Bait Suci dan Penahbisannya
RENCANA yang telah lama
didambakan oleh Daud untuk mendirikan sebuah bait suci bagi Tuhan, dilaksanakan
oleh Salomo dengan bijaksana. Selama tujuh tahun Yerusalem dipenuhi dengan
kesibukan para pekerja yang ikut serta meratakan tempat yang terpilih,
membangun dinding penopang, meletakkan dasar alas yang kukuh,--"batu-batu
besar, batu-batu yang mahal, dan batu-batu yang sudah dipahat,"-—dalam
memotong kayu-kayu berat yang diangkut dari hutan-hutan Libanon dan dalam
mendirikan rumah Allah yang sangat indah. 1 Raja-raja 5:17.
Serempak dengan penyediaan kayu
dan batu, ribuan pekerja mengerahkan
tenaga mereka untuk tugas itu, yang menangani pembuatan bait suci ini dan
dengan teguh maju di bawah pimpinan Hiram dari Tirus, "seorang ahli yang
penuh pengertian,...pandai mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, batu, kayu,
kain ungu muda, kain ungu tua, lenan halus dan kain kirmizi." 2 Tawarikh
2:13, 14.
Demikianlah pembangunan di atas
Gunung Moria tanpa kegaduhan karena didirikan dengan "memakai batu-batu
yang telah disiapkan di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak
atau sesuatu perkakas besi pun selama pembangunan," perabot-perabot yang
indah dipakai untuk menyempurnakannya sesuai dengan pola yang dianjurkan Daud
kepada putranya, "segala perlengkapan itu adalah untuk rumah Allah."
1 Raja-raja 6:7; 2 Tawarikh 4:19. Kesemuanya ini termasuk mezbah pedupaan, meja
roti pertunjukan, kaki dian dan pelitanya, bejana-bejana dan perkakas-perkakas
yang berhubungan dengan pekerjaan pelayanan para imam di dalam tempat suci,
"dari emas semuanya dari emas murni." 2 Tawarikh 4:21.
Perkakas-perkakas yang disalut dengan tembaga--mezbah korban bakaran, kolam
pembasuhan yang ditopang oleh dua belas ekor lembu, bokor-bokor yang kecil,
dengan bejana-bejana yang lain,--"Raja menuang semuanya itu di lembah
Yordan di dalam tanah liat antara Sukot dan Zereda." 2 Tawarikh 4:17.
Pengadaan perlengkapan ini dibuat sebanyak-banyaknya, agar nanti tidak akan ada
kekurangan.
Bangunan mewah yang mempunyai keindahan
yang melebihi yang lain-lain dan kemuliaan yang tiada tandingannya adalah yang
didirikan oleh Salomo dan pembantu-pembantunya bagi Allah dan kebaktian-Nya.
Dihiasi dengan batu-batu permata, dikelilingi oleh ruangan-ruangan yang serba
luas dengan penemuan yang luar biasa, dilengkapi dengan kayu aras berukir yang
disalut dengan emas, susunan rumah sembahyang itu, dengan hiasan-hiasan gantung
yang dibordir, dan dilengkapi secara mewah, adalah suatu lambang yang cocok
dari gereja Allah yang hidup di atas bumi, yang sepanjang zaman telah dibangun
sesuai dengan pola Ilahi, dengan bahan-bahan yang dihubungkan pada "emas,
perak, batu-batu permata," "yang dipahat untuk bangunan istana."
1 Korintus 3:12; Mazmur 144:12. Untuk bait suci rohani, Kristus adalah "sebagai
batu penjuru; di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait
Allah yang kudus, di dalam Tuhan." Efesus 2:20, 21.
Pada akhirnya bait suci yang
direncanakan oleh Raja Daud, dan dibangun oleh putranya Salomo, selesai.
"Demikianlah Salomo menyelesaikan rumah Tuhan dan istana raja, dan
berhasil melaksanakan dalam rumah Tuhan dan dalam istananya segala sesuatu yang
timbul dalam hatinya." 2 Tawarikh 7:11. Dan sekarang, dalam rangka
menjadikan istana itu sebagai mahkota puncak Gunung Moria benar-benar terwujud,
sebagaimana yang sangat diinginkan Daud, menjadi suatu tempat tinggal
"bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan Allah" (1 Tawarikh 29:1),
tinggal lagi upacara khidmat untuk menahbiskannya secara resmi kepada Yehova
dan kebaktian-Nya.
Tempat di mana bait suci itu
dibangun telah lama dianggap sebagai suatu tempat yang diasingkan. Di sinilah
Abraham bapa segala orang percaya, pernah menyatakan kerelaannya untuk
mengorbankan putra tunggalnya yang taat pada perintah Yehova. Di sinilah Allah
membarui perjanjian berkat kepada Abraham, termasuk perjanjian Mesias yang
penuh kemuliaan demi kelepasan bangsa manusia melalui pengorbanan Putra Yang
Mahatinggi. Lihat Kejadian 22:9, 16-18. Di sinilah pada waktu Daud mengadakan
persembahan bakaran dan persembahan-persembahan pendamaian untuk memenangkan
pedang murka dari malaikat pembinasa, maka Allah telah menjawabnya dengan api
dari surga. Lihat 1 Tawarikh 21. Dan sekarang, sekali lagi para penyembah
Yehova hadir di sini untuk menemui Allah mereka dan membarui perjanjian
kesetiaan mereka kepada-Nya.
Saat yang dipilih untuk
penahbisan memang adalah saat yang sangat tepat--bulan Ketujuh ketika semua
orang dari setiap pelosok kerajaan biasanya berkumpul ramai-ramai di Yerusalem
untuk merayakan Pesta Pondok Daun-daunan. Pesta ini memang khusus untuk
bersukaria. Pekerjaan penuaian hampir selesai dan bekerja membanting tulang
pada tahun itu belum mulai, orang banyak bebas dari kekangan dan dapat
memusatkan diri mereka sendiri kepada saat-saat yang suci dan pengaruh-pengaruh
yang penuh kegembiraan.
Pada saat yang telah ditentukan
orang Israel sebagai bangsa tuan rumah, berdatangan dari luar negeri dengan
berpakaian mewah mewakili mereka yang tinggal di antara bangsa-bangsa asing,
lalu berhimpun di pelataran bait suci. Pemandangan itu adalah suatu kemuliaan
yang luar biasa. Salomo, dengan para ketua orang Israel dan orang-orang yang
sangat berpengaruh di antara bangsa itu, yang telah kembali dari bagian lain
kota itu, dari mana mereka telah membawa tabut perjanjian ke mari. Dari kemah
sembahyang di atas puncak Gibeon dipindahkanlah "Kemah Pertemuan Lama, dan
segala barang kudus yang ada dalam kemah itu" (2 Tawarikh 5:5); dan
peninggalan-peninggalan daripada pengalaman-pengalaman permulaan bangsa Israel
yang sangat berharga ini selama pengembaraan mereka di padang belantara dan
penaklukan mereka atas tanah Kanaan, sekarang memperoleh suatu rumah yang tetap
di dalam gedung yang sangat indah dan besar yang telah didirikan untuk
mengganti bangunan yang kecil.
Ketika mengangkut tabut
perjanjian yang berisi dua loh batu di mana oleh jari Allah sendiri dituliskan
perintah-perintah Sepuluh Hukum ke bait suci, Salomo mengikuti teladan ayahnya
Daud. Setiap enam langkah ia membuat persembahan korban. Dengan nyanyian dan musik
dan dengan upacara kebesaran, "imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan ke
tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus." Ayat 7.
Pada waktu mereka ke luar dari dalam tempat suci, mereka menempati tempat yang
khusus bagi mereka. Para penyanyi--Suku Lewi dalam seragam lenan putih memegang
ceracap, gambus dan kecapi--berdiri di sebelah timur mezbah, dan bersama mereka
seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lihat ayat 12.
"Lalu para peniup nafiri
dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk
menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara
dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan:
"Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya". Pada
ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu
tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu,
sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah." Ayat 13, 14.
Menyadari akan makna awan ini,
Salomo memaklumkan: "Tuhan telah memutuskan untuk diam dalam kekelaman.
Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap
selama-lamanya." 2 Tawarikh 6:1, 2.
"Tuhan itu Raja, maka
bangsa-bangsa gemetar.
Ia duduk di atas kerub-kerub,
maka bumi goyang.
Tuhan itu maha besar di Sion,
dan Ia tinggi mengatasi segala
bangsa.
Biarlah mereka menyanyikan
syukur
bagi nama-Mu yang besar dan
dahsyat; Kuduslah Ia!
........................................
"Tinggikanlah Tuhan, Allah
kita, dan sujudlah
menyembah kepada tumpuan
kaki-Nya!
Kuduslah Ia!"
Mazmur 99:1-5
"Salomo telah membuat
sebuah mimbar tembaga yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan
tingginya tiga hasta, yang ditaruhnya di halaman--; ia berdiri di atasnya lalu
berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke
langit." Lalu diberkatinya akan segenap sidang orang Israel. "Sedang
segenap jemaah Israel berdiri." 2 Tawarikh 6:13, 3.
"Terpujilah Tuhan, Allah
orang Israel," seru Salomo, yang telah menyelesaikan dengan tangan-Nya apa
yang difirmankan-Nya dengan mulut-Nya kepada Daud ayahku, demikian. . . . Aku memilih Yerusalem bagai tempat kediaman
nama-Ku." Ayat 4-6.
Kemudian Salomo berlutut di atas
mimbar itu, dan sambil didengar oleh orang banyak, ia menyampaikan doa penahbisannya.
Mengedangkan tangannya ke langit, sementara sidang jemaat menundukkan muka
mereka ke tanah, sang raja berseru: "Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada
Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian
dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di
hadapan-Mu."
"Tetapi benarkah Allah
hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan
langit yang mengatasi segala langit pun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih
lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan
hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu
panjatkan di hadapan-Mu ini! Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang
dan malam, terhadap tempat yang Kau katakan akan menjadi kediaman
nama-Mu--dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan
dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di
tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarkannya dari tempat kediaman-Mu,
dari surga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau mengampuni. . . .
"Apabila umat-Mu Israel
terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka
berbalik dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon di hadapan-Mu di
rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengar dari surga dan mengampuni dosa
umat-Mu Israel dan mengembalikan mereka ke tanah yang telah kau berikan kepada
mereka dan nenek moyang mereka.
"Apabila langit tertutup,
sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu mereka berdoa di
tempat ini dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya, sebab Engkau
telah menindas mereka, maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di surga dan
mengampuni dosa hamba-hamba-Mu, umat-Mu Israel,--karena Engkaulah yang menunjukkan
kepada mereka jalan yang baik yang harus mereka jalani--dan Engkau kiranya
memberikan hujan kepada tanah-Mu yang telah Kau berikan kepada umat-Mu menjadi
milik pusaka.
"Apabila ada kelaparan di
negeri ini, apabila ada penyakit sampar, hama dan penyakit gandum belalang dan
belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka,
apabila ada tulah atau penyakit apa pun, lalu seseorang atau segenap umat-Mu
Israel memanjatkan doa dan permohonan di rumah ini dengan menadahkan tangannya--karena
mereka masing-masing mengenal tulahnya dan penderitaannya sendiri--maka Engkau
pun kiranya mendengar dari surga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya
Engkau mengampuni, dan membalas kepada setiap orang sesuai dengan segala
perbuatannya, karena Engkau mengenal hatinya . . . supaya mereka takut akan
Engkau dan mengikuti segala jalan yang Engkau tunjukkan selama mereka hidup di
atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami.
"Juga apabila seorang
asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari jauh oleh karena nama-Mu
yang besar, tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung, dan ia datang
berdoa di rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengar dari surga, dari tempat
kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau bertindak sesuai dengan segala yang
diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal
nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel, dan
sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan
ini.
"Apabila umat-Mu ke luar
untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah mana pun Engkau menyuruh
mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah
Kau pilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, maka Engkau
kiranya mendengar dari surga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya
memberikan keadilan kepada mereka.
"Apabila mereka berdosa
kepada-Mu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada
mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan
ke negeri yang jauh atau yang dekat, dan apabila sadar kembali dalam hatinya di
negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di
negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah,
dan berbuat fasik, apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan
dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan,
dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah
Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kau pilih dan ke
rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, maka Engkau kiranya mendengarkan dari
surga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan
mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya
mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. Sebab itu, ya Allahku, kiranya
mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di
tempat ini. Dan sekarang, bangunlah ya Tuhan Allah, dan pergilah ke tempat
perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya ya Tuhan Allah,
imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita
karena kebaikan-Mu ya Tuhan Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah
Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud hamba-Mu itu."
Ayat 14-42.
Setelah Salomo mengakhiri
doanya, "apipun turun dari langit memakan habis korban bakaran dan
korban-korban sembelihan itu." Para imam tidak dapat memasuki rumah Tuhan
itu, karena "kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan." "Ketika
segenap orang Israel melihat. . .
kemuliaan Tuhan meliputi rumah itu, berlututlah mereka di atas lantai
dengan muka mereka sampai ke tanah, lalu sujud menyembah dan menyanyikan syukur
bagi Tuhan; dengan berkata, "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya".
Raja bersama-sama seluruh bangsa
mempersembahkan korban sembelihan di hadapan Tuhan. "Demikianlah raja dan
seluruh bangsa menahbiskan rumah Allah." 2 Tawarikh 7:1-5. Selama tujuh
hari orang-orang yang datang dari berbagai pelosok kerajaan, "dari jalan
masuk ke Hamat sampai ke sungai Mesir," "suatu jemaat yang amat
besar," mengadakan pesta bersuka ria. Minggu berikutnya digunakan oleh
orang banyak yang bergembira ini untuk merayakan Pesta Pondok Daun-daunan. Pada
akhir perayaan penahbisan mezbah dan pesta pondok daun bangsa itu pulang ke
rumah mereka, sambil bersukacita dan bergembira atas kebaikan yang telah
dilakukan Tuhan kepada Daud, kepada Salomo, dan kepada orang Israel,
umat-Nya." Ayat 8, 10.
ketgam
Salomo bertelut di atas mimbar,
dan mendengarkan doa persembahan yang disampaikan oleh semua hadirin. Dia
menadahkan kedua tangannya ke arah surga, ia memohon kemurahan Allah.
Raja telah melakukan
segala-galanya dengan sekuat kuasanya untuk mengajak rakyatnya berserah dengan
sepenuhnya kepada Allah dan berbakti kepada-Nya, serta membesarkan nama-Nya
yang suci. Dan kini sekali lagi, sama seperti di Gibeon pada permulaan
pemerintahannya, pemerintah Israel diberikan bukti akan persetujuan dan berkat
Ilahi. Dalam penglihatan Tuhan menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari
dan berfirman kepadanya: "Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat
ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga
tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi,
dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku,
yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku,
lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari
surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang
mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.
Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ
untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang
masa." Ayat 12-16.
Sekiranya bangsa Israel tetap
benar di hadapan Allah, maka bangunan yang penuh kemuliaan ini akan berdiri
selama-lamanya, sebagai suatu tanda sepanjang masa akan belas kasihan Allah
kepada umat pilihan-Nya. "Dan orang-orang asing," Allah memaklumkan,
"yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi
nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari
Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka
akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku.
Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan
mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah
doa bagi segala bangsa." Yesaya 56:6, 7.
Sehubungan dengan persetujuan
dan jaminan-jaminan ini, Tuhan meratakan dan meluruskan jalan kewajiban di
hadapan raja. Firman-Nya: "Mengenai engkau, jika engkau hidup di
hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dan berbuat sesuai dengan segala yang
Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan
peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu sesuai dengan perjanjian
yang telah Kuikat dengan Daud, dengan berkata: Takkan terputus keturunanmu yang
memerintah atas Israel." 2 Tawarikh 7:17, 18.
Sekiranya Salomo terus-menerus
dalam kerendahan hati menyembah Tuhan, seluruh pemerintahannya akan dapat
menggunakan suatu pengaruh yang penuh kuasa demi kebaikan terhadap
bangsa-bangsa sekeliling, bangsa-bangsa yang telah terkesan dengan sangat
baiknya oleh pemerintahan ayahnya Daud dan oleh kata-kata yang bijaksana serta
dengan pekerjaan-pekerjaan yang sangat besar pada tahun-tahun permulaan
pemerintahannya sendiri. Meninjau ke depan akan pencobaan-pencobaan mengerikan
yang muncul dalam kemakmuran dan kemuliaan duniawi; Allah mengamarkan Salomo
menentang kejahatan kemurtadan dan meramalkan kengerian akibat-akibat dosa.
Bait suci yang indah ini sekalipun yang baru saja ditahbiskan, Firman-Nya, akan
menjadi "kiasan dan sindiran di antara segala bangsa" sekiranya
bangsa Israel meninggalkan "Tuhan, Allah nenek moyang mereka" lalu
menyembah sujud pada berhala. Ayat 20, 22.
Dikuatkan dalam hati dan dengan
kesukaan besar oleh berita dari surga, bahwa doanya demi bangsa Israel telah
didengar, sekarang Salomo memasuki masa yang paling jaya dalam pemerintahannya,
ketika "semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo," untuk menyaksikan
cara-cara pemerintahannya dan untuk menerima pengarahan dalam rangka menangani
masalah-masalah yang pelik.
Apabila orang-orang ini
mengunjungi Salomo, ia mengajar mereka dari hal Allah sebagai Pencipta segala
sesuatu, dan mereka pulang ke tempat mereka dengan gambaran-gambaran yang lebih
jelas tentang Allah orang Israel dan kasih-Nya bagi bangsa manusia. Di dalam
gerakan-gerakan alam kini mereka melihat suatu ungkapan kasih-Nya dan suatu
kenyataan sifat-sifat-Nya, dan banyak yang telah dipimpin untuk berbakti kepada-Nya
sebagai Allah mereka.
Kerendahan hati Salomo pada saat
ia mulai memangku beban negara, ketika ia mengaku di hadapan Allah, "Aku
masih sangat muda" (1 Raja-raja 3:7), pertanda kasihnya akan Allah,
penghormatannya yang dalam terhadap perkara-perkara Ilahi, penyangkalannya akan
diri sendiri, dan pemujaannya akan Khalik yang tidak terbatas dalam segala
perkara--segala ciri pembawaan ini--begitu pantas untuk diperlombakan, telah
dinyatakan selama melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berbubungan dengan
penyelesaian bait suci, selama mengucapkan doa penahbisan ia berlutut dalam
sikap penuh kerendahan laksana seorang pengemis. Para pengikut Kristus sekarang
harus berjaga-jaga menentang kecenderungan kehilangan roh menghormati dan takut
akan Allah. Kitab Suci mengajar manusia bagaimana ia harus mendekati
Penciptanya--dengan kerendahan hati dan rasa gentar, melalui iman pada seorang
Perantara Ilahi. Sang Pemazmur mengungkapkan:
ayat lebih kecil
"Sebab Tuhan adalah yang
maha besar,
Dan Raja yang besar mengatasi
segala Allah. . .
Masuklah, marilah kita sujud
menyembah,
Berlutut di hadapan Tuhan
yang menjadikan kita."
Mazmur 95:3-6
Baik dalam kebaktian umum atau
pribadi hendaklah kita tunduk dan berlutut di hadapan Allah pada waktu kita
menyampaikan permohonan kita kepada-Nya. Yesus, teladan kita, "berlutut
dan berdoa." Lukas 22:41. Tentang murid-murid-Nya juga tersurat,
"berlutut dan berdoa." Kisah 9:40. Paulus menyatakan, "Itulah
sebabnya aku sujud kepada Bapa." Efesus 3:14. Dalam mengaku dosa-dosa
Israel di hadapan Allah, Ezra berlutut. Lihat Ezra 9:5. Daniel "tiga kali
sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya." Daniel 6:11.
Penghormatan yang sejati kepada
Allah diilhami oleh suatu perasaan akan kebesaran-Nya yang tak terbatas dan
suatu kesadaran akan hadirat-Nya. Dengan kesadaran terhadap yang tidak tampak
ini, setiap hati harus memperoleh kesan yang sangat mendalam. Saat dan tempat
berdoa itu kudus, oleh karena Allah hadir di situ. Dan sementara penghormatan
dinyatakan dalam sikap dan kelakuan, maka perasaan yang mengilhaminya akan
diperdalam. "Nama-Nya kudus dan dahsyat," kata si pemazmur. Mazmur
111:9. Apabila malaikat-malaikat, menyebutkan nama tersebut, mereka menudungi
wajah mereka. Dengan pujian kebesaran bagaimana yang harus ada pada bibir kita,
kita yang sudah jatuh dan penuh dosa!
Baiklah bagi orang tua dan orang
muda merenungkan kata-kata yang berasal dari Kitab Suci yang menunjukkan
bagaimana seharusnya tempat yang ditandai oleh kehadiran secara istimewa
dihormati. "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu," perintah-Nya kepada
Musa di semak-semak yang sedang menyala, "sebab tempat, di mana engkau
berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Keluaran 3:5. Yakub, setelah
melihat khayal dari hal malaikat berseru, "Sesungguhnya Tuhan ada di
tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya."
. . .Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga."
Kejadian 28:16, 17.
Begitulah dikatakan bahwa selama
acara penahbisan, Salomo dalam menghormati Khalik, telah berusaha menyingkirkan
dari pikiran-pikiran para hadirin akan takhyul-takhyul yang menyelebungi
pikiran-pikiran orang kafir. Allah yang dari surga bukannya, seperti ilah-ilah
orang kafir yang berdiam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia; namun Ia akan
bertemu dengan umat-Nya oleh Roh-Nya apabila mereka hendak berhimpun di rumah
yang ditahbiskan demi perbaktian pada-Nya.
Berabad-abad kemudian Paulus
mengajarkan kebenaran yang sama dengan mengatakan: "Allah yang telah
menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi,
tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh
tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang
memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu;
. . . supaya mereka mencari Dia, dan mudah-mudahan menjamah dan
menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam
Dia kita hidup, kita bergerak dan kita ada." Kisah 17:24-28.
ayat kecil
"Berbahagialah bangsa, yang
Allahnya ialah Tuhan,
Suku bangsa yang dipilihnya
menjadi miliknya sendiri!
Tuhan memandang dari surga,
Ia melihat semua anak manusia;
Dari tempat kediaman-Nya
Ia menilik semua penduduk
bumi."
"Tuhan sudah menegakkan
takhta-Nya di surga,
Dan kerajaan-Nya berkuasa atas
segala sesuatu."
"Ya, Allah, jalan-Mu adalah
kudus!
Allah manakah yang begitu besar
seperti Allah kami?
Engkaulah Allah yang melakukan
keajaiban
Engkau telah menyatakan kuasa-Mu
di antara bangsa-bangsa."
Mazmur 33:12-14; 103:19; 77:14,
15.
Walaupun Allah tidak berdiam
dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, namun Ia menghormati dengan
kehadiran-Nya pada perkumpulan umat-Nya. Ia telah berjanji bahwa apabila mereka
datang beramai-ramai mencari-Nya, untuk mengaku dosa-dosanya, dan berdoa satu
sama lain, Ia akan bertemu dengan mereka oleh Roh-Nya. Tetapi barangsiapa yang
berkumpul untuk menyembah Dia haruslah membuangkan setiap kejahatan. Kecuali
mereka menyembah Dia dalam roh dan kebenaran dan di dalam keindahan kesucian,
maka perkumpulan mereka akan percuma. Untuk hal tersebut Tuhan berfirman,
"Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh
daripada-Ku." Matius 15:8, 9. Mereka yang menyembah Allah harus menyembah
Dia dalam roh dan kebenaran: sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah
demikian." Yohanes 4:23.
"Tetapi Tuhan ada di dalam
bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!"
Habakuk 2:20.
ketgam
Tuhan menampakkan diri kepada
Salomo dalam mimpi pada malam di Gibeon, dan berfirman: "Mintalah apa yang
hendak Kuberikan kepadamu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar