuhan Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya ya Tuhan Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu ya Tuhan Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud hamba-Mu itu." Ayat 14-42.
Setelah Salomo mengakhiri doanya, "apipun turun dari langit memakan habis korban bakaran dan korban-korban sembelihan itu." Para imam tidak dapat memasuki rumah Tuhan itu, karena "kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan." "Ketika segenap orang Israel melihat. . .  kemuliaan Tuhan meliputi rumah itu, berlututlah mereka di atas lantai dengan muka mereka sampai ke tanah, lalu sujud menyembah dan menyanyikan syukur bagi Tuhan; dengan berkata, "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya".
Raja bersama-sama seluruh bangsa mempersembahkan korban sembelihan di hadapan Tuhan. "Demikianlah raja dan seluruh bangsa menahbiskan rumah Allah." 2 Tawarikh 7:1-5. Selama tujuh hari orang-orang yang datang dari berbagai pelosok kerajaan, "dari jalan masuk ke Hamat sampai ke sungai Mesir," "suatu jemaat yang amat besar," mengadakan pesta bersuka ria. Minggu berikutnya digunakan oleh orang banyak yang bergembira ini untuk merayakan Pesta Pondok Daun-daunan. Pada akhir perayaan penahbisan mezbah dan pesta pondok daun bangsa itu pulang ke rumah mereka, sambil bersukacita dan bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan Tuhan kepada Daud, kepada Salomo, dan kepada orang Israel, umat-Nya." Ayat 8, 10.


ketgam
Salomo bertelut di atas mimbar, dan mendengarkan doa persembahan yang disampaikan oleh semua hadirin. Dia menadahkan kedua tangannya ke arah surga, ia memohon kemurahan Allah.




Raja telah melakukan segala-galanya dengan sekuat kuasanya untuk mengajak rakyatnya berserah dengan sepenuhnya kepada Allah dan berbakti kepada-Nya, serta membesarkan nama-Nya yang suci. Dan kini sekali lagi, sama seperti di Gibeon pada permulaan pemerintahannya, pemerintah Israel diberikan bukti akan persetujuan dan berkat Ilahi. Dalam penglihatan Tuhan menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: "Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa." Ayat 12-16.
Sekiranya bangsa Israel tetap benar di hadapan Allah, maka bangunan yang penuh kemuliaan ini akan berdiri selama-lamanya, sebagai suatu tanda sepanjang masa akan belas kasihan Allah kepada umat pilihan-Nya. "Dan orang-orang asing," Allah memaklumkan, "yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa." Yesaya 56:6, 7.
Sehubungan dengan persetujuan dan jaminan-jaminan ini, Tuhan meratakan dan meluruskan jalan kewajiban di hadapan raja. Firman-Nya: "Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu sesuai dengan perjanjian yang telah Kuikat dengan Daud, dengan berkata: Takkan terputus keturunanmu yang memerintah atas Israel." 2 Tawarikh 7:17, 18.
Sekiranya Salomo terus-menerus dalam kerendahan hati menyembah Tuhan, seluruh pemerintahannya akan dapat menggunakan suatu pengaruh yang penuh kuasa demi kebaikan terhadap bangsa-bangsa sekeliling, bangsa-bangsa yang telah terkesan dengan sangat baiknya oleh pemerintahan ayahnya Daud dan oleh kata-kata yang bijaksana serta dengan pekerjaan-pekerjaan yang sangat besar pada tahun-tahun permulaan pemerintahannya sendiri. Meninjau ke depan akan pencobaan-pencobaan mengerikan yang muncul dalam kemakmuran dan kemuliaan duniawi; Allah mengamarkan Salomo menentang kejahatan kemurtadan dan meramalkan kengerian akibat-akibat dosa. Bait suci yang indah ini sekalipun yang baru saja ditahbiskan, Firman-Nya, akan menjadi "kiasan dan sindiran di antara segala bangsa" sekiranya bangsa Israel meninggalkan "Tuhan, Allah nenek moyang mereka" lalu menyembah sujud pada berhala. Ayat 20, 22.


Dikuatkan dalam hati dan dengan kesukaan besar oleh berita dari surga, bahwa doanya demi bangsa Israel telah didengar, sekarang Salomo memasuki masa yang paling jaya dalam pemerintahannya, ketika "semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo," untuk menyaksikan cara-cara pemerintahannya dan untuk menerima pengarahan dalam rangka menangani masalah-masalah yang pelik.
Apabila orang-orang ini mengunjungi Salomo, ia mengajar mereka dari hal Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, dan mereka pulang ke tempat mereka dengan gambaran-gambaran yang lebih jelas tentang Allah orang Israel dan kasih-Nya bagi bangsa manusia. Di dalam gerakan-gerakan alam kini mereka melihat suatu ungkapan kasih-Nya dan suatu kenyataan sifat-sifat-Nya, dan banyak yang telah dipimpin untuk berbakti kepada-Nya sebagai Allah mereka.
Kerendahan hati Salomo pada saat ia mulai memangku beban negara, ketika ia mengaku di hadapan Allah, "Aku masih sangat muda" (1 Raja-raja 3:7), pertanda kasihnya akan Allah, penghormatannya yang dalam terhadap perkara-perkara Ilahi, penyangkalannya akan diri sendiri, dan pemujaannya akan Khalik yang tidak terbatas dalam segala perkara--segala ciri pembawaan ini--begitu pantas untuk diperlombakan, telah dinyatakan selama melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berbubungan dengan penyelesaian bait suci, selama mengucapkan doa penahbisan ia berlutut dalam sikap penuh kerendahan laksana seorang pengemis. Para pengikut Kristus sekarang harus berjaga-jaga menentang kecenderungan kehilangan roh menghormati dan takut akan Allah. Kitab Suci mengajar manusia bagaimana ia harus mendekati Penciptanya--dengan kerendahan hati dan rasa gentar, melalui iman pada seorang Perantara Ilahi. Sang Pemazmur mengungkapkan:

ayat lebih kecil

"Sebab Tuhan adalah yang maha besar,
Dan Raja yang besar mengatasi segala Allah. . .
Masuklah, marilah kita sujud menyembah,
Berlutut di hadapan Tuhan
yang menjadikan kita."

Mazmur 95:3-6

Baik dalam kebaktian umum atau pribadi hendaklah kita tunduk dan berlutut di hadapan Allah pada waktu kita menyampaikan permohonan kita kepada-Nya. Yesus, teladan kita, "berlutut dan berdoa." Lukas 22:41. Tentang murid-murid-Nya juga tersurat, "berlutut dan berdoa." Kisah 9:40. Paulus menyatakan, "Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa." Efesus 3:14. Dalam mengaku dosa-dosa Israel di hadapan Allah, Ezra berlutut. Lihat Ezra 9:5. Daniel "tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya." Daniel 6:11.


Penghormatan yang sejati kepada Allah diilhami oleh suatu perasaan akan kebesaran-Nya yang tak terbatas dan suatu kesadaran akan hadirat-Nya. Dengan kesadaran terhadap yang tidak tampak ini, setiap hati harus memperoleh kesan yang sangat mendalam. Saat dan tempat berdoa itu kudus, oleh karena Allah hadir di situ. Dan sementara penghormatan dinyatakan dalam sikap dan kelakuan, maka perasaan yang mengilhaminya akan diperdalam. "Nama-Nya kudus dan dahsyat," kata si pemazmur. Mazmur 111:9. Apabila malaikat-malaikat, menyebutkan nama tersebut, mereka menudungi wajah mereka. Dengan pujian kebesaran bagaimana yang harus ada pada bibir kita, kita yang sudah jatuh dan penuh dosa!
Baiklah bagi orang tua dan orang muda merenungkan kata-kata yang berasal dari Kitab Suci yang menunjukkan bagaimana seharusnya tempat yang ditandai oleh kehadiran secara istimewa dihormati. "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu," perintah-Nya kepada Musa di semak-semak yang sedang menyala, "sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Keluaran 3:5. Yakub, setelah melihat khayal dari hal malaikat berseru, "Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya."  . . .Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga." Kejadian 28:16, 17.
Begitulah dikatakan bahwa selama acara penahbisan, Salomo dalam menghormati Khalik, telah berusaha menyingkirkan dari pikiran-pikiran para hadirin akan takhyul-takhyul yang menyelebungi pikiran-pikiran orang kafir. Allah yang dari surga bukannya, seperti ilah-ilah orang kafir yang berdiam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia; namun Ia akan bertemu dengan umat-Nya oleh Roh-Nya apabila mereka hendak berhimpun di rumah yang ditahbiskan demi perbaktian pada-Nya.
Berabad-abad kemudian Paulus mengajarkan kebenaran yang sama dengan mengatakan: "Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu;  . . . supaya mereka mencari Dia, dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan kita ada." Kisah 17:24-28.

ayat kecil
"Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah Tuhan,
Suku bangsa yang dipilihnya menjadi miliknya sendiri!
Tuhan memandang dari surga,
Ia melihat semua anak manusia;
Dari tempat kediaman-Nya
Ia menilik semua penduduk bumi."
"Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga,
Dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu."
"Ya, Allah, jalan-Mu adalah kudus!
Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?
Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban
Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa."
Mazmur 33:12-14; 103:19; 77:14, 15.



Walaupun Allah tidak berdiam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, namun Ia menghormati dengan kehadiran-Nya pada perkumpulan umat-Nya. Ia telah berjanji bahwa apabila mereka datang beramai-ramai mencari-Nya, untuk mengaku dosa-dosanya, dan berdoa satu sama lain, Ia akan bertemu dengan mereka oleh Roh-Nya. Tetapi barangsiapa yang berkumpul untuk menyembah Dia haruslah membuangkan setiap kejahatan. Kecuali mereka menyembah Dia dalam roh dan kebenaran dan di dalam keindahan kesucian, maka perkumpulan mereka akan percuma. Untuk hal tersebut Tuhan berfirman, "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku." Matius 15:8, 9. Mereka yang menyembah Allah harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran: sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." Yohanes 4:23.
"Tetapi Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!" Habakuk 2:20.

ketgam

Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada malam di Gibeon, dan berfirman: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."
PARA NABI DAN RAJA


Oleh
Ellen G. White


INDONESIA PUBLISHING HOUSE
KOTAK POS 1188, BANDUNG 40011
JAWA BARAT



Judul Asli : Prophets and Kings
Terjemahan : Hans Manembu
Editor     : J. F. Manullang
Copyright @ 1997 Indonesia Publishing House
Ofset di Indonesia
Cetakan Ke ...




KATA PENGANTAR

merupakan buku kedua dari suatu seri yang terdiri atas lima buku penting yang menceritakan sejarah yang kudus. Namun, ini adalah buku yang terakhir dari seri yang ditulis, dan yang terakhir dari pekerjaan yang banyak sekali dari karunia pena Ellen G. White. Sepanjang tujuh puluh tahun ia berbicara dan menulis di Amerika dan di luar Amerika, Ny. White senantiasa memenuhi di hadapan umum makna yang lebih besar daripada peristiwa-peristiwa sejarah, mengungkapkan bahwa di dalam peristiwa-peristiwa manusia yang harus diperhatikan pengaruh-pengaruh kebenaran dan kejahatan yang tidak kelihatan -- yakni tangan Allah dan pekerjaan musuh yang besar itu.
Penulis dengan pengertian yang dalam terhadap pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan menarik tirai penutup ke samping dan menyatakan filsafat sejarah yang olehnya peristiwa-peristiwa yang silam mendapat tempat pada makna yang kekal. Ia mengungkapkan filsafat ini dalam cara yang berikut:
"Kekuatan bangsa-bangsa dan perorangan tidak terdapat pada kesempatan-kesempatan dan perlengkapan-perlengkapan (fasilitas) yang kelihatan untuk menjadikan mereka tidak terkalahkan; itu tidak terdapat pada kebesaran mereka yang disombong-sombongkan. Apa yang satu-satunya menjadikan mereka besar atau kuat ialah kuasa dan rencana Allah saja. Dengan perantaraan sikap mereka terhadap rencana-Nya, mereka sendiri menentukan nasib mereka.
"Sejarah manusia mencakup pencapaiannya, kemenangan-kemenangannya dalam peperangan, keberhasilannya dalam mendaki kebesaran duniawi. Sejarah Allah melukiskan manusia sebagaimana surga memandangnya."


Buku ini, mulai dengan hikayat tentang kejayaan pemerintahan Salomo atas Israel, suatu kerajaan yang bersatu, dengan bait suci Yehova--pusat perbaktian yang benar. Di dalam buku ini ditelusuri hal ihwal suatu bangsa pilihan dan istimewa, yang berada di persimpangan di antara setia kepada Allah dan menyembah ilah-ilah bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Dan di dalam buku ini kelihatan dengan jelas, melalui saat yang genting dalam sejarah dunia ini, peristiwa-peristiwa dramatis mengenai pertarungan sengit antara Kristus dan Setan untuk memenangkan hati dan kesetiaan manusia.
Buku ini penuh dengan penyelidikan tentang tokoh-tokoh yang mempesona--Salomo yang bijaksana, yang kepintarannya tidak dapat menahannya dari pelanggaran; Yerobeam, manusia yang membuat kebijaksanaan sendiri, dan akibat-akibat kejahatan yang mengikuti pemerintahannya; Elia yang hebat dan gagah berani; Elisa, nabi damai dan kesembuhan; Ahaz, yang penakut dan jahat; Hizkia, yang setia dan baik hati; Daniel, yang kekasih dari Allah; Yeremia, nabi yang berduka; Hagai, Zakharia dan Maleakhi, nabi-nabi pemulihan. Setelah mereka semua muncullah dalam kemuliaan kedatangan Raja, Anak Domba Allah, Anak yang tunggal itu, pada siapa lambang-lambang segala korban dapat digenapi.
Sejarah Para Nabi, buku pertama dalam seri ini, menceritakan sejarah dunia mulai dari penciptaan sampai kepada berakhirnya pemerintahan Daud; Kerinduan Segala Zaman, yakni buku yang tiga, menceritakan tentang kehidupan dan pekerjaan Kristus; buku Sejarah Para Nabi dan Raja> ini, tepat di tengah-tengah kedua buku yang di atas tadi. Buku keempat, Kisah Para Rasul, menampilkan sejarah gereja Kristen yang mula-mula, dan Peperangan Besar (The Great Controversy), buku terakhir dalam seri ini,  menyusuri cerita pertentangan pada zaman kita dan kemudian dengan urat nubuatan sampai kepada bumi yang dijadikan baru.
Riwayat tentang Para Nabi dan Raja>, telah mencapai suatu peredaran yang menyebabkan banyak kali pencetakan sejak pertama kali ditertibkan, kini dipersembahkan kepada masyarakat umum dalam bentuk yang menarik dengan penataan yang lebih baik, tetapi dengan tidak mengadakan perubahan dalam ayat atau lembaran-lembaran halamannya. Edisi baru ini dilengkapi dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik, banyak dari gambar-gambar tersebut adalah lukisan-lukisan asli yang khusus dirancang untuk pekerjaan buku ini.
Bahwa buku ini dengan pelajaran-pelajarannya yang limpah tentang iman pada Allah dan anak-Nya, Juruselamat dunia, dan cerita-cerita tentang pemeliharaan-Nya dalam kehidupan orang-orang besar pria dan wanita pada zaman Perjanjian Lama kiranya dapat memperdalam pengalaman keagamaan dan menerangi pikiran semua orang yang membacanya adalah pengharapan penerbit dan THE BOARD OF TRUSTEES OF THE ELLEN G. WHITE PUBLICATIONS.


ISI BUKU

Kata Pengantar
PENDAHULUAN -- Kebun Anggur Tuhan

BAGIAN I -- DARI KUAT MENJADI LEMAH


1. Salomo
2. Bait Suci dan Penahbisannya
3. Kebanggaan Akan Kemakmuran
4. Akibat-akibat Pendurhakaan
5. Pertobatan Salomo
6. Pecahnya Kerajaan Itu
7. Yerobeam
8. Kemurtadan Nasional

BAGIAN II -- NABI-NABI DI KERAJAAN UTARA
 9. Elia Orang Tisbe
10. Suara Teguran yang Keras
11. Karmel
12. Dari Yizreel ke Horeb
13. "Apakah Kerjamu di Sini?"
14. "Dalam Roh dan Kuasa Elia"
15. Yosafat
16. Jatuhnya Keluarga Ahab
17. Elisa Dipanggil
18. Menyehatkan Air
19. Nabi Damai
20. Naaman
21. Akhir Pekerjaan Elisa
22. "Niniwe, Kota yang Besar Itu"
23. Tawanan Asyur
24. "Dibinasakan Sebab Kurang Pengetahuan"

BAGIAN III -- SEORANG PENGKHOTBAH KEBENARAN
25. Panggilan Yesaya
26. "Pandanglah Allahmu
27. Ahas
28. Hizkia
29. Para Duta dari Babel
30. Kelepasan Dari Asyur
31. Pengharapan Bagi Orang Kafir

BAGIAN IV -- PEMBALASAN NASIONAL
32. Manasye dan Yosia
33. Kitab Undang-undang
34. Yeremia
35. Mendekati Malapetaka
36. Raja Yehuda yang Terakhir
37. Ditawan ke Babel
38. Terang Dalam Kegelapan

BAGIAN V -- DI NEGERI-NEGERI ORANG KAFIR
39. Di Istana Babel
40. Mimpi Nebukadnezar
41. Dapur Api yang Menyala-nyala
42. Kebesaran Sejati
43. Pengawal yang Tak Kelihatan
44. Dalam Gua Singa

BAGIAN VI -- SESUDAH PEMBUANGAN


45. Kembali dari Pembuangan
46. "Nabi Allah Menolong Mereka"
47. Yosua dan malaikat
48. "Bukan Dengan Keperkasaan dan Bukan Dengan Kekuatan"
49. Zaman Ratu Ester
50. Ezra, Imam dan Ahli Kitab
51. Suatu Kebangunan Rohani
52. Manusia Dengan Kesempatan
53. Para Pembangun di Tembok
54. Suatu Teguran Terhadap Tebusan
55. Persekongkolan Orang Kafir
56. Dinasihati Dengan Hukum Allah
57. Pembaruan

BAGIAN VII -- TERANG WAKTU SENJA
58. Kedatangan Seorang Pembebas
59. Rumah Israel
60. Khayal-khayal Tentang Kemuliaan yang Akan Datang


Kebun Anggur Allah

BAHWA maksud Allah memanggil Abraham ke luar dari antara bangsanya yang menyembah berhala dan menyuruhnya berdiam di tanah Kanaan adalah untuk mendatangkan karunia-karunia surga yang paling baik bagi segala bangsa di bumi. Ia berfirman, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat." Kejadian 12:2. Panggilan kepada Abraham itu adalah suatu kehormatan yang tinggi--untuk menjadi leluhur bangsa yang akan menjadi penjaga-penjaga dan pemelihara kebenaran Allah selama berabad-abad bagi dunia, bangsa yang olehnya seluruh bangsa di bumi akan diberkati di dalam menunggu kedatangan Mesias yang dijanjikan itu.
Manusia sudah hampir kehilangan pengetahuan akan Allah yang benar. Pikiran-pikirannya telah digelapkan oleh penyembahan berhala. Hukum Taurat itu adalah "kudus, benar dan baik" (Roma 7:12), manusia telah berusaha mengganti hukum-hukum yang serasi dengan maksud-maksud hatinya yang mementingkan diri sendiri dan kejam. Namun Allah dalam rahmat-Nya tidaklah menghapus manusia sampai lenyap. Ia bermaksud memberikan kesempatan kepada manusia untuk berkenalan dengan Dia melalui gereja-Nya. Bahwa asas-asas yang dirancang-Nya yang dinyatakan melalui umat-Nya haruslah berarti pemulihan peta normal Allah pada manusia.
Hukum Allah harus diagungkan, kekuasaan-Nya mesti ditegakkan dan pekerjaan besar dan mulia ini diserahkan ke atas isi rumah Israel. Allah memisahkan mereka dari dunia, agar Ia boleh menjadikan mereka suatu badan yang suci. Ia menjadikan mereka tempat menaruh hukum-Nya, dan ia bermaksud melalui mereka pengetahuan tentang Dia sendiri dipelihara di antara manusia. Dengan demikian terang dari surga dipancarkan ke suatu dunia yang diselubungi kegelapan dan suatu suara yang memanggil segala bangsa agar berpaling dari penyembahan berhala untuk melayani Allah yang hidup, hendaknya kedengaran.
"Dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat," Allah membawa umat pilihan-Nya ke luar dari tanah Mesir. Keluaran 32:11. "Diutus-Nya Musa, hamba-Nya, dan Harun yang telah dipilih-Nya; keduanya mengadakan tanda-tanda-Nya di antara mereka, dan mukjizat-mukjizat di tanah Ham." "Dihardik-Nya Laut Teberau, sehingga kering, dibawa-Nya mereka berjalan melalui samudera raya." Mazmur 105:26, 27; 106:9. Dilepaskan-Nya mereka dari negeri perhambaan, agar Ia boleh membawa mereka ke suatu tanah yang indah, suatu tanah yang Ia telah sediakan sebagai jaminan-Nya melepaskan mereka dari musuh-musuhnya. Ia akan menghantar mereka datang kepada-Nya sendiri dan memagari mereka dengan tangan-tangan-Nya yang kekal; dan sebagai imbalan atas kebaikan dan belas kasihan-Nya mereka akan meninggikan dan mempermuliakan nama-Nya di dalam dunia.


"Tetapi bagian Tuhan ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. Laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada Allah asing menyertai dia." Ulangan 32:9-12. Begitulah Ia membawa bangsa Israel kepada-Nya sendiri, agar mereka boleh berlindung di bawah naungan Yang Mahatinggi. Beroleh perlindungan dari mara bahaya dalam pengembaraan di padang belantara secara ajaib, akhirnya mereka bermukim di tanah Perjanjian sebagai suatu bangsa pilihan.
Dengan suatu kiasan, Yesaya telah mengisahkan dengan kesedihan yang mengharukan hikayat panggilan dan pendidikan bangsa Israel untuk berdiri di dunia sebagai wakil-wakil Allah, yang berbuah-buah dalam setiap kebajikan:
"Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik." Yesaya 5:1, 2.
Melalui bangsa pilihan, Allah bermaksud mendatangkan berkat bagi segala bangsa manusia. Nabi itu menyatakan, "sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya." Yesaya 5:7.
Bagi bangsa ini berlakulah sabda Allah. Mereka dipagari oleh perintah-perintah hukum-Nya, asas-asas kebenaran, keadilan, dan kesucian. Mentaati asas-asas ini adalah perlindungan mereka, karena itulah yang akan menyelamatkan mereka dari kebinasaan mereka sendiri oleh perbuatan-perbuatan yang penuh dosa. Dan sebagai menara di dalam kebun anggur, Allah menempatkan di tengah-tengah tanah itu bait suci-Nya.
Kristus adalah penasihat mereka. Ia tetap menjadi guru dan pemimpin mereka sebagaimana Ia telah menyertai mereka di padang belantara. Kemuliaan-Nya berdiam di dalam Shekinah kudus di atas tutup pendamaian dalam tempat kudus dan bait suci. Demi kepentingan mereka Ia senantiasa menyatakan kelimpahan kasih sayang-Nya. Maksud Allah telah dipaparkan di hadapan mereka dan syarat-syarat kemakmuran mereka dijelaskan melalui Musa. "Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya."
"Engkau telah menerima janji daripada Tuhan pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya dan mendengarkan suara-Nya. Dan Tuhan telah menerima janji daripadamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya." Ulangan 7:6; 26:17-19.


Anak-anak Israel akan menduduki seluruh wilayah yang Allah tetapkan bagi mereka. Bangsa-bangsa yang menolak menyembah dan berbakti kepada Allah yang benar tidak akan memiliki apa-apa. Namun adalah maksud Allah bahwa oleh kenyataan tabiat-Nya melalui bangsa Israel manusia harus ditarik datang kepada-Nya. Undangan Injil hendaknya diberikan ke seluruh dunia. Melalui ajaran pelayanan dan pengorbanan, Kristus akan ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, dan semua yang memandang kepada-Nya akan hidup. Semua seperti Rahab orang Kanaan dan Rut orang Moab, yang berbalik dari penyembahan berhala untuk berbakti kepada Allah yang benar, mereka sendiri akan dipersatukan dengan umat pilihan-Nya. Apabila jumlah orang Israel makin bertambah banyak, mereka harus memperluas perbatasan tanahnya sampai kerajaan mereka merangkul dunia.
Akan tetapi bangsa Israel purba tidak memenuhi maksud Allah. Tuhan menyatakan: "Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar?" "Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah." "Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu. Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggota yang baik, mengapa yang dihasilkannya buah anggur yang asam? Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh putri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. Sebab . . . dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran." Yeremia 2:21; Hosea 10:1; Yesaya 5:3-7.
Melalui Musa, Tuhan telah memaparkan di hadapan umat-Nya akibat-akibat ketidaksetiaan. Oleh menolak memelihara perjanjian-Nya, mereka sendiri menghentikan kehidupan yang diberikan Allah, dan berkat-Nya tak bisa dicurahkan ke atas mereka. Ada sesekali amaran-amaran ini ditaati, sehingga berkat-berkat yang limpah tercurah kepada bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa sekelilingnya turut diberkati melalui mereka itu. Tetapi di dalam sejarah mereka lebih sering melupakan Allah dan kehilangan pandangan terhadap kedudukan mereka yang tinggi sebagai wakil-wakil-Nya. Dari pelayanan yang Ia tuntut dari mereka, mereka merampok-Nya, lalu mereka merampas pimpinan keagamaan dan teladan kesucian dari sesamanya manusia. Mereka ingin mengambil bagi mereka sendiri buah-buah kebun anggur yang telah dipercayakan kepada mereka untuk menjaganya. Keserakahan dan kerakusan mereka menyebabkan mereka dihina sampai oleh orang-orang kafir pun. Dengan demikian dunia kafir telah diberi kesan untuk salah menafsirkan sifat Allah dan undang-undang kerajaan-Nya.


Dengan hati seorang ayah, Allah betah tinggal bersama umat-Nya. Ia membujuk mereka oleh rahmat yang diberikan dan rahmat yang ditarik kembali. Dengan sabarnya Ia membentangkan dosa-dosa mereka di hadapan mereka dan dengan tekunnya menunggu keinsafan mereka. Para nabi dan pesuruh telah diutus untuk menyatakan tuntutan-Nya kepada para penjaga kebun anggur, tetapi orang-orang yang mempunyai kuasa dan ketajaman kerohanian ini gantinya disambut malahan diperlakukan sebagai musuh. Mereka dianiaya dan dibunuh oleh para penjaga kebun anggur itu. Allah masih tetap mengutus pesuruh-pesuruh lain, tetapi mereka mendapat perlakuan yang sama seperti yang terdahulu, tetap saja para penjaga kebun itu lebih menunjukkan kebencian yang menjadi-jadi.
Uluran tangan kemurahan hati Ilahi selama jangka waktu Pembuangan membuat banyak yang bertobat, namun setelah mereka kembali ke Tanah Perjanjian, bangsa Yahudi mengulangi kesalahan-kesalahan generasi-generasi sebelumnya dan menyeret mereka sendiri ke dalam pertikaian politik dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Nabi-nabi yang dikirim Allah untuk memperbaiki kejahatan-kejahatan yang sedang diperbuat, telah diterima dengan kecurigaan dan cemoohan sesuai dengan apa yang terjadi pada pesuruh-pesuruh sebelumnya, maka dengan demikian dari abad ke abad para penjaga kebun anggur menimbun kesalahan mereka.
Anggur yang baik telah ditanam oleh Petani Ilahi di atas bukit-bukit Palestina tetapi telah diremehkan oleh orang-orang Israel dan yang akhirnya menghancurkan pagar tembok kebun anggur itu; mereka merusak dan menginjak-injaknya di bawah kaki mereka dan berharap bahwa mereka telah membinasakannya untuk selama-lamanya. Pemilik kebun itu memindahkan anggurnya dan menyembunyikannya dari penglihatan mereka. Ia menanamkannya kembali, tetapi di dalam cara yang sedemikian rupa dan di bagian lain dari tembok itu sehingga rumpunnya tidak lama sudah kelihatan. Cabang-cabangnya bergantungan di atas tembok, dan cangkokan dapat dilakukan ke dalamnya, tetapi batangnya sendiri telah ditanam di luar batas bahaya atau jangkauan kuasa manusia.
Sebagai penilaian istimewa bagi Gereja Allah di atas dunia sekarang--yang menjadi penjaga-penjaga kebun anggur-Nya--ialah pekabaran-pekabaran nasihat dan teguran yang diberikan melalui para nabi yang telah menerangkan sejelas-jelasnya akan maksud-Nya yang kekal demi keselamatan bangsa manusia. Kasih-Nya bagi bangsa yang telah hilang dan rencana-Nya untuk keselamatan mereka dengan jelas telah dinyatakan di dalam ajaran-ajaran para nabi. Hikayat panggilan Israel, akan sukses dan kegagalan mereka, akan pemilihan mereka kepada kebaikan Ilahi, akan penolakan mereka terhadap Tuan kebun anggur, dan akan hal membawa rencana zaman berzaman oleh suatu umat sisa yang terpilih di mana pada merekalah segala perjanjian yang dijanjikan akan digenapi--inilah tema utusan-utusan Allah kepada gereja-Nya selama berabad-abad yang telah berlalu. Kini pekabaran Allah bagi gereja-Nya--ialah mereka yang menjadi para penggarap kebun anggur-Nya sebagai penjaga-penjaga kebun yang setia--tidak lain daripada yang telah disabdakan melalui nabi dahulu:
"Pada waktu itu akan dikatakan: Bernyanyilah tentang kebun anggur yang elok! Aku, Tuhan, penjaganya; setiap saat aku menyiraminya. Supaya jangan orang mengganggunya, siang malam Aku menjaganya." Yesaya 27:2, 3.


Biarlah Israel berharap pada Allah. Sekarang Tuan kebun anggur itu sedang mengumpulkan dari antara segala bangsa manusia buah-buah yang tak ternilai harganya yang telah lama ditunggu-tunggu-Nya. Segera Ia akan datang kepada milik-Nya; dan pada hari yang berbahagia itu akhirnya maksud-Nya yang kekal digenapi bagi isi rumah Israel. "Pada hari-hari yang akan datang, Yakub akan berakar, Israel akan berkembang dan bertunas dan memenuhi muka bumi dengan hasilnya." Ayat 6.







DARI KUAT MENJADI LEMAH




"Beginilah Firman Tuhan: 'Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku.'" Yeremia 9:23, 24.



1
SALOMO

DI DALAM pemerintahan Daud dan Salomo, bangsa Israel menjadi kuat di antara bangsa-bangsa dan mempunyai banyak kesempatan untuk menggunakan suatu pengaruh yang hebat dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan. Nama Yehova ditinggikan dan dihormati, dan maksud mendudukkan bangsa Israel di Tanah Perjanjian secara pantas menemui kegenapannya. Rintangan-rintangan telah dihancurkan, dan mereka yang datang dari negeri-negeri kafir untuk mencari kebenaran tidak pulang dengan tangan hampa. Pertobatan-pertobatan berlangsung, dan gereja Allah di atas dunia menjadi besar dan makmur.
Salomo diurapi dan diumumkan sebagai raja pada tahun-tahun terakhir dari ayahandanya Daud, yang dengan senang hati menyerahkan takhta kerajaannya. Permulaan kehidupannya semarak oleh perjanjian dan adalah maksud Allah agar ia maju makin lama makin bertambah kuat dari kemuliaan kepada kemuliaan, senantiasa mendekati kesamaan sifat-sifat Allah, dan dengan demikian memberi ilham kepada umat-umat-Nya untuk memenuhi kepercayaan mereka yang kudus sebagai penjaga-penjaga kebenaran Ilahi.
Daud mengetahui bahwa maksud Allah yang agung bagi bangsa Israel hanya dapat dicapai apabila pemimpin-pemimpin dan orang banyak itu berusaha dengan kewaspadaan yang tak terhingga untuk mencapai standar yang dicanangkan di hadapan mereka. Ia mengetahui supaya putranya Salomo dapat memenuhi kepercayaan atas mana Allah berkenan untuk menghormatinya, pemimpin yang masih muda ini hendaknya bukanlah hanya seorang tentara, seorang negarawan, dan seorang pemerintah, tetapi seorang yang kuat, yang baik, seorang guru kebenaran, suatu contoh kesetiaan.


Dengan ketekunan yang lemah lembut Daud menggembleng Salomo menjadi mulia dan gagah perkasa, untuk menunjukkan belas kasihan dan keramahan kepada rakyatnya, dan di dalam segala urusannya dengan bangsa-bangsa di bumi hendaknya menghormati dan memuliakan nama Allah serta menyatakan indahnya kesucian. Melalui pengalaman-pengalaman luar biasa dan banyak pencobaan yang Daud telah lalui selama hidupnya telah mengajarinya akan nilai karya-karya yang lebih mulia dan ini membuat ia pada saat kematiannya menyatakan kepada Salomo: "Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah." 2 Samuel 23:3, 4.
Oh, alangkah suatu kesempatan yang indah bagi Salomo! Apabila ia mengikuti petunjuk ayahnya yang diilhamkan Ilahi, maka pemerintahannya akan menjadi suatu pemerintahan kebenaran, seperti yang digambarkan di dalam Mazmur pasal tigapuluh dua:
"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putra raja! Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras! Kiranya lanjut umurmu selama ada matahari, dan selama ada bulan, turun-temurun! Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi! Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi! Kiranya penghuni padang belantara berlutut di depannya, dan musuh-musuhnya menjilat debu; kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin. Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka mahal di matanya. Hiduplah ia! Kiranya dipersembahkan kepadanya emas Syeba! Kiranya ia didoakan senantiasa, dan diberkati sepanjang hari! Biarlah tanaman gandum berlimpah-limpah di negeri, bergelombang di puncak pegunungan; biarlah buahnya mekar bagaikan Libanon, bulir-bulirnya berkembang bagaikan rumput di bumi. Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia. Terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri! Dan terpujilah kiranya nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin."



Di masa mudanya Salomo menjadikan pilihan Daud menjadi pilihannya, dan bertahun-tahun ia berjalan dengan tulus hati, kehidupannya ditandai dengan penurutan yang teguh kepada perintah-perintah Allah. Pada permulaan masa pemerintahannya ia bersama dengan para penasihatnya pergi ke Gibeon, di mana kemah sembahyang dulu didirikan di padang belantara, di sanalah ia bersatu dengan para penasihatnya yang terpilih, "kepala-kepala pasukan seribu dan pasukan seratus," "para hakim," dan semua pemimpin di seluruh Israel, yaitu "para kepala puak," untuk mengadakan persembahan korban kepada Allah dan untuk menyerahkan diri mereka sendiri sepenuhnya pada pelayanan Tuhan. 2 Tawarikh 1:2. Mengerti akan sesuatu yang besar terhadap tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai raja, Salomo mengetahui bahwa mereka yang memikul tanggungan yang berat harus mencari Sumber Hikmat untuk mendapat tuntunan, jikalau mereka mau memenuhi kewajiban-kewajiban mereka dengan sebaik-baiknya. Inilah yang membuat ia mendesak para penasihatnya agar sehati besertanya dalam memastikan penerimaan mereka pada Tuhan.
Di atas setiap harta dunia, sang raja merindukan hikmat dan pengertian guna penyelesaian pekerjaan yang telah diamanatkan Tuhan kepadanya untuk diperbuat. Ia menginginkan ketangkasan pikiran, demi kelapangan dada, dan Roh yang lemah lembut. Pada malam itu Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam suatu mimpi dan berfirman: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Dalam jawabannya pemimpin yang muda dan belum berpengalaman ini mengutarakan perasaan ketidaberdayaannya dan kerinduannya akan pertolongan". Ia berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau, dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.

ketgam

Setelah dibangun mezbah Tuhan di Gibeon, Salomo mempersembahkan korban bakaran, dan dia memohon dalam doanya kepada Tuhan agar diberikan kepadanya hikmat dan pengertian.

"Maka sekarang, ya Tuhan Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kau pilih, suatu umat yang besar yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?
"Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian."


Berfirmanlah Allah kepada Salomo: "Oleh karena itu yang kau ingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku," maka sesungguhnya, Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau tidak ada seorang pun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan," "sehingga sepanjang umurmu tak akan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja.
"Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu." 1 Raja-raja 3:5-14: 2 Tawarikh 1:7-12.
Allah berjanji bahwa sebagaimana Ia telah menyertai Daud, begitu juga Ia akan menyertai Salomo. Jikalau raja mau berjalan dengan tulus ikhlas di hadapan Tuhan, jikalau ia mau melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka takhta kerajaannya akan berdiri dan pemerintahannya akan benar-benar mengangkat bangsa Israel sebagai "suatu umat yang bijaksana dan berakal budi," sebagai terang bagi bangsa-bangsa di sekelilingnya. Ulangan 4:6.
Bahasa yang dipakai oleh Salomo ketika sembahyang kepada Allah di depan mezbah tua di Gibeon menyatakan kerendahan hatinya dan kerinduannya yang teguh untuk menghormati Allah. Ia menyadari bahwa tanpa pertolongan Ilahi ia tidak berdaya seperti seorang anak kecil untuk menunaikan tanggung jawab yang berada di atas pundaknya. Ia mengetahui bahwa ia tidak memiliki cukup keterampilan, maka suatu perasaan akan kebutuhannya yang besar membawa ia mencari Allah agar memperoleh hikmat. Tak ada perasaan mementingkan diri sendiri di dalam hatinya untuk mencari pengetahuan yang akan mengangkat dia lebih tinggi daripada orang-orang lain. Ia ingin dengan setia menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, maka ia memilih karunia yang bermakna yang dapat menyebabkan pemerintahannya menghasilkan kemuliaan bagi Allah. Salomo tidak pernah akan begitu kaya atau begitu arif atau begitu besarnya sekiranya ia tidak mengaku, "Aku masih sangat muda dan belum berpengalaman."
Pada zaman ini barangsiapa yang menempati jabatan-jabatan yang dipercayakan haruslah berusaha mempelajari pelajaran yang diajarkan oleh doa Salomo. Makin tinggi jabatan yang ditempati oleh seseorang, makin besarlah tanggung jawab yang harus dipikulnya, makin luaslah pengaruh yang digunakannya dan makin besarlah keperluannya bergantung pada Allah. Hendaklah senantiasa ia mengingat bahwa dengan adanya panggilan untuk bekerja datanglah panggilan untuk berjalan dengan berhati-hati di hadapan sesamanya manusia. Ia harus berdiri di hadapan Allah di dalam sikap seorang pelajar. Jabatan tidak memberikan kesucian tabiat. Adalah oleh menghormati Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya yang sesungguhnya membuat seseorang menjadi besar.


Allah yang kita sembah itu tidak memandang rupa orang. Ia yang mengaruniakan Roh bijaksana yang terampil kepada Salomo rela membagikan berkat yang sama kepada umat-Nya pada masa kini. Firman-Nya menyatakan: "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah,--yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--maka hal itu akan diberikan kepadanya. Yakobus 1:5. Bila seorang yang memikul tanggung jawab merindukan hikmat lebih daripada merindukan kekayaan, kuasa, atau kemasyhuran, ia tidak akan dikecewakan. Orang itu akan belajar dari sang Guru Besar bukan saja apa yang akan diperbuat, tetapi bagaimana mengerjakannya di dalam cara yang akan mendapat persetujuan Ilahi.
Orang yang telah dilengkapi Allah dengan keterampilan dan kesanggupan selama ia tetap berserah, tidak akan menyatakan suatu keinginan untuk menduduki jabatan yang tinggi, juga tidak akan memerintah atau mengawasi. Untuk kepentingan manusia harus memikul tanggung jawab; tetapi gantinya mencari kebesaran, ia yang mau menjadi seorang pemimpin yang benar akan meminta doa agar memperoleh suatu hati yang berakal budi, untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat.
Jalan orang-orang yang diangkat sebagai pemimpin-pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah. Karena mereka harus melihat suatu panggilan dalam setiap kesulitan untuk berdoa. Mereka tidak pernah akan gagal apabila meminta pengarahan dari Sumber besar segala hikmat. Dikuatkan dan diterangi oleh Pekerja Kepala, mereka akan disanggupkan untuk berdiri teguh melawan pengaruh-pengaruh yang najis dan dapat membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang jahat. Mereka akan menerima apa yang disetujui Allah, dan akan bergumul dengan sungguh-sungguh menentang asas-asas salah yang diperkenalkan kepada kehendak-Nya.
Hikmat di atas kekayaan, kemuliaan, atau umur panjang yang didambakan Salomo, dikaruniakan Allah kepadanya. Kerinduannya untuk memperoleh pikiran yang cerdas, akal yang luas, dan suatu Roh yang lemah lembut memang diperolehnya. "Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang... sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya." 1 Raja-raja 4:29-31.
"Dan seluruh orang Israel  . . .takut kepada raja: sebab mereka melihat, bahwa hikmat daripada Allah ada dalam hatinya, untuk melakukan keadilan. 1 Raja-raja 3:28. Hati orang banyak diarahkan kepada Salomo, sebagaimana yang mereka telah lakukan kepada Daud, dan mereka taat kepadanya dalam segala perkara. "Salomo . . . menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja; Tuhan, Allahnya, menyertai dia dan menjadikan kekuasaannya luar biasa besarnya. 2 Tawarikh 1:1.
Bertahun-tahun lamanya kehidupan Salomo ditandai dengan penyerahan kepada Allah, dengan keikhlasan dan asas yang teguh, serta dengan penurutan yang tegas akan perintah-perintah Allah. Ia memimpin dalam setiap perusahaan yang penting dan mengelola dengan cermat urusan-urusan usaha yang berhubungan dengan kerajaan. Hikmat dan kekayaannya, bangunan-bangunan luar biasa dan pekerjaan umum yang ia dirikan selama tahun-tahun permulaan pemerintahannya, tenaga, kesalehan, keadilan, dan keluhuran budi yang ia tunjukkan dalam perkataan dan perbuatan memenangkan kesetiaan rakyatnya dan kekaguman serta penghormatan para pemerintah dari banyak negara.


Nama Yehova sangatlah dihormati selama bagian yang pertama masa pemerintahan Salomo. Kebijaksanaan dan kebenaran yang dinyatakan oleh raja membawa kesaksian kepada segala bangsa akan keagungan dan kebesaran Allah yang disembahnya. Untuk suatu masa bangsa Israel menjadi terang dunia, yang menyatakan kebesaran Tuhan Allah. Bukan di dalam hikmat yang berlebihan, kekayaan yang berlimpah-limpah dan kuasa yang tak terbatas serta kemasyhuran yang dimilikinya, terletak kemuliaan sejati permulaan pemerintahan Salomo; tetapi di dalam kemuliaan yang ia bawa kepada nama Allah orang Israel melalui pemakaian yang bijaksana akan karunia-karunia Surga.
Sementara tahun-tahun berlalu dan kemasyhuran Salomo bertambah-tambah, ia berusaha menghormati Allah oleh menambah kekuatan pikiran dan kerohanian, dan oleh membagikan berkat-berkat yang ia terima kepada orang-orang lain terus-menerus. Tak ada yang mengerti lebih baik daripadanya bahwa melalui kemurahan Tuhan Allah ia telah mencapai kuasa kedudukan dan hikmat kebijaksanaan, dan bahwa karunia-karunia ini diberikan agar ia boleh memberikan kepada dunia pengetahuan Raja atas segala Raja.
Salomo mengambil suatu perhatian khusus dalam sejarah alam, tetapi risetnya tidak saja terbatas pada suatu cabang pelajaran. Melalui suatu penyelidikan yang tekun terhadap seluruh ciptaan, baik benda hidup maupun benda mati, ia memperoleh suatu konsep yang jelas terhadap Khalik. Di dalam kekuatan alam, di dalam mineral dan dunia hewan, dan di dalam setiap pohon, semak dan kembang, ia melihat kenyataan hikmat Allah, dan bila ia berusaha mempelajari lebih banyak lagi, pengetahuannya terhadap Allah dan kasihnya bagi-Nya dengan tetus bertambah-tambah.
Hikmat kebijaksaan Salomo yang diilhamkan Ilahi nyatanya terdapat dalam Mazmur dan pujian dan di dalam amsal yang banyak. "Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima. Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan." 1 Raja-raja 4:32, 33.
Amsal Salomo berpedoman pada asas-asas kehidupan suci dan ikhtiar yang tinggi, asas-asas yang berasal dari surga yang memimpin kepada Ketuhanan, asas-asas yang harus mengendalikan setiap tindakan daripada kehidupan. Adalah penyebaran yang meluas akan asas-asas ini, dan pengenalan akan Allah sebagai Satu Oknum yang harus dipuji dan dihormati oleh semua orang, yang membuat permulaan pemerintahan Salomo, suatu zaman moral ditinggikan sebagaimana kemakmuran materi.
Ia menuliskan: "Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga daripada permata; apa pun yang kau inginkan tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia." Amsal 3:13-18.
"Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian." Amsal 4:7. "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan." Mazmur 111:10. "Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." Amsal 8:13.


Oh, sekiranya pada tahun-tahun terakhir Salomo mengindahkan kata-kata hikmat yang ajaib ini! Oh, sekiranya ia yang mengatakan, "Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan" (Amsal 15:7), dan ia yang telah menggurui raja-raja di bumi untuk memperuntukkan pujian kepada Raja segala raja yang mereka ingin untuk berikan kepada seorang pemerintah duniawi, maka tidak pernah ia akan dengan mulut yang mengadakan bencana dalam "kecongkakan dan kemegahan," serta mengambil kemuliaan itu bagi dirinya sendiri yang seharusnya hanya untuk Allah sendiri!